Bintang Kecil yang Tercapai

Oleh Mauly Kirana

Mimpi menjadi sosok polisi wanita mulai bersemi saat aku menduduki bangku SMP. Kala itu aku mengikuti ekstrakurikuler paskibra dan kagum pada sosok pelatih sekaligus seorang polisi wanita. Dari sanalah aku menemukan secercah cita-cita yang ingin aku capai nantinya. Untuk melangkah ke cita-citaku itu, aku memiliki cita-cita kecil menjadi seorang paskibraka dengan tujuan menjadi sebuah batu loncatan untuk cita-cita yang besar itu.  Aku memulai meraihnya dengan mengikuti pelatihan fisik sejak masa akhir menduduki bangku SMP bersama seorang tentara dan beberapa kakak-kakak yang akan mendaftar untuk menjadi seorang polisi dan tentara. Di sanalah aku semakin kuat dengan tekad untuk mencapai cita-citaku itu. 

Memasuki SMA, aku mendaftarkan diriku ke SMA favorit melalui jalur prestasi. Dengan diterimanya aku di SMA favorit itu, semangatku kian membara. Aku aktif dalam ekstrakurikuler paskibra dan berhasil lolos menjadi pembawa bendera Merah Putih pada upacara kemerdekaan di sekolah. Hal itu menjadi sebuah kebanggaan kecil yang menjadi percikan semangat baru. Aku juga mengikuti lomba baris-berbaris dengan tim paskibra yang dibentuk oleh seniorku kala itu. Kami berlatih berbulan-bulan hingga kami bersahabat dengan terik matahari dan kulit kami berubah menjadi eksotis. Sayangnya keberuntungan belum berpihak kepada kami, kami gagal dalam perlombaan ini. Namun, dari sana aku belajar bahwa kekalahan bukan akhir, melainkan pelajaran berharga untuk terus melangkah maju.

Ketika seleksi paskibraka tingkat kabupaten dibuka, aku dan sebelas temanku berjuang bersama melewati setiap tahap seleksi, mulai dari pemberkasan, seleksi parade, ujian pengetahuan kebangsaan, seleksi fisik, hingga yang terakhir, seleksi kepribadian. Di tengah perjalanan, aku harus menghadapi kenyataan bahwa pada telapak kakiku terdapat ketidaknormalan, yakni kaki flat yang membuat aku pesimis. Hal itu juga memengaruhi semangatku untuk mencapai cita-citaku menjadi seorang polisi wanita karena pada saat itu pihak kesehatan memberitahuku bahwa hal itu tidak bisa ditoleransi dalam seleksi kepolisian. Semakin pesimis ketika terungkap adanya permainan kotor dari beberapa pihak dalam seleksi fisik. Semangat kami pun sempat retak, bahkan di antara kami ada yang terlibat dalam permainan kotor itu. Di titik itu aku hanya bisa berserah diri kepada-Nya, melepaskan harapanku untuk lolos, dan melanjutkan seleksi terakhir dengan hati yang berat namun harus ikhlas juga. 

Sebulan berlalu tanpa harapan sebesar dulu. Di tengah ujian harian pelajaran Sejarah, saat ponsel kembali dinyalakan, aku mendapati puluhan selamat. Sebuah edaran elektronik menyatakan namaku lolos sebagai paskibraka kabupaten. Aku spontan berteriak dan bersujud di dalam kelas, disambut dengan tepuk tangan riuh teman-teman dan guruku. Dari sepuluh peserta yang tersisa, hanya lima yang lolos dan itu termasuk aku. Namun, di balik kebahagiaanku, ada air mata sahabatku yang tidak lolos karena kecurangan orang lain, yang termasuk dalam lima orang yang lolos ini. Rasa di kala itu menyayat sekaligus menghangatkan hati secara bersamaan.

Masa karantina selama sepuluh hari di Desa Bahagia bukanlah perkara yang mudah. Tanpa handphone, tanpa dunia luar, dengan porsi makan berlipat ganda sebagai nutrisi tambahan dan latihan fisik yang melelahkan setiap harinya. Dua hari pertama terasa sangat berat. Rasa ragu dan sedih menyelimuti. Namun, perlahan aku menemukan kekuatan dalam kebersamaan di karantina ini. Hukuman terasa lebih ringan bila dijalani bersama. Canda waktu istirahat mampu mengusir lelah. Bahkan air kran pun terasa segar di siang hari dengan terik matahari yang menyorot. Dari sana aku belajar bahwa banyak hal tidak perlu ditakuti sebelum benar-benar dijalani.

Malam sebelum pengibaran, kami mengadakan renungan malam yang penuh air mata dan harapan. Esoknya, pada tanggal 17 Agustus 2023, kami bangun pukul dua pagi, berdoa bersama, bersiap, lalu melangkah menuju lapangan dengan mengenakan seragam putih yang telah lama kami impikan. Hari itu merupakan hari sakral yang pernah ku rasakan, derap langkah penuh makna, setiap hentakan mewakili seluruh perjuangan yang telah kulalui. Saat Merah Putih terbentang dan lagu kebangsaan berkumandang, tanganku hormat dengan bergetar, bulu kuduku berdiri, dan air mataku sedikit menetes. Dalam hatiku berucap syukur tak henti-hentinya. Impian kecil yang kupupuk sejak SMP akhirnya benar-benar tercapai.

Bintang kecil itu akhirnya berhasil kuraih, bukan tanpa luka, bukan tanpa keraguan, tetapi dengan keyakinan bahwa setiap perjuangan yang dijalani dengan ikhlas dan sungguh-sungguh, pasti akan menemukan jalannya sendiri. (*)