Oleh Raffi Dian Adiyanto
Siang itu, matahari Minggu menggantung tepat di atas ubun-ubun, mengirimkan hawa panas yang seolah sanggup melelehkan aspal. Di ruang tengah, suara iklan televisi dengan jargon khas Idulfitri menggema, memantul di antara dinding rumah yang sibuk. Bagi anak kecil berusia tujuh tahun, melodi iklan itu bukan sekadar promosi dagang; ia adalah simfoni penanda kemenangan yang hampir tiba.
Aku masih bisa mengingatnya dengan presisi yang tajam: bagaimana udara hari itu terasa begitu padat oleh antisipasi. Di dalam dada, perasaan-perasaan asing mulai bermunculan bak pucuk daun yang merekah setelah hujan. Ada rasa bangga, cemas, sekaligus letih yang tak terkira.
Hari itu adalah hari pemungkas, bab terakhir dari perjalanan panjang bernama puasa. Bagiku, mempertahankan rasa lapar dan haus di hari penutupan itu terasa seperti mendorong bongkahan batu raksasa ke puncak bukit yang terjal. Mungkin bagi orang dewasa, itu hanyalah rutinitas tahunan yang biasa, namun bagi sepasang kaki kecil dan perut kosong milik anak tujuh tahun yang baru belajar berpuasa penuh, itu adalah sebuah perjuangan heroik.
Suasana rumah berubah menjadi orkestra kesibukan. Ibu adalah konduktor di dapur, berpacu dengan detik jam yang seolah berlari cepat demi menyajikan hidangan Lebaran. Sementara itu, Ayah, Kakak, dan aku berbagi tugas layaknya sebuah tim ekspedisi. Kami menyapu, menggosok, dan memoles setiap sudut interior rumah hingga ke sela-sela kendaraan di garasi. Kami ingin segalanya bersinar, begitu mengilap hingga bayangan kebahagiaan kami terpantul jernih di sana, seputih dan sebening hati yang kembali fitrah.
Bagi sebagian orang, rutinitas ini mungkin terasa biasa, namun bagiku, tahun ini memiliki semburat warna yang berbeda. Puasa penuh sebulan suntuk telah mengubah perspektifku: ada sebuah kemegahan yang tumbuh di dalam dada, sebuah kebanggaan murni yang membuat setiap detik terasa jauh lebih bermakna.
Kampungku, Sidodadi, mulai menggeliat sejak matahari masih tinggi. Para remaja masjid berkeliling dari pintu ke pintu, mengetuk hati warga untuk mengumpulkan receh demi receh. Tujuannya sederhana namun krusial: membeli kembang api dan mercon yang suaranya sanggup membelah kesunyian dari ufuk barat hingga ke timur.
Ketika cakrawala mulai melukis gradasi jingga dan ungu, tanda waktu Magrib tiba, suasana berubah menjadi riuh yang magis. Berbuka puasa di hari terakhir ini terasa begitu melegakan, sebuah oase di ujung padang pasir perjuangan sebulan penuh. Sembari duduk di teras rumah, aku menikmati seporsi opor ayam hangat buatan Ibu, sementara telingaku menangkap sayup-sayup takbir yang mulai bersahutan.
Malam itu, aku akhirnya mengantongi izin yang telah lama kunantikan. “Hanya jika puasamu penuh,” begitu janji Ayah, dan aku telah menunaikannya. Dengan pakaian terbaik yang aromanya masih tercium dan sebotol minum di genggaman, aku melangkah menuju masjid. Di sana, truk dan mobil telah berbaris rapi seperti naga besi yang siap mengawal kemenangan.
Takbir keliling resmi dimulai. Suara klakson dan musik religi berpadu dengan gema Allahu Akbar yang menggetarkan aspal. Kami bergerak, merayap keluar dari batas desa menuju pinggiran kota yang gemerlap. Ribuan rombongan kendaraan terlihat seperti koloni semut yang bercahaya di bawah lampu jalan, menciptakan aliran energi yang luar biasa. Meski Sidodadi bukan kampung besar, semangat penghuninya malam itu terasa lebih luas dari samudera.
Sekembalinya ke masjid, para pemuda mulai memanjat atap, menyusun kembang api hasil patungan warga dengan penuh ketelitian. Aku memilih menunggu di pelataran rumah, memandang menara masjid yang nampak kokoh di kegelapan. Tiba-tiba, sebuah ledakan memecah langit.
Duar!
Seketika, kanvas hitam di atas sana dilukis dengan berbagai bentuk dan warna. Langit tak lagi kelam; ia penuh dengan percikan api yang menari-nari. Sebagai bocah tujuh tahun, emosiku diaduk-aduk oleh keajaiban visual itu. Aku terpaku, bertanya-tanya dalam hati berapa biaya yang dihabiskan untuk pesta semegah ini, sembari mengagumi kekompakan warga yang rela berbagi demi sebuah kebahagiaan kolektif.
Di bawah hujan cahaya itu, aku belajar tentang spektrum rasa. Ada senang karena berhasil menang melawan rasa lapar sebulan penuh, ada sedih karena harus mengucapkan selamat tinggal pada Ramadan yang teduh, dan ada lega yang amat sangat. Hadiah bagi anak kecil sepertiku ternyata bukan sekadar mainan, melainkan sebuah momen abadi yang tak mungkin terulang dengan rasa yang sama. Malam pun larut, perlahan pesta usai dan warga kembali ke peraduan. Aku memejamkan mata dalam dekapan rasa syukur, hingga perlahan kanvas gelap berganti menjadi biru cerah yang menyegarkan.
Pagi Idulfitri tiba dengan aroma minyak wangi dan gemerisik kain baru. Dengan sajadah di tangan, aku melangkah bersama keluarga, menyapa tetangga yang tampak berseri-seri. Usai salat Id, suasana haru biru pecah dalam prosesi maaf-memaafkan. Dan tentu saja, sebagai pelengkap kemenangan, pundi-pundi uang THR mulai memenuhi saku kecilku, sebuah harta karun yang jumlahnya tak pernah benar-benar kuhitung, karena nilainya kalah jauh dibanding kenangan yang kini menetap abadi di dalam ingatan. Lebaran tahun itu, di kampung Sidodadi, resmi menjadi memori primer yang tak akan pernah lekang oleh usia.(*)