Oleh Dewi Puspita Artanti
Pagi itu, jam tiga dini hari, seharusnya menjadi momen tenang seperti biasanya. Saya terbangun oleh jeritan panik dari kamar sebelah. “ALLAHUAKBAR! ALLAHUAKBAR! ASTAGFIRULLAH!” Suara adik saya, yang biasanya ceria, kini melengking tinggi, berulang kali memanggil nama Tuhan, Ibu, dan Ayah. Jantung saya berdegup kencang; pikiran langsung melayang ke kecelakaan atau binatang buas yang menyusup masuk.
Saya buru-buru turun dari tempat tidur, berlari ke kamarnya. Adik saya berjalan mondar-mandir di sudut. Wajahnya pucat pasi. Mata melebar ketakutan. Dengan napas tersengal, dia bercerita tentang sosok seperti gumpalan karung beras raksasa, panjang menjuntai, dengan wajah buram yang mulutnya terbuka-tutup mengeluarkan erangan mirip kucing kesakitan. Makhluk itu bergelayut di atap rumah tetangga, menatapnya dari balik jendela.
Merinding, takut, tegang, semua emosi yang jarang saya rasakan itu bercampur jadi satu. Saya ingin bilang ini bohongan, tapi wajah adik yang basah keringat dan suara gemetar meyakinkan saya ini nyata. Bukan lelucon jam segitu. “Astaghfirullahalazim,” gumam Ibu sambil memeluknya erat. Suaranya bergetar meski berusaha tenang.
Ayah, tipe praktis, langsung menuju jendela. “Tak ada apa-apa,” katanya tegas setelah mengintip. Dia keluar rumah, mendekati atap tetangga di bawah langit hitam yang mulai pudar oleh sinar matahari pagi. Benar saja, kosong. Pagi itu, kami semua kembali tidur dengan hati masih gelisah. Tapi sejak saat itu, keseharian rumah berubah total.
Dulu, hari-hari kami monoton bangun, siap kerja/sekolah masing-masing, sore berkumpul sebentar lalu sibuk sendiri sampai malam. Kini, rumah ramai bukan oleh tawa, tapi oleh kebiasaan baru. Pagi buta jadi waktu ribut menemani adik, siang hari kami pulang lebih awal untuk berkumpul, dan malam terutama jam enam sore, sebelas malam, atau empat pagi penuh ketegangan. Alasannya? “Menemani supaya tak takut,” kata kami sambil tertawa gugup. Lucu, tapi nyata.
Pagi-pagi, kami bercanda sambil minum kopi, berusaha mengusir bayang gelap. Siang, setelah sekolah atau kerja, adik tak lagi sendirian. Kami main kartu atau bercerita konyol bareng. Malam paling sibuk bukan diam sibuk sendiri, tapi bersama. Kami nonton TV, masak bareng, atau sekadar duduk di lingkaran. Kesibukan terasa hangat, seperti keluarga sungguhan yang saling menjaga. “Ini lucu, ya,” kata saya sering, meski hati masih was-was.
Tiga bulan berlalu dengan rutinitas baru itu. Suasana mulai nyaman, seperti kami sudah teradaptasi dengan “penghuni tak kasat mata” misterius. Tapi suatu malam, jeritan adik kembali mengguncang. “Lebih besar! Lebih banyak! Mereka bergantung di mana-mana, erangannya lebih kencang!” katanya. Tubuhnya gemetar hebat. Kali ini, gangguan tak lagi terbatas pada rumah. Adik bercerita melihatnya di sekolah, di jalan pulang. Saya mulai kesal, campur tak percaya, repot, dan lelah.
Orang tua panik. Mereka mencoba segala cara, doa keagamaan intensif, ruqyah, hingga ritual adat. Akhirnya, mereka memasang benda-benda aneh, keris di pintu, garam dicampur kapur sirih ditabur rutin di sudut rumah, dan ayat-ayat tertulis di kertas ditempel di dinding. Benar saja, selama beberapa minggu, suasana tenang. Tak ada jeritan lagi.
Rutinitas lama kembali sibuk masing-masing; rumah sepi lagi. Saya lega, tapi anehnya, ada yang hilang. Tawa pagi buta, cerita malam bareng semua lenyap. Kami kembali melewati hari tanpa ikatan kuat.
Suatu senja, saya duduk sendirian di teras, menatap atap tetangga yang kosong. Pikiran saya melayang. Ada yang salah. Keseharian ini benar, seperti sebelum kejadian, tapi terasa hampa. Seperti ada tamu tak diundang yang datang, bikin kami dekat, lalu pergi tanpa pamit.
Malam itu, angin berhembus dingin. Saya ingat erangan kucing misterius itu. Apakah makhluk itu benar-benar pergi atau cuma bersembunyi? Rumah kembali tenang, tapi hati saya gelisah. Mungkin, kehilangan kehangatan keluarga lebih menyeramkan daripada hantu.
Sekarang, setiap jam tiga pagi, saya terjaga sendiri. Tak ada jeritan adik, tapi bayang gumpalan karung itu menghantui mimpi. Kami aman, tapi apakah benar-benar utuh?(*)