Gadis di Balik Kabut Toba

Oleh Azaria E. Lumbantoruan

Sebagai gadis yang tinggal di Sumatera Utara, bermain di danau indah di sana merupakan hal yang biasa. Namun, perjalanan menuju Danau Toba kali ini terasa berbeda, seolah-olah setiap jengkal aspal yang saya lalui adalah lapisan waktu yang perlahan mengelupas. Kabut tipis turun dengan keanggunan yang menghantui, menyelimuti permukaan air yang tenang bagaikan cermin raksasa… Airnya yang biru tua menyimpan ribuan rahasia, memantulkan bayangan bukit-bukit yang menjulang gagah di sekelilingnya, menciptakan suasana sunyi yang seakan menekan dada dengan rasa kagum sekaligus ngeri. 

Di sebuah dermaga kayu yang sudah menghitam dimakan usia dan lembapnya udara vulkanik, saya memilih untuk berhenti. Kayu-kayu itu mengerit di bawah langkah saya, mengeluarkan suara protes yang seakan memperingatkan bahwa tempat ini bukan untuk mereka yang hatinya sedang riuh. Saya duduk di tepiannya, membiarkan kaki saya menggantung rendah, nyaris menyentuh permukaan air yang biru tua dan tampak tak berdasar. Di samping saya, entah sejak kapan, telah duduk seorang lelaki tua yang mengenakan kemeja flanel pudar. Ia adalah Opung Marulitua, setidaknya begitulah ia memperkenalkan dirinya dengan suara yang lebih mirip bisikan angin di antara celah pinus. Matanya yang sayu menatap lurus ke tengah danau, seolah-olah ia sedang menonton sebuah film lama yang hanya diputar untuk penglihatannya sendiri.

Hawa dingin merambat perlahan dari permukaan danau, membawa aroma belerang purba yang bercampur dengan wangi tanah basah setelah hujan. Bagi saya, aroma ini adalah penenang, namun bagi Opung Maruli, ini tampaknya adalah aroma kenangan. Ia duduk begitu statis, begitu tenang, hingga detak jantung saya yang berdegup kencang karena kelelahan perjalanan terasa seperti suara perkusi yang mengganggu kesunyian ini.

“Kau tahu,” mulainya tanpa menoleh, “danau ini tidak pernah benar-benar sunyi bagi mereka yang bersedia mendengarkan dengan cara yang salah.” Kalimat itu menggantung di udara, menciptakan getaran ganjil yang aneh di tengkuk saya. Saya hanya bisa terdiam, merasa bahwa kehadiran pria ini di dermaga yang terisolasi ini adalah sebuah jawaban atas kegelisahan yang memaksa saya pergi jauh dari kota tempat saya tinggal.

Kami mulai berbincang, atau lebih tepatnya, saya membiarkan diri saya tenggelam dalam aliran ceritanya yang mengalir deras seperti arus bawah air. Ia bercerita tentang kehilangan yang amat sangat…tentang sebuah pesta pernikahan yang tertelan ombak mendadak, tentang janji yang tenggelam sebelum sempat diucapkan, mengklaim bahwa waktu berhenti berputar baginya tepat saat ia kehilangan keluarganya di danau ini puluhan tahun silam. Penjelasannya begitu nyata hingga saya bisa merasakan kepedihan yang memancar dari setiap kata yang ia ucapkan. Dan tentang jam saku perak yang ia pegang sekarang, jarumnya berhenti tepat di angka empat.

Puncaknya terjadi ketika matahari mulai merosot ke balik perbukitan Samosir, mengubah warna danau menjadi merah tembaga yang pekat. Opung Marulitua melihat raut wajah saya lalu berdiri, memberikan jam saku perak itu kepada saya, dan berkata bahwa sudah waktunya bagi saya untuk berhenti menyalahkan diri sendiri. Tangannya yang dingin menyentuh bahu saya, sebuah sensasi fisik yang nyata, menegangkan, dan penuh kehangatan yang aneh.

Namun, saat saya mengulurkan tangan untuk menerima jam itu, jemari saya justru menembus telapak tangannya seolah saya sedang mencoba menggenggam asap. Saya terperanjat. Jantung saya seakan berhenti berdetak saat melihat jam saku itu jatuh menembus kayu dermaga dan lenyap ke dalam air tanpa menimbulkan riak sedikit pun. Dunia di sekitar saya mendadak berputar hebat. Aneh. Itu hal yang mengerikan.

Saya menoleh dengan panik, namun kursi kayu di samping saya kini tampak kosong melompong, tertutup lapisan debu tebal yang seolah sudah ada di sana selama puluhan tahun. Tidak ada bekas duduk, tidak ada aroma tembakau, tidak ada sisa kehadiran manusia selain diri saya yang gemetar hebat di tengah hembusan angin yang semakin kencang dan menusuk tulang.

Dengan napas terengah, saya melihat ke bawah, ke arah permukaan air yang jernih di bawah dermaga. Di sana, pantulan cahaya senja memperlihatkan sesuatu yang membuat darah saya tersirap. Ya, bayangan saya berdiri sendirian di atas dermaga, namun mulut saya di dalam pantulan itu tampak sedang bergerak-gerak, berbicara sendiri dengan ekspresi yang penuh kesedihan, seolah-olah saya baru saja melakukan percakapan dua arah dengan kekosongan.

Jantung saya mulai berdegup kencang saat menyadari bahwa sejak tadi, tidak ada suara ketukan kayu lain selain gerakan kaki saya sendiri. Keheningan yang tadi terasa damai kini berubah menjadi mencekam, membuat saya tersadar bahwa suara serak yang saya dengar mungkin hanyalah pantulan dari pikiran saya yang kacau.

“Terima kasih sudah mendengarku,” bisik suara itu untuk terakhir kalinya, tepat saat embusan angin kencang menyapu permukaan dermaga dan membuyarkan kabut yang menyelimuti kami. Dalam sekejap, sosok di samping saya lenyap, menyisakan kekosongan yang amat sangat di atas kayu lapuk tersebut. Saya mengusap wajah dengan kasar, mencoba meyakinkan diri bahwa kelelahan mental setelah perjalanan panjang ini telah menciptakan manifestasi dari rasa kesepian saya sendiri. 

Saat saya melangkah pergi meninggalkan dermaga dengan sisa tenaga yang ada, saya menoleh sekali lagi ke belakang. Tidak ada siapa-siapa, hanya deretan kayu tua yang membisu di bawah tatapan bintang-bintang pertama, meninggalkan sebuah tanya yang akan saya bawa pulang: apakah tadi itu murni halusinasi saya, ataukah danau ini memang memiliki cara ajaib untuk menyembuhkan jiwa-jiwa yang nyaris patah? Sesuatu di dalam diri saya terasa lebih ringan, seolah “halusinasi” tadi adalah cara otak saya menyembuhkan luka yang selama ini tidak berani saya akui.(*)