Keunikan Festival Thong-Thong Klek di Rembang  

Oleh Nihayah Alail Maula

Tahukah kamu, di suatu kota kecil di pesisir utara Jawa Tengah, tepatnya di Kota Rembang, banyak menyimpan keunikan budaya yang menarik untuk dikenal. Rembang mempunyai suasana kota yang hangat, masyarakat setempat yang ramah, serta tradisi-tradisi lokal yang masih terjaga sampai sekarang, sehingga membuat kota ini memiliki daya tarik tersendiri. 

Di balik kesederhanaannya, kota ini justru kaya akan nilai budaya yang terus diwariskan turun-temurun hingga generasi sekarang. Berbagai tradisi tetap dilestarikan oleh masyarakat setempat sehingga identitas kota ini masih terasa kuat. 

Hai! Kenalin, nama aku Nihayah Alail Maula. Teman-temanku kerap memanggilku Niha. Aku lahir dan besar di Rembang, Jawa Tengah. Aku merasa bangga menjadi bagian dari kota ini. Karena di sinilah aku dapat belajar dan mengenal keberagaman budaya yang ada. 

Meskipun bukan kota besar yang dipenuhi gedung-gedung pencakar langit, Rembang memiliki banyak hal unik. Banyak pantai yang indah dan makanan khas yang lezat seperti “sate serepeh”, “lontong tuyuhan”, dan “buah kawista” yang hanya ada di kota ini saja. Akan tetapi, bukan itu semua yang menjadi highlight dalam ceritaku ini. Aku akan menceritakan tradisi yang selalu digemari dan dinantikan oleh masyarakat Rembang, yaitu tradisi “Thong-Thong Klek”.

THong-hong klek merupakan seni musik tradisional yang berkembang dari kreativitas masyarakat Rembang. Kesenian ini memadukan bunyi kentongan bambu, gamelan serta alat musik perkusi lainnya yang menghasilkan irama yang khas dan meriah. 

Tradisi ini biasanya diselenggarakan di wilayah Kota Rembang dengan rute melewati pusat kota. Arak-arakan biasanya dimulai dari Perempatan Zaeni dan berakhir di tempat umum seperti alun-alun, bahkan Stadion Krida. Berjalannya arak-arakan, jalanan akan dipenuhi lautan manusia sehingga membuat jalan raya di sekitar padat. 

Thong-thong klek diadakan setiap tahun pada bulan Ramadan, tepatnya pada malam hari setelah tarawih. Biasanya, suasana akan semakin meriah menjelang akhir bulan puasa, seperti pada malam ke-27, sebagai bagian dari penyambutan Hari Raya Idulfitri. Di tahun ini, tradisi  thong-thong klek diadakan pada 17 Maret 2026. Tentunya, aku sangat menantikan momen tersebut. 

Sayangnya, pada saat aku menyaksikan acara ini, cuaca sangatlah tidak mendukung. Hujan turun begitu deras hingga membasahi ujung bumi. Namun demikian, kondisi tersebut tidak mengurangi semangatku untuk tetap hadir dalam. Tidak hanya aku, banyak masyarakat yang ikut serta dalam meramaikan acara ini. Nyatanya, hujan deras tidak menjadi alasan bagi kami untuk tidak menghadiri festival tersebut. Penonton masih tetap memenuhi sepanjang rute festival, yang menandakan besarnya antusiasme dan kecintaan masyarakat terhadap tradisi thong-thong klek. 

Karena hujan, dokumentasi yang dapat aku ambil menjadi terbatas. Tidak banyak momen yang berhasil direkam dengan baik, tetapi kemeriahan suasana tetap dapat dirasakan secara langsung. 

Peserta thong-thong klek terdiri dari berbagai kelompok musik dari desa-desa di Kabupaten Rembang, serta sanggar tari yang ikut memeriahkan festival yang berlangsung. Kegiatan ini diselenggarakan langsung oleh pemerintah daerah melalui dinas kebudayaan dan pariwisata, serta disaksikan oleh masyarakat umum. 

Pelaksanaan festival Thong Thong Klek berbentuk pawai keliling kota, sehingga membuat suasana menjadi sangat hidup dan penuh semangat. Aku sangat kagum melihat antusiasme masyarakat dalam merayakan festival ini. Para peserta diwajibkan menggunakan alat musik tradisional, terutama yang berbahan dasar bambu seperti kentongan. Walaupun kadang dipadukan dengan alat musik lain, yang menjadi fokus utama tetap pada kreativitas bunyi dari bambu.

Penilaian biasanya dilihat pada keharmonisan musik, kekompakan, koreografi,serta kreativitas dalam penampilan. Jika dibandingkan dengan penilaian dari tahun-tahun sebelumnya, terdapat beberapa perbedaan dalam pelaksanaan tradisi thong-thong klek. Di tahun-tahun sebelumnya, arak-arakan keliling kota hanya digunakan sebagai tahap seleksi awal untuk menentukan sepuluh peserta terbaik yang akan tampil di panggung utama. 

Tak hanya itu, peserta juga diperbolehkan menggunakan berbagai alat musik tradisional yang berasal dari Jawa Tengah, seperti angklung dan gambang.  Hal inilah yang membuat variasi musik yang ditampilkan menjadi lebih beragam. Namun, hal ini telah berbalik sekarang. Sistem penilaian dilakukan secara langsung selama pawai berjalan tanpa melalui tahap seleksi menuju panggung. Selain itu, penggunaan alat musik juga dibatasi; alat musik yang diperbolehkan hanya berfokus pada gamelan dan instrumen tradisional sejenisnya. 

Perubahan tersebut menunjukkan adanya penyesuaian dalam pelaksanaan tradisi, tanpa menghilangkan inti utama dari thong-thong klek sebagaimana menjadi warisan budaya masyarakat Rembang.  Tradisi ini tidak berfungsi sebagai hiburan semata, tetapi juga sebagai upaya pelestarian budaya agar tidak hilang seiring perkembangan zaman. Tak hanya itu, thong-thong klek menjadi wadah untuk menyalurkan kreativitas mereka dalam bermusik, yang menjadikan budaya tetap berkembang dan relevan. 

Lebih dari itu, thong-thong klek telah menjadi simbol kebersamaan sekaligus identitas khas Kabupaten Rembang yang patut dibanggakan dan dilestarikan. Melalui tradisi ini, aku semakin memahami bahwa Rembang bukan sekadar kota kecil, melainkan kota yang kaya akan budaya yang unik dan memiliki nilai kebersamaan yang tinggi. (*)