Kehangatan Kebersamaan di Tengah Kekecewaan

Oleh Nayla Rahma Dina

Aku berasal dari Salatiga, sebuah kota kecil yang dikenal dengan suasananya yang sejuk dan tingginya toleransi antarmasyarakat. Kota ini seolah memeluk setiap warganya dengan udara yang lembut dan ramah, membuat setiap pengalaman terasa lebih hidup dan bermakna. Di kota inilah berbagai peristiwa sederhana sering meninggalkan jejak yang dalam, termasuk peristiwa yang kualami saat kegiatan buka bersama atau bukber beberapa saat yang lalu.

Kejadian ini terjadi saat bulan Ramadan, tepatnya pada tanggal 14 Maret 2026 atau puasa ke-24 Ramadan 1447 H. Peristiwa ini berlangsung di Awan Wengi 2, sebuah tempat makan yang cukup populer di kalangan anak muda. Pada sore hari sekitar pukul setengah lima, aku bersiap berangkat. Dua orang temanku datang menjemputku di ujung gang, lalu aku membonceng salah satu dari mereka untuk menuju titik kumpul berikutnya.  Jalanan sore itu terasa seperti lukisan yang bergerak perlahan, diwarnai langit yang mulai berwarna oranye, seakan mengiringi langkah kami menuju kebersamaan.

Kami telah berjanji dengan dua orang teman lainnya di depan MAN Salatiga untuk kemudian menuju lokasi bukber. Sekitar pukul lima sore, kami tiba di tempat tujuan. Total ada sepuluh orang, termasuk aku, yang ikut dalam kegiatan tersebut. Sembari menunggu waktu berbuka, kami menghabiskan waktu dengan mengobrol mengenai berbagai hal, tentang perkuliahan yang terasa seperti ombak tak berujung, tugas yang menumpuk seperti gunung yang enggan runtuh, serta keluh kesah menghadapi dosen dan jadwal yang padat. Kami juga membahas teman yang tidak mau diajak bukber karena seribu alasan, serta mengenang beberapa teman yang kini perlahan hilang seperti ditelan senja. Percakapan itu terasa hangat, seperti secangkir teh di sore hari, meskipun menyisakan sedikit rasa sendu. 

Namun, suasana tempat yang sempit mulai terasa seperti ruang yang dipaksa menampung terlalu banyak cerita. Meja-meja berjejer rapat, seolah saling berdesakan tanpa jeda, membuat privasi kami nyaris menghilang. Bahkan salah satu temanku berbisik bahwa tempat ini sebenarnya sudah penuh, tetapi masih menerima pesanan, sehingga suasananya terasa sangat sesak, seperti napas yang sengaja ditahan.

Sebelum memilih tempat ini, sebenarnya kami berencana untuk berbuka di Hotways. Namun, harapan itu kandas karena tempat tersebut sudah penuh. Kami pun mencari alternatif lain, hingga akhirnya pilihan kamu jatuh pada Awan Wengi 2. Temanku yang menjadi koordinator segera menghubungi pihak admin, dan pada awalnya reservasi disetujui dengan lancar, seolah semua akan baik-baik saja.

Akan tetapi, selang satu hari, pihak Awan Wengi 2 mengabarkan bahwa beberapa karyawan mereka izin secara mendadak. Kami ditawari untuk dialihkan ke Awan Wengi 1 atau mencari tempat lain. Namun, kami menolak karena tempat tersebut dinilai lebih sempit dan kurang memadai. Setelah berdiskusi panjang, yang terasa seperti tarik ulur tanpa ujung, akhirnya kami memutuskan untuk tetap berbuka di Awan Wengi 2.

Ketika waktu menunjukkan pukul enam petang dan azan Magrib berkumandang, momen yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan justru terasa hambar. Di atas meja kami hanya tersedia beberapa minuman dan makanan, sementara beberapa pesanan belum datang. Aku dan tiga orang temanku termasuk yang belum mendapatkan pesanan, sehingga kami membatalkan puasa hanya dengan meminum minuman milik teman-teman lain yang sudah tersedia di meja. Rasa lapar saat itu terasa seperti gelombang yang terus menghantam tanpa henti.

Kami pun mencoba mengonfirmasi kepada karyawan. Dengan nada sopan, kami menyampaikan bahwa pesanan belum lengkap. Namun, jawaban yang kami terima hanya “tunggu sebentar ya, pesanan sedang dibuatkan.” Kata “sebentar” pada saat itu terasa seperti waktu yang diregangkan tanpa batas, seolah satu menit berubah menjadi satu jam.

Akhirnya, aku dan tiga temanku memutuskan mencari musala untuk melaksanakan salat Magrib. Setelah bertanya kepada tukang parkir, kami mengetahui bahwa musala terdekat itu berada cukup jauh. Kami harus berjalan sekitar lima hingga sepuluh menit, langkah demi langkah terasa berat, seperti menapaki jalan yang tiada ujungnya seiring dengan rasa lapar yang semakin menguat.

Sesampainya di masjid, kenyataan kembali tidak berpihak pada kami. Pintu masjid terkunci rapat, seperti harapan yang tertutup tanpa cela. Dalam keadaan itu, kami hanya bisa melaksanakan salat di teras, dengan segala keterbatasan yang ada.

Salah satu temanku menghamparkan roknya sebagai alas, sementara mukena digunakan secara bergantian. Momen itu terasa sederhana, tetapi juga terasa begitu dalam, seolah mengajarkan bahwa ketulusan ibadah tidak hanya bergantung pada tempat, tetapi juga pada niat yang teguh.

Sekitar pukul tujuh malam, aku menerima pesan dari teman lain yang masih berada di tempat makan. Ia mengabarkan bahwa makananku sudah datang, tetapi pesanan tiga temanku masih belum tersedia. Kami pun segera kembali. Saat tiba, dua temanku yang lain juga baru saja datang setelah salat Maghrib. Kami pun memberi tahu mereka tentang kondisi pesanan, dan mereka pun mencoba melapor. Namun, jawaban yang diterima tetap sama: pesanan sedang dibuatkan. 

Mendengar hal itu, suasana hati kami semakin memanas, seperti api kecil yang terus disiram bensin. Terlebih ketika melihat meja pelanggan lain yang sudah terhidang lengkap, sementara kami masih menunggu dalam ketidakpastian. Rasanya seperti menjadi penonton dalam pesta orang lain.

Kami pun kembali duduk dan melanjutkan penantian. Waktu terasa berjalan sangat lambat, seakan jarum jam enggan bergerak. Hingga akhirnya, pada pukul delapan malam seluruh pesanan kami benar-benar dihidangkan. 

Di tengah situasi itu, aku juga menerima pesan dari ibuku yang menanyakan keberadaanku. Rasa bersalah datang seperti bayangan yang terus mengikuti. Aku menjawab bahwa aku baru makan, menyadari bahwa waktu telah berjalan jauh dari rencana.

Sebelum makanan datang sepenuhnya, kami sempat mengabadikan momen bersama. Di balik senyum yang tertangkap kamera, tersimpan rasa lelah dan kecewa yang tak sepenuhnya hilang. Namun, kebersamaan itu tetap terasa hangat, seperti cahaya kecil di tengah situasi yang redup.

Setelah selesai, aku dan beberapa temanku pergi ke Alun-Alun Pancasila untuk menemui seorang teman dan membeli jajanan. Ia datang terlambat dan tidak menyusul ke tempat bukber, sehingga kami harus mengantarkan makanan kepada dia yang menunggu di Tomoro Coffee Pancasila. Setelah itu, kami melanjutkan membeli jajanan dan melanjutkan perjalanan ke rumah masing-masing.

Aku tiba di rumah sekitar pukul sembilan malam. Ayahku sudah menunggu di teras. Saat itu, suasana hatiku seperti langit setelah hujan, tidak sepenuhnya cerah, tetapi juga tidak sepenuhnya gelap. Kekecewaan masih terasa, namun di sisi lain, kebersamaan hari itu tetap meninggalkan kehangatan.

Pada akhirnya, pengalaman bukber tersebut menjadi pelajaran berharga. Pelayanan yang lambat, tempat yang kurang memadai, serta minimnya respons dari karyawan meninggalkan kesan yang mendalam. Namun, di balik semua itu, aku menyadari bahwa kebersamaan tidak selalu harus sempurna. Justru, terkadang dari ketidaksempurnaan itulah kenangan yang paling kuat tercipta, yaitu kenangan yang pahit, tetapi tetap manis untuk dikenang.(*)