Oleh Saulus Ainapur
Saya lahir dan besar di pedalaman Distrik Fayit, sebuah wilayah yang terletak di Kabupaten Asmat, Provinsi Papua Selatan. Bagi banyak orang, nama Fayit mungkin masih terdengar asing, tapi bagi saya, tempat ini adalah surga yang penuh dengan kenangan dan kekayaan alam yang tak ternilai. Untuk mencapai daerah kami, kita harus menempuh perjalanan yang cukup jauh, bisa dengan perahu motor menyusuri sungai-sungai yang berkelok atau berjalan kaki melewati hutan tropis yang lebat. Meski aksesnya masih terbatas, justru itulah yang membuat keaslian alam dan budaya kami tetap terjaga hingga sekarang.
Di pagi hari, udara di pedalaman Fayit terasa sangat segar dan sejuk. Kabut tipis sering menyelimuti permukaan tanah dan pepohonan tinggi, seolah-olah alam sedang membungkus kampung kami dengan selimut putih. Suara burung-burung hutan yang berkicau dan suara air sungai yang mengalir jernih menjadi irama alami yang menemani setiap aktivitas warga. Sungai adalah bagian terpenting dari kehidupan kami—sebagai sumber air bersih, tempat mencari ikan, dan jalur transportasi utama. Airnya begitu bening hingga kita bisa melihat batu-batu dan ikan-ikan kecil yang berenang di dasarnya.
Masyarakat di pedalaman Fayit hidup dengan sistem kekeluargaan yang sangat erat. Kami masih memegang teguh nilai-nilai adat dan tradisi yang diwariskan dari nenek moyang. Setiap warga saling tolong-menolong, baik dalam mengerjakan ladang, membangun rumah, maupun mengadakan acara adat. Rumah-rumah kami sebagian besar masih dibangun dengan bahan alami seperti kayu, daun sagu, dan bambu, yang disusun dengan keterampilan turun-temurun.
Sagu adalah makanan pokok kami yang diolah menjadi berbagai macam hidangan. Setiap proses pembuatan sagu selalu dilakukan secara bersama-sama. Para ibu dan gadis-gadis muda akan bekerja sama memproses batang sagu menjadi tepung, sedangkan para bapak dan pemuda mencari kayu bakar atau berburu di hutan. Hasilnya pun dibagi rata untuk seluruh keluarga; tidak ada yang merasa kurang atau lebih. Inilah salah satu nilai yang selalu saya ingat dan bawa ke mana pun saya pergi—bahwa kebersamaan adalah kunci kebahagiaan.
Sebagai anak yang tumbuh di tengah hutan dan sungai, saya memiliki banyak pengalaman seru yang mungkin jarang dirasakan oleh teman-teman di kota. Sejak kecil, saya sudah diajak ayah untuk berlayar di sungai, memancing, dan menjelajahi hutan. Saya mengenal berbagai jenis tumbuhan dan hewan, serta mengetahui mana yang bisa dimanfaatkan untuk makanan, obat-obatan, atau bahan kerajinan.
Hutan di sekitar Fayit juga menyimpan berbagai jenis flora dan fauna yang langka. Ada burung cendrawasih yang indah, kuskus, babi hutan, dan berbagai jenis ikan yang hanya ada di sungai-sungai kami. Setiap pohon dan setiap aliran air memiliki cerita dan makna tersendiri bagi kami. Kami percaya bahwa alam adalah bagian dari kehidupan kami, sehingga harus dijaga dan dirawat dengan baik. Tidak pernah ada keinginan untuk merusak atau mengambil lebih dari yang kami butuhkan, karena kami tahu bahwa alam akan memberikan apa yang kami perlukan jika kami memperlakukannya dengan hormat.
Meskipun hidup di daerah yang terpencil, kami tetap memiliki semangat untuk berkembang. Saya sendiri memilih kuliah di bidang Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi karena ingin suatu hari nanti kembali ke kampung halaman dan mengajarkan ilmu yang saya dapatkan kepada adik-adik di sana. Saya ingin mereka mengetahui pentingnya menjaga kesehatan, berolahraga, dan memanfaatkan potensi alam dan budaya kami sebagai sarana rekreasi yang bisa dikembangkan.
Pedalaman Distrik Fayit adalah tempat yang membentuk karakter saya—menjadi orang yang kuat, mandiri, dan selalu menghargai kebersamaan. Setiap kali saya merindukan rumah, saya akan mengingat kembali suasana pagi yang segar, suara sungai yang mengalir, dan senyum warga yang selalu ramah. Tempat ini akan selalu menjadi bagian dari diri saya, dan saya berharap keindahan serta keasliannya akan tetap terjaga untuk generasi-generasi mendatang.(*)