Oleh Laila Nasywa Nurrusyifa
Libur Lebaran tahun 2024 itu terasa berbeda. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kami sekeluarga benar-benar punya waktu luang yang sama. Aku libur sekolah dan orang tuaku pun memutuskan untuk sejenak beristirahat dari rutinitas pekerjaan yang biasanya tidak pernah berhenti. Rumah yang biasanya hanya jadi tempat singgah malam itu terasa lebih hangat dan lebih hidup. Malam itu, setelah suasana rumah mulai tenang, kami duduk bersama di ruang keluarga. Pertanyaan sederhana terlontar, “Mau liburan ke mana?” Tapi jawabannya tidak sesederhana itu.
Aku dan kakakku langsung sibuk dengan ponsel masing-masing, mencari-cari tempat wisata yang sedang ramai dibicarakan. Pilihannya jatuh pada tiga nama yang saat itu sering muncul di media sosial: Gunung Bromo, Dataran Tinggi Dieng, dan Kawah Ijen. Kami sempat tergoda, jujur saja, sedikit karena ikut-ikutan tren. Namun, setelah dipikirkan kembali, perjalanan ke Bromo dan Kawah Ijen membutuhkan waktu lebih lama dan biaya yang tidak sedikit. Akhirnya, kami sepakat memilih Dataran Tinggi Dieng.
Dua hari kemudian, kami berangkat pagi-pagi sekali. Perjalanan awal berjalan lancar, tetapi semakin mendekati kawasan pegunungan, jalanan mulai padat. Libur Lebaran membuat banyak orang bepergian, dan kemacetan di jalur menanjak membuat perjalanan terasa jauh lebih berat. Mobil kami beberapa kali berhenti di tengah tanjakan. Setiap kali rem dilepas, mobil seperti ragu untuk melaju. Aku hanya bisa diam, menahan napas, sementara suasana di dalam mobil mulai memanas karena kekhawatiran dan sedikit perdebatan antara orang tuaku. Di momen itu, perjalanan terasa tidak lagi menyenangkan.
Tapi untungnya keadaan perlahan berubah saat kami sampai di kawasan Dataran Tinggi Dieng. Kami menemukan tempat penyewaan mobil jip, lalu berhenti sejenak untuk sarapan, dan memutuskan melanjutkan perjalanan dengan jip agar lebih aman. Pengalaman naik jip itu benar-benar berbeda. Jalanan yang tadi terasa menakutkan kini justru menjadi seru. Kami menuju Air Terjun Sikarim, melewati jalur yang curam dan berbatu. Sepanjang perjalanan, pemandangan mulai berubah dan di sinilah semuanya terasa sedikit tidak biasa.
Kami melewati hamparan kebun teh yang luas. Hijau yang kulihat bukan sekadar hijau biasa; warnanya seperti lebih hidup, seolah setiap daun menyimpan cahaya kecil yang hanya bisa terlihat jika diperhatikan dengan tenang. Barisan tanaman teh tersusun rapi mengikuti lekuk perbukitan, seperti gelombang yang membeku di tengah waktu. Kabut tipis turun perlahan, menyelimuti sebagian area. Dari kejauhan, kabut itu terlihat seperti bergerak dengan sengaja, bukan sekadar angin yang lewat, tapi seperti sesuatu yang sedang menjaga tempat itu tetap tenang. Sesekali kabut terbuka, memperlihatkan pemandangan luas di bawahnya, lalu menutup lagi seolah tidak ingin semuanya terlihat sekaligus.
Angin yang berhembus terasa dingin, tapi anehnya menenangkan. Saat aku berdiri di sana, aku merasa seperti suara-suara di sekitarku menjadi lebih pelan. Bahkan tawa orang-orang di kejauhan terdengar seperti bagian dari pemandangan itu sendiri. Untuk beberapa detik, aku hanya diam. Rasanya seperti berada di tempat yang bukan hanya indah, tapi juga “hidup”. Tempat yang menyimpan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan, tapi bisa dirasakan. Lalu, seperti tersadar, aku mulai mengambil foto.
Banyak sekali foto. Aku mencoba berbagai sudut, menangkap kabut yang bergerak, garis-garis kebun teh, dan cahaya matahari yang perlahan muncul dari balik awan. Kakakku juga sibuk dengan kameranya, sesekali tertawa saat hasilnya tidak sesuai harapan. Setelah puas berfoto di kebun teh, kami kembali naik ke atas jip dan melanjutkan perjalanan menuju tujuan berikutnya, yaitu Telaga Warna Dieng. Perjalanan menuju telaga itu terasa lebih tenang, seolah-olah kami sudah “berdamai” dengan jalanan Dieng yang sejak awal menguji kesabaran kami. Saat jip berhenti dan aku turun, hal pertama yang kurasakan adalah udara yang jauh lebih dingin, menusuk pelan ke kulit, tapi justru menyegarkan.
Danau itu… benar-benar berbeda dari yang kubayangkan.
Dari atas, dari sebuah titik pandang yang cukup tinggi, Telaga Warna Dieng terlihat seperti lukisan alam yang tidak selesai atau mungkin justru terlalu sempurna. Airnya tidak hanya satu warna. Di beberapa bagian tampak hijau, lalu bergeser menjadi biru, kemudian ada bagian yang seperti kekuningan saat terkena cahaya matahari. Perubahan warna itu tidak membentuk garis yang jelas, melainkan menyatu perlahan, seperti cat yang dibiarkan mengalir di atas kanvas. Kabut tipis menggantung di atas permukaan air, bergerak perlahan seperti napas panjang yang tidak pernah benar-benar berhenti. Dari ketinggian itu, telaga terlihat tenang, hampir diam, seolah menyimpan sesuatu di dalamnya yang tidak ingin diperlihatkan sepenuhnya.
Aku berdiri cukup lama di sana. Rasanya seperti melihat sesuatu yang nyata, tapi di saat yang sama sulit dipercaya. Warna-warna itu terasa hidup, bukan hanya pantulan cahaya, tapi seperti danau itu memiliki caranya sendiri untuk berubah, mengikuti suasana langit di atasnya. Setelah itu, kami turun untuk melihatnya dari sisi bawah. Dari dekat, suasananya terasa berbeda. Jika dari atas telaga terlihat seperti lukisan, dari bawah ia terasa lebih nyata, lebih “hidup”. Airnya terlihat lebih jernih di beberapa bagian, namun di bagian lain tampak keruh dengan warna yang lebih pekat. Bau belerang samar tercium, mengingatkanku bahwa keindahan ini berasal dari aktivitas alam yang masih terus berlangsung.
Permukaan air bergerak pelan, membentuk riak kecil setiap kali angin lewat. Pantulan pepohonan di sekitarnya terlihat samar, kadang terdistorsi oleh warna air yang berubah-ubah. Di satu titik, aku melihat warna kehijauan yang dalam, sementara beberapa langkah kemudian warnanya berubah menjadi lebih terang, hampir seperti kuning keemasan. Aku mendekat sedikit, mencoba melihat lebih jelas. Dan di momen itu, ada perasaan aneh, seperti telaga ini bukan hanya sekadar tempat wisata, tapi ruang yang menyimpan sesuatu yang lebih tua dari yang bisa kupahami. Sesuatu yang tenang, tapi tidak sepenuhnya diam.
Kami kembali berfoto, tentu saja. Tapi kali ini, rasanya berbeda. Bukan hanya ingin mengabadikan pemandangan, tapi seperti ingin membawa pulang sedikit dari perasaan yang ada di sana. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan menuju Air Terjun Sikarim. Dari awal, sopir jip sudah mengingatkan bahwa jalur ke sana cukup ekstrem dan ternyata itu bukan sekadar peringatan biasa. Perjalanan kali ini terasa paling menegangkan. Jalanan semakin menanjak, lebih curam dari sebelumnya, dengan permukaan yang tidak sepenuhnya rata. Di satu sisi, roda jip harus berpijak kuat di jalur sempit yang terus naik, sementara di sisi lain terbentang jurang yang cukup dalam. Tidak ada pembatas yang benar-benar meyakinkan, hanya tepi jalan yang seolah memisahkan kami dari ruang kosong di bawahnya. Yang membuat suasana semakin mencekam adalah kabut. Kabut tebal menutup hampir seluruh pandangan di depan. Hanya ada satu jalur yang terlihat: jalan ke depan. Selain itu, semuanya seperti hilang, tertelan oleh putih yang pekat.
Untuk beberapa detik, rasanya seperti kami berjalan di antara dua dunia, yang terlihat dan yang tidak. Aku tidak banyak bicara. Tanganku tanpa sadar menggenggam erat sisi kursi jip. Di kepalaku, berbagai kemungkinan buruk sempat terlintas. Apalagi aku pernah mendengar bahwa jalur ini cukup berbahaya dan sering memakan korban jika tidak hati-hati. Di beberapa titik, jip sempat melambat. Kami melihat ada orang-orang yang berdiri di pinggir jalan. Mereka membantu mengarahkan kendaraan yang kesulitan menanjak. Kehadiran mereka sedikit menenangkan, seperti penjaga tak resmi yang memastikan setiap kendaraan bisa melewati jalur itu dengan selamat. Dan benar saja, tanpa bantuan mereka, mungkin perjalanan ini akan terasa jauh lebih sulit.
Akhirnya, setelah melewati tanjakan demi tanjakan, mobil jip berhenti. Kami sampai. Saat aku turun, suasana di sana langsung terasa berbeda. Air Terjun Sikarim tidak langsung terlihat jelas; yang pertama kali menyambut adalah kabut tebal yang menyelimuti hampir seluruh area. Udara terasa jauh lebih dingin, menusuk sampai ke dalam, sementara suara gemuruh air terdengar dari kejauhan. Pelan-pelan, melalui celah kabut, bentuk air terjun itu mulai terlihat. Dan jujur saja, vibes-nya seperti masuk ke negeri dongeng. Air terjun itu jatuh dari ketinggian, sebagian tertutup kabut, seolah hanya memperlihatkan dirinya setengah saja. Airnya turun deras, tapi tidak sepenuhnya terlihat jelas, membuatnya tampak seperti bayangan yang bergerak. Suara air yang jatuh menggema di antara tebing dan pepohonan, menciptakan suasana yang sunyi tapi penuh.
Kabut terus bergerak, kadang membuka pandangan, lalu menutupnya kembali. Setiap kali terbuka, pemandangan itu terasa seperti muncul kembali dari dunia lain. Tidak sepenuhnya nyata, tapi juga tidak bisa disebut ilusi. Aku berdiri diam cukup lama. Tidak banyak yang bisa dilakukan selain merasakan. Dingin, suara air, kabut yang bergerak perlahan, semuanya menyatu menjadi pengalaman yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Bahkan saat mencoba mengambil foto, rasanya tidak ada yang benar-benar bisa menangkap suasana yang ada di sana. Di tempat itu, waktu terasa melambat. Dan untuk sesaat, perjalanan yang penuh rasa takut tadi seolah terbayar lunas oleh apa yang ada di depan mata. Benar-benar perjalanan yang sangat berkesan.(*)