Kematian pada Masa Covid-19

Cerita ini saya ambil berdasarkan kisah nyata yang terjadi di wilayah tempat saya tinggal. Saya mendengar cerita ini langsung d\ngan telinga saya walaupun saya tidak percaya dan tidak mengalaminya. Kejadian ini terjadi tepatnya pada Dusun Sumberjo Desa Yosorati Kecamatan Sumberbaru Kabupaten Jember Jawa Timur. Pada saat itu telah dikabarkan melalui berita di televisi bahwa pandemi Covid-19 sudah mulai menyebar di Indonesia. Jawa Timur dikabarkan sudah terdapat beberapa orang yang sudah terinfeksi virus ini hingga menyebar ke seluruh bagian provinsi ini termasuk tempat saya tinggal. Penduduk di dusun menurut saya terlalu menyepelekan tentang pandemi ini, anjuran untuk memakai masker tidak di dengarkan, bahkan saat ada himbauan “Lock down” penduduk juga tidak mendengarkan dan nekat seenaknya sendiri.

Hingga suatu ketika, terjadi banyak kematian di dusun ini. Dalam satu hari dapat 2 hingga 3 orang yang dikabarkan meninggal melalui masjid. Dari kejadian itu sepertinya penduduk mulai gelisah dan perlahan membuat penduduk patuh untuk tinggal di rumah sehingga membuat suasana terasa sepi. Tetapi semua itu terlambat, walaupun telah mengurun diri di rumah, ternyata sudah ada yang terinfeksi dan membuat pemyabaran wabah ini semakin meluas. Sehingga kematian tetap banyak terjadi. Pemerintah menetapkan disetiap perbatasan desa terdapat portal untuk menjaga ketertiban warga terhadap salah satu cara mencegah penyebaran Covid-19. 

Pada suatu malam saya sedang perjalanan pulang dari kota menuju ke rumah. Disaat melewati portal kesehatan Covid-19 saya dicek suhu dan dihimbau supaya cepat sampai rumah, karena saat itu sudah hampir menuju tengah malam dimana terjadi rumor bahaya yang beredar di daerah setempat. Tentu saya penasaran kemudian saya bertanya. “Saya kemarin dengar kejadian tetangga saya itu bilang begini, “Wingi jare cedhake omahe Pak Tinggi wonge gak enek umur, gak kenek Corona apa penyakit jare. Tapi wingine sakdurunge gak enek umur, enek sing gedhor-gedhor lawang omahe. Katanya pas dibuka gak ada siapa-siapa. Ya siapa tamu yang mampir tengah malam. Kalau dipikir-pikir gak masuk akal, kan iya? Saya khawatir semacam santet atau yang gaib-goib gitu. Gak cuma di dekat Pak Tinggi, Mas, udah ke mana-mana, terus ya sama gak ada umur besoknya.”

Sesampainya di rumah saya istirahat dan tidur. Keesokannya saya mendengar langsung cerita dari tetangga yang sedang mengobrol dengan ibu saya bahwa dia juga mengalami hal serupa ketika malam tiba terdapat suara orang mengetok pintu, tetapi tidak dia lihat ataupun buka karena takut terjadi kejadian yang membahayakan keluarga mengingat kejadian ini juga terjadi di orang lain dan dianggap memakan korban. Untungnya suara ketokan itu tidak menimbulkan apa – apa keesokannya dan dianggap ketika pintu tidak dibuka maka tidak menimbulkan korban. Tetapi yang membuat saya bingung ketika rumor itu telah menyebar luas, orang – orang memasang semacan boneka yang ditancapkan di depan halaman rumah mereka walaupun tidak semua orang yang memasang.

Menurut kejelasan dari tetangga yang memasang boneka tersebut, harapannya dengan adanya boneka ini dapat menjadikannya semacam “tolak bala” atau pembuang sial yang berhubungan dengan hal mistis tersebut. Terror ini berlangsung cukup lama, saya katakan demikian karena boneka yang berada di halaman rumah mereka awet hingga berbulan – bulan. Artinya mereka masih percaya dan waspada terhadap terror ini. Tidak ada seorang pun yang memastikan siapa yang mengetok pintu pada tengah malam. Sebab pastinya mereka takut menjadi korban, baik dia sendiri maupun salah satu dari keluarga dia. Tentu untuk seseorang yang berpikiran normal tidak akan coba – coba mencari tahu terror ini karena bayarannya adalah nyawa.

Tetapi yang membuat saya heran adalah, kenapa hal itu tidak terjadi di rumah saya? Saya mulai meragukan kebenaran dari terror ini walaupun dari awal saya tidak percaya dan tidak ada niatan untuk percaya. Orang tua saya yang sering tidur larut malam juga tidak mendengarkan hal yang aneh seperti suara ketukan pintu. Untuk sekarang saya berfikir bahwa hal tersebut memiliki sisi positif dimana membuat orang – orang menjadu patuh untuk tetap berada di dalam rumah untuk sementara waktu. Hubungan antara terror ini dengan kematian menurut saya hanyalah kebetulan yang terlalu sempurna. Sebelum mendengar suara ketukan pintu, saya meyakini bahwa orang di dalam rumah tersebut sebelumnya pasti sudah terinveksi Covid-19.

Desas-desus terror tersebut tak terasa mulai menghilang semenjak adanya vaksinasi yang dilakukan di posko ataupun tempat layanan kesehatan terdekat seperti puskesmas dan rumah sakit. Setelah hilangnya terror tersebut, muncul kembali kejadian lain tetapi bukan terror lagi melainkan hal yang terlalu futuristik yang kurang masuk akal di tahun terebut. Hal tersebut adalah bahwa di setiap vaksin ditanamkan semacam chip elektronik berukuran nano yang akan masuk ke dalam tubuh.

Seiring berjalannya waktu, masyarakat mulai kembali beraktivitas seperti biasa. Meskipun ketakutan sudah sedikit memudar, bekas luka dari pandemi tetap membekas dalam ingatan kolektif. Ketika mendengar suara ambulans atau pengumuman kematian lewat masjid, ada rasa trauma yang sulit dijelaskan. Bahkan, hingga hari ini, sebagian warga masih merinding jika mengingat masa-masa itu. Masa di mana nyawa terasa sangat rapuh, dan ketakutan bisa lebih menular daripada virus itu sendiri.

Pandemi telah menjadi cermin bagi ketahanan mental masyarakat. Dalam situasi krisis, ketidaktahuan bisa melahirkan imajinasi yang mengerikan. Tak heran jika muncul cerita tentang ketukan gaib, boneka penangkal roh, hingga chip konspiratif dalam vaksin. Semua itu bukan hanya bentuk pelarian, tetapi juga simbol dari kebutuhan manusia akan penjelasan ketika realita terasa terlalu kejam untuk diterima.

Dalam perspektif lain, saya juga melihat bagaimana masyarakat sebenarnya saling mendukung di tengah keterbatasan. Ada yang berbagi makanan, ada yang saling mengingatkan untuk cuci tangan dan pakai masker, dan ada pula yang menemani tetangganya yang sedang isoman. Di balik cerita-cerita mistis dan teori liar, masih ada sisi kemanusiaan yang bersinar di tengah kegelapan. Cerita ini, meskipun penuh misteri dan nuansa supranatural, bagi saya bukan sekadar kisah horor di tengah pandemi. Ini adalah refleksi sosial tentang bagaimana masyarakat kita merespons ketakutan kolektif. Ketika logika tak mampu memberi rasa aman, maka mitos, kepercayaan lokal, dan narasi-narasi tak kasat mata akan mengambil alih ruang berpikir kita.

Kini ketika saya menulis kisah ini, saya sadar bahwa masa pandemi telah mengajarkan banyak hal. Bukan hanya soal pentingnya menjaga kesehatan, tetapi juga pentingnya menjaga akal sehat. Kita hidup di zaman di mana informasi bisa datang dari mana saja, tapi tidak semua informasi layak dipercaya. Maka, kemampuan memilah dan berpikir kritis menjadi senjata penting agar kita tak hanyut dalam ketakutan semu.

Akhir kata, semoga cerita ini menjadi pengingat bahwa di balik tragedi besar, selalu ada lapisan-lapisan makna yang bisa dipelajari. Entah itu tentang pentingnya empati, pentingnya edukasi, atau pentingnya menjaga nalar tetap waras. Sebab di dunia yang semakin kompleks, rasa takut bisa lebih membunuh daripada penyakit apa pun.(*)

Oleh Bhima Sakti