Di sebuah desa kecil bernama Ciburial, yang terletak di kaki Gunung Gede, Sukabumi, hidup seorang pemuda bernama Ardi. Ia yatim piatu sejak usia tujuh tahun, dan sejak saat itu diasuh oleh kakeknya, Pak Iwan, seorang petani sederhana yang hidup dari hasil kebun dan sawah. Sejak kecil, Ardi tumbuh sebagai anak yang rajin, tangguh, dan memiliki hubungan yang sangat dekat dengan alam. Ia lebih senang berada di tengah kebun dan hutan daripada duduk diam di rumah. Teman-teman sebayanya menyebutnya “anak gunung”, bukan sebagai ejekan, melainkan penghormatan atas keberanian dan pengetahuannya tentang hutan.
Setiap pagi, Ardi membantu kakeknya memanen hasil kebun—singkong, jagung, dan pisang—untuk kemudian dijual ke pasar desa. Jalanan yang harus mereka tempuh cukup jauh, melewati jalan setapak berbatu dan menanjak, dengan pemandangan hamparan sawah yang hijau dan suara gemericik air dari selokan irigasi. Namun bagi Ardi, itu bukan beban. Ia merasa alam adalah bagian dari keluarganya—ia berbicara dengan pohon, menyapa burung, bahkan sering memberi nama pada batu besar yang ia lewati setiap hari.
Suatu pagi yang berkabut, setelah semalaman hujan deras, Ardi memutuskan mengambil jalan pintas melalui hutan kecil di sisi utara desa. Di tengah perjalanan, ia mendengar suara aneh, seperti jeritan lirih dari seekor burung. Ia berhenti, memicingkan mata, dan mengikuti suara itu. Di balik semak yang lebat, terbaring seekor elang besar dengan bulu keemasan, matanya tajam tapi penuh luka. Sayap kirinya terkulai, berdarah. Di dekatnya ada potongan tali nilon—tanda bahwa burung itu baru saja lepas dari jeratan pemburu.
Ardi segera melepaskan jaketnya dan membungkus burung itu, lalu membawanya pulang. Kakeknya terkejut melihat Ardi datang dengan seekor elang. “Kamu tahu itu burung apa?” tanya Pak Iwan. “Itu elang jawa, langka dan dilindungi.” Namun Pak Iwan tidak melarang Ardi merawatnya. Ia tahu cucunya bukan anak ceroboh. Ardi menamai burung itu “Langit”, karena matanya memandang ke atas seolah merindukan kebebasannya.
Hari demi hari, Ardi merawat Langit dengan penuh kesabaran. Ia membersihkan lukanya dengan air hangat dan ramuan herbal, memberinya makan daging ayam segar, dan menaruhnya di kandang kayu terbuka agar bisa melihat langit setiap hari. Awalnya, Langit gelisah dan ketakutan, tetapi perlahan ia mulai percaya pada Ardi. Burung itu tidak lagi mencakar, bahkan membiarkan dirinya dielus.
Warga desa yang mendengar kabar tentang Ardi dan Langit mulai berdatangan. Beberapa menganggap itu pertanda baik—elang jawa dipercaya sebagai burung pelindung, lambang kekuatan dan keberanian. Namun tidak semua orang senang. Seorang pemburu bayaran bernama Darto, yang bekerja untuk penadah hewan langka, mulai mengawasi rumah Ardi. Ia yakin itu elang yang lolos dari jeratannya beberapa minggu lalu, dan ia ingin mengambilnya kembali, demi imbalan besar dari kolektor hewan eksotik di kota.
Suatu malam, Ardi terbangun oleh suara gaduh di belakang rumah. Ia melihat bayangan seseorang mencoba membuka kandang Langit. Tanpa pikir panjang, ia mengejar si penyusup, meneriakinya hingga tetangga ikut keluar. Darto kabur, tapi sejak itu Ardi sadar bahwa menyelamatkan Langit bukan hanya soal kasih sayang—ini soal keberanian dan perlindungan. Ia kemudian melapor ke balai konservasi terdekat, dan petugas datang memeriksa kondisi Langit.
Setelah dua bulan berlalu, Langit mulai bisa mengepakkan sayapnya lagi. Luka di sayapnya mengering, bulu-bulunya tumbuh lebat. Ardi tahu waktunya telah tiba. Ia membawa Langit ke bukit tempat mereka pertama kali bertemu, ditemani kakek dan warga desa. Dengan berat hati, ia membuka pelindung kaki Langit dan melepaskannya ke udara. Burung itu terbang tinggi, berputar di langit biru, lalu melayang di atas kepala Ardi sebelum menghilang di balik awan.
Beberapa minggu kemudian, warga sering melihat seekor elang besar terbang rendah di atas desa, terutama di pagi dan senja. Ia tidak pernah menyerang ayam atau ternak, hanya terbang diam, seolah mengawasi. Ardi tahu itu Langit. Ia tidak pergi jauh—ia menjaga.
Cerita tentang Ardi dan Langit kini menjadi legenda desa. Anak-anak tumbuh dengan cerita itu, diajarkan untuk mencintai alam seperti Ardi mencintai Langit. Bahkan pemerintah daerah memasang papan di pintu masuk desa bertuliskan: “Ciburial, Desa Penjaga Langit.” Tapi bagi Ardi, yang paling penting bukanlah pujian atau gelar. Yang ia jaga adalah warisan cinta alam dari kakeknya — dan ia tahu, Langit masih sesekali menyapanya dari udara.(*)
Oleh Nisa Isnaini Fadillah