Oleh Angelina Marciane Jesica Weto
Cerita ini tentang danau tiga warna yang bernama Danau Kelimutu. Danau Kelimutu terletak di Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Nama Kelimutu adalah gabungan kata dari bahasa setempat, yaitu “keli” yang berarti gunung dan kata “mutu” yang berarti mendidih. Hal ini terkait dengan kepercayaan masyarakat setempat, di mana warna-warna pada Danau Kelimutu memiliki arti masing-masing dan memiliki kekuatan alam yang sangat dahsyat.
Saya masih ingat momen ketika akhirnya saya benar-benar memutuskan untuk pergi ke Danau Kelimutu. Padahal saya sudah lama tinggal di Ende, tapi justru belum pernah melihatnya secara langsung. Rasanya agak ironis karena tempat itu begitu terkenal, bahkan sampai di luar daerah.
Waktu itu saya berangkat pagi hari, bersama dengan keluarga saya. Ada perasaan antusiasme sekaligus penasaran, seperti sedang menuju sesuatu yang selama ini hanya ada dalam cerita. Perjalanan ke Kelimutu ternyata tidak sesederhana yang saya bayangkan. Jalanannya berliku dan terus menanjak, membuat perjalanan terasa cukup panjang. Tapi di sisi lain, pemandangan di sepanjang jalan justru membuat saya menikmati setiap prosesnya.
Sesampainya di lokasi, udara terasa sangat dingin. Saya bersama keluarga langsung berjalan menuju puncak. Jalurnya memang tidak terlihat sulit, tapi tetap saja menguras tenaga. Namun, rasa lelah itu seperti tidak terlalu terasa karena saya sudah tidak sabar melihat danau yang terkenal itu.
Begitu sampai di atas, cuaca yang cerah langsung menampilkan pemandangan Danau Kelimutu dengan jelas. Saat itu saya benar-benar terdiam karena keindahannya jauh melebihi apa yang pernah saya lihat di foto. Beruntung saat itu danau-nya tidak tertutup kabut, sehingga saya bisa melihat keindahannya dengan sangat jelas.
Di tengah suasana itu, saya teringat kembali cerita yang sering saya dengar sejak dulu. Masyarakat setempat percaya bahwa tiga danau tersebut bukan sekadar fenomena alam biasa, melainkan tempat berdiamnya arwah orang-orang yang telah meninggal. Ketiga danau ini punya nama dan warnanya masing-masing.
Danau yang pertama bernama Tiwu Ata Mbupu. Danau yang dulunya berwarna putih sekarang telah berubah warna menjadi hitam. Danau ini dipercaya sebagai tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang tua yang telah meninggal. Suasanya terasa lebih tenang, seakan-akan mencerminkan kehidupan yang sudah selesai dengan damai.
Lalu ada Danau Tiwu Nuwa Muri Koo Fai yang diyakini sebagai tempat berkumpulnya arwah anak muda. Warna danau ini sekarang telah berubah menjadi hijau dari sebelumnya berwarna biru. Warna danau ini biasanya terlihat lebih cerah, seperti menggambarkan semangat dan energi masa muda.
Terakhir, Tiwu Ata Polo yang merupakan danau berwarna merah, tapi sekarang telah berubah menjadi warna biru. Penduduk sekitar danau ini percaya bahawa danau ini adalah tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang yang meninggal dan melakukan kejahatan semasa hidup.
Menariknya, masyarakat sekitar percaya bahwa perubahan warna air danau tidak hanya disebabkan oleh faktor alam, tetapi juga berkaitan dengan kondisi spiritual para arwah tersebut. Walaupun secara ilmiah ada penjelasannya, kepercayaan ini tetap dijaga dan dihormati.
Saat saya duduk dan melihat langsung ke arah danau, suasananya terasa sangat berbeda. Udara dingin, angin yang berhembus pelan, dan kabut tipis membuat saya benar-benar tenggelam dalam momen itu. Cerita yang sebelumnya hanya saya dengar terasa seperti hidup di depan mata.
Sepulang dari sana, saya merasa pengalaman ini bukan sekadar perjalanan biasa. Mengunjungi Danau Kelimutu membuat saya lebih memahami bahwa di balik keindahan alam, ada cerita dan makna yang membuat tempat itu menjadi jauh lebih berharga.(*)