Oleh Hanif Fahrizal Akbar
Pagi itu langit terlihat mendung sejak aku keluar rumah. Jalanan masih basah oleh sisa hujan semalam, dan genangan kecil terlihat di beberapa sudut gang. Aku berdiri di halte dekat sekolah seperti biasa, menunggu angkot yang sering datang tidak tepat waktu. Raka sudah lebih dulu datang. Ia duduk di bangku kayu halte, mengenakan seragam yang sedikit kusut dan sepatu yang terlihat mulai usang. Ketika aku datang, ia hanya mengangguk pelan, lalu kembali menatap jalan.
Hari itu sebenarnya berjalan seperti hari-hari sebelumnya. Di kelas, Bu Sinta mengajar pelajaran seperti biasa, menjelaskan materi sambil sesekali menuliskan poin penting di papan tulis. Aku duduk sebangku dengan Raka dan kami mencatat, meskipun tidak terlalu serius. Kadang kami saling berbisik soal tugas atau sekadar mengomentari suasana kelas. Andi, yang duduk di belakang, beberapa kali mencoba bercanda, tetapi suasananya terasa tidak sehidup biasanya.
Sejak beberapa hari terakhir, aku mulai merasa ada yang berubah pada Raka. Ia tidak lagi banyak bicara. Biasanya, ia selalu punya cerita tentang hal-hal sederhana—tentang tetangga barunya, tentang pertandingan bola di lapangan dekat rumah, atau tentang makanan yang ia beli di warung. Tapi sekarang, ia lebih sering diam. Kalau ditanya, jawabannya singkat. Ia juga terlihat sering melamun, menatap keluar jendela kelas tanpa fokus yang jelas.
Saat jam istirahat, kami biasanya makan bersama di kantin. Namun hari itu, Raka hanya membeli teh hangat dan duduk tanpa menyentuh makanan. Aku sempat bertanya apakah ia tidak lapar, tetapi ia hanya menjawab, “Nanti saja.” Cara bicaranya terdengar datar. Aku mulai merasa ada sesuatu yang sedang ia pikirkan, tetapi ia tidak ingin membaginya.
Siang harinya, ketika bel pulang berbunyi, hujan turun cukup deras. Siswa-siswa berkumpul di teras sekolah untuk berteduh. Aku dan Raka berdiri di dekat tiang, melihat air hujan yang jatuh membentuk garis-garis rapat. Suasana menjadi sedikit lebih sunyi karena semua orang menunggu hujan reda.
Di tengah suara hujan itu, Raka tiba-tiba bicara. Ia bilang kemungkinan tidak akan masuk sekolah minggu depan. Awalnya aku kira ia hanya bercanda atau ingin izin sebentar, tapi setelah aku tanya lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa ayahnya sedang sakit cukup lama.
Ibunya meminta ia membantu bekerja di bengkel milik pamannya. Ia mengatakan itu dengan nada yang biasa saja, tapi aku bisa melihat ia sebenarnya tidak sepenuhnya siap.
Aku tidak langsung tahu harus menjawab apa. Di satu sisi, aku ingin menyarankan agar ia tetap sekolah. Tapi di sisi lain, aku juga tahu keadaan setiap orang berbeda. Kami berdiri cukup lama tanpa banyak bicara setelah itu. Hujan belum juga reda dan suasana terasa canggung.
Beberapa hari berikutnya, aku mulai lebih memperhatikan Raka di kelas. Ia semakin jarang terlibat dalam obrolan. Bahkan ketika guru bertanya, ia hanya menjawab seperlunya. Nilai tugasnya juga terlihat menurun. Aku sempat ingin mengajaknya bicara lebih serius, tetapi setiap kali ada kesempatan, suasananya terasa tidak tepat.
Kemudian, pada awal minggu berikutnya, Raka benar-benar tidak datang ke sekolah. Bangkunya kosong sejak pagi. Aku sempat berpikir ia hanya izin sehari, tetapi sampai pelajaran terakhir pun ia tidak muncul. Hari itu terasa berbeda, terutama karena biasanya aku selalu berbagi banyak hal dengannya di kelas.
Aku mencoba menghubunginya lewat pesan, tetapi tidak ada balasan. Andi juga sempat bertanya kepadaku, tapi aku tidak bisa memberi jawaban pasti. Kami hanya bisa menduga-duga. Beberapa teman lain juga mulai menyadari ketidakhadirannya, tetapi tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi.
Akhirnya, sepulang sekolah beberapa hari kemudian, aku memutuskan untuk datang ke rumah Raka. Aku masih ingat jalannya, meskipun tidak sering ke sana. Rumahnya berada di gang yang cukup sempit, dengan beberapa rumah berdempetan di kanan-kiri. Ketika aku sampai, pintunya tidak tertutup rapat.
Aku mengetuk pelan, lalu masuk setelah ada suara dari dalam. Di ruang tengah, aku melihat Raka duduk di kursi plastik, di samping tempat tidur sederhana. Di atas tempat tidur itu, ayahnya terbaring dengan kondisi yang terlihat lemah. Ada beberapa obat di meja kecil di dekatnya. Raka terlihat lebih kurus dibandingkan terakhir aku melihatnya di sekolah.
Ketika ia melihatku, ia tampak sedikit kaget, lalu berdiri. Kami tidak langsung banyak bicara. Ia hanya bilang bahwa sekarang ia membantu di bengkel hampir setiap hari. Ia juga menjelaskan bahwa kondisi ayahnya belum membaik, sehingga ia harus lebih sering di rumah. Aku hanya mendengarkan, mencoba memahami situasinya.
Sebelum aku pulang, kami sempat duduk sebentar di depan rumah. Ia bertanya tentang sekolah, tentang pelajaran yang tertinggal, dan tentang teman-teman di kelas. Aku menjawab sebisaku. Hujan mulai turun lagi, tidak terlalu deras, tapi cukup membuat suasana menjadi sepi.
Saat itu aku mulai menyadari bahwa keadaan yang kami jalani ternyata bisa berubah dengan cepat. Hal-hal yang sebelumnya terasa biasa—seperti berangkat ke sekolah bersama atau duduk di kelas—ternyata tidak selalu bisa dipertahankan. Dan sejak hari itu, aku mulai melihat banyak hal dengan cara yang berbeda. (*)