Oleh Revi Inayah
Di sebuah dusun kecil, tempat aku dilahirkan dan dibesarkan, ada satu tempat yang selalu jadi bahan pembicaraan warga. Tempat itu disebut “candi”. Bukan candi seperti yang sering kita lihat di buku sejarah, bukan pula bangunan megah peninggalan zaman Hindu-Buddha. “Candi” di dusunku hanyalah sebuah makam tua yang disakralkan, tempat yang diyakini menyimpan sesuatu yang tak kasat mata.
Posisinya tidak jauh dari rumahku, hanya perlu berjalan kaki beberapa menit melewati jalan setapak yang diapit sawah dan semak belukar. Dari kejauhan, tempat itu sudah terlihat karena deretan pohon beringin besar yang menjulang tinggi, seakan-akan menjaga sesuatu di dalamnya.
Aneh memang, meskipun dianggap keramat, tempat itu justru jadi tempat favorit anak-anak dusun untuk bermain. Entah karena belum mengerti atau mungkin karena rasa penasaran yang lebih besar daripada rasa takut.
Siang hari di pelataran candi selalu terasa hidup. Udara di sana sejuk, bahkan saat matahari sedang terik-teriknya. Ranting dan daun beringin yang rimbun menahan cahaya matahari, hanya menyisakan bayangan-bayangan lembut di tanah. Akar-akarnya menjalar ke mana-mana, sebagian mencuat dari tanah, sebagian lagi menjuntai dari atas seperti tali-tali panjang yang bisa digelantungi.
Kami sering bermain di sana. Aku, Niluh, Via, dan anak-anak lainnya. Ada yang meluncur di saluran air kecil yang langsung mengarah ke sungai, menjadikannya seperti perosotan alami. Ada yang berayun di akar beringin sambil tertawa keras, dan ada juga yang sekadar berlarian tanpa tujuan, menikmati waktu tanpa beban.
Hari itu, aku duduk di bawah pohon beringin terbesar bersama Niluh dan Via. Angin berhembus pelan, membuat akar-akar yang menggantung itu bergoyang perlahan. Entah kenapa, suasana terasa sedikit berbeda, lebih hening dari biasanya.
Aku memecah keheningan.
“Kalian tahu nggak… katanya di tempat ini banyak banget mitos,” ucapku sambil memainkan ujung akar yang ada di dekatku.
Niluh langsung menoleh. “Iya, aku juga pernah dengar dari orang tuaku. Katanya tempat ini nggak boleh sembarangan.”
Via, yang sejak tadi memperhatikan ke atas, ikut berbicara. “Kalian lihat akar-akar yang menggantung itu?” katanya pelan. “Katanya kalau malam… bisa berubah jadi ular.”
Aku merinding sedikit, meski mencoba terlihat biasa saja. Cerita itu memang sudah sering kudengar. Bahkan bukan cuma cerita.
Konon, pernah ada seorang warga yang melintas di sekitar candi saat malam hari. Ia melihat akar-akar itu bergerak sendiri, meliuk-liuk seperti sesuatu yang hidup. Suaranya seperti desisan halus yang membuat bulu kuduk berdiri. Saat ia mencoba mendekat, ia mengaku melihat banyak pasang mata kecil yang menatapnya dari kegelapan. Esok paginya, warga itu ditemukan pingsan di dekat candi.
Sejak saat itu, cerita itu menyebar ke seluruh dusun. Ada yang percaya, ada juga yang menganggapnya hanya bualan. Tapi anehnya, bukan hanya satu orang yang mengaku pernah melihat hal serupa.
“Ih… pantesan ya kalau udah mau magrib, suasananya jadi beda,” kata Niluh sambil memeluk lututnya.
Aku mengangguk pelan, lalu menambahkan, “Masih ada lagi, lho.”
Niluh langsung menatapku penuh rasa ingin tahu. “Apa lagi?”
Aku sedikit merendahkan suara. “Katanya… Mbah Umpluk dulu punya peliharaan gaib. Semacam manusia berkuda. Dia sering keliling desa.”
Via langsung bereaksi. “Iya! Aku pernah dengar juga.”
“Makanya,” lanjutku, “banyak yang bilang sering dengar suara tapak kuda tengah malam. Padahal di desa kita nggak ada yang punya kuda, kan?”
Via terlihat semakin serius. “Aku pernah dengar sendiri,” katanya pelan. “Waktu itu tengah malam. Suaranya jelas banget, seperti kuda lari di jalan. Aku bilang ke mamah, terus langsung disuruh nutup semua pintu dan jendela.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara hampir berbisik. “Katanya… kalau sampai lihat matanya, kita bisa jadi batu.”
Aku dan Niluh saling pandang.
“Aku pernah lihat,” lanjut Via lagi, membuat kami terdiam. “Cuma sebentar. Dia… setengah manusia, setengah kuda. Laki-laki. Bawa semacam senjata. Aku langsung takut, jadi nggak berani lihat lama-lama.”
Angin tiba-tiba berembus sedikit lebih kencang. Akar-akar yang menggantung bergoyang lebih jelas, seolah menegaskan cerita yang baru saja kami dengar.
“Banyak banget ya hal aneh di sini,” gumamku.
“Namanya juga tempat keramat,” jawab Via singkat.
Tiba-tiba Niluh menunjuk ke arah pohon beringin paling besar di tengah pelataran. Batangnya sangat besar, bahkan tiga orang dewasa pun mungkin tidak cukup untuk melingkarinya. Di bagian tengahnya, ada rongga besar yang terlihat seperti pintu.
“Eh, lihat deh,” kata Niluh. “Itu kayak pintu, ya?”
Aku dan Via ikut melihat. Benar saja, rongga itu cukup besar untuk dimasuki.
“Iya… masuk yuk,” kata Niluh bersemangat. “Bisa kita jadikan rumah-rumahan.”
Aku ragu, tapi rasa penasaran lebih besar.
“Ayo deh,” kataku akhirnya.
Kami bertiga berdiri dan berjalan mendekat. Setiap langkah terasa semakin berat, entah kenapa. Saat sudah di depan rongga itu, kami berhenti.
Dari dekat, lubang itu terlihat lebih gelap daripada yang kukira. Udara di sekitarnya terasa lebih dingin.
“Em… nggak apa-apa kan masuk?” tanyaku pelan.
Niluh tertawa kecil. “Kamu ini penakut banget. Nggak apa-apalah.”
Aku ingin membalas, tapi tiba-tiba menyadari sesuatu. Via diam.
Aku menoleh. Wajahnya pucat. Tatapannya kosong, tertuju ke dalam lubang pohon itu.
“Via?” panggilku.
Ia tidak menjawab.
Niluh mulai panik dan mengguncang bahunya. “Via! Hei!”
Aku ikut mengguncangnya. “Via, kamu lihat apa?”
Tiba-tiba tubuhnya tersentak. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menatap kami dengan mata yang penuh ketakutan.
“Ayo… pergi dari sini,” katanya terburu-buru. “Jangan di sini. Nggak baik… nanti ada yang marah.”
Tanpa menunggu jawaban, ia menarik tangan kami berdua dan mulai berjalan cepat menjauh. Kami hanya bisa mengikuti. Jantung berdegup lebih kencang dari biasanya.
Setelah cukup jauh dari candi, Niluh akhirnya bertanya, “Via, kamu lihat apa sih?”
Via menggeleng pelan. “Aku nggak bisa jelasin… tapi kita nggak boleh masuk ke situ.”
“Kenapa?”
“Itu… bukan sekadar lubang,” katanya pelan. “Itu pintu.”
Aku menelan ludah.
“Pintu ke dunia mereka,” lanjutnya. “Di dalam… ramai sekali. Banyak… dan berisik.”
Aku tidak tahu harus percaya atau tidak, tapi cara Via berbicara membuatku tidak berani menganggapnya bercanda.
“Udah… kita pulang aja,” kata Niluh akhirnya. “Udah mau magrib juga.”
Aku mengangguk. “Iya, kamu juga istirahat ya, Via.”
Via hanya mengangguk pelan, lalu berjalan cepat ke arah rumahnya.
Aku dan Niluh berdiri sejenak, melihat langit yang mulai berubah jingga. Matahari hampir tenggelam sepenuhnya. Angin sore berembus dingin. Waktu-waktu seperti ini, kata orang-orang tua, adalah saat batas antara dunia kita dan dunia mereka menjadi semakin tipis.
Aku menoleh sekilas ke arah candi yang mulai terlihat gelap di kejauhan, dan untuk pertama kalinya, aku merasa… mungkin semua cerita itu bukan sekadar “konon katanya”, karena di sekitar kita, entah kita percaya atau tidak, mungkin memang ada kehidupan lain yang berjalan berdampingan.
Dan satu hal yang pasti: tidak semua pintu harus dibuka.(*)