Oleh Reza Sari Arianti
Halo teman-teman, apakah kalian pernah berkunjung ke candi-candi? Atau kalian pernah dengar yang namanya Candi Mendut?
Nah, di sini aku mau cerita tentang pengalamanku berkunjung ke Candi Mendut yang ada di Magelang. Karena hari liburan semester 1 telah tiba, aku berencana untuk mencari destinasi-destinasi wisata yang dekat dengan rumahku. Aku berdiskusi bersama teman dekatku bernama Lia. Dia itu teman yang sangat menyenangkan karena benar-benar bersemangat kalau diajak ke mana-mana.
Sebenarnya kami sudah menentukan untuk pergi ke Candi Gedong Songo, tapi kata kakakku jalannya itu sangat terjal dan susah dilewati. Karena aku dan temanku ini dua-duanya agak kikuk kalau pakai motor, akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke candi yang lebih dekat, yakni Candi Mendut. Malamnya kami diskusi dulu mau berangkat pukul berapa dan enaknya pakai baju apa.
Hari yang ditunggu-tunggu pun datang. Aku sangat bersemangat karena aku suka sekali dengan sejarah tentang bangunan, apalagi bangunan peninggalan kerajaan zaman dahulu, karena entah mengapa aku seperti tersihir dan bisa merasakan bagaimana zaman dahulu saat masih ada kerajaan-kerajaan kuno. Karena mengingat itu, aku jadi ingat kalau waktu terus berjalan, seperti biasa, kalau cewek itu siap-siapnya lama banget, akhirnya tetap saja molor.
Setelah berjam-jam bersiap, aku pergi menjemput temanku yang rumahnya tidak jauh dari rumahku. Tidak lama setelah itu, kami langsung berangkat. Karena tidak terlalu hafal dengan jalannya, aku menyuruh temanku untuk membuka Maps. Ternyata sudah hampir sampai nih di tempat tujuan. Sebenarnya di jalan kami ini sudah kepanasan, karena sudah tahu kalau hampir sampai rasa panas pun tiba-tiba berubah.
Yeay, sampai juga di tempat wisatanya nih, teman-teman. Walaupun candinya itu tergolong candi kecil jika dibandingkan dengan Candi Borobudur atau Candi Prambanan, tempatnya itu asri banget. Kebetulan memang sedang tidak ramai pengunjung dan itu sangat menyenangkan, bagaikan tempat vip. Tukang parkirnya juga ramah karena kami awalnya bingung mau masuk dari mana. Akhirnya, tukang parkir itu yang membantu.
Kami berjalan sebentar menuju loket pembayaran. Di sepanjang jalan itu banyak sekali pedagang-pedagang yang berjualan kerajinan seperti tas rotan pentungan dari kayu yang dibentuk sebagai berbagai macam hewan. Ada juga yang berjualan pakaian dengan sablon bergambar Candi Mendut. Yang lebih kagetnya lagi, itu ternyata mereka juga berjualan patung Buddha dan lonceng, karena tidak jauh dari Candi Mendut itu terdapat vihara. Aku dan temanku sangat senang, berasa diberi kejutan karena bagusnya lagi vihara itu juga termasuk destinasi wisata dan masuknya pun gratis.
Setelah berjalan menyusuri pedagang-pedagang, kami membayar tiket masuk ke Candi Mendut yang dibandrol seharga Rp 7.000,00 saja. Bisa juga sekalian dengan tiket Candi Pawon yang tidak jauh dari Candi Mendut dengan harga Rp 10.000,00. Memang lebih murah, tetapi aku dan temanku memilih untuk membeli tiket Candi Mendut saja. Oh iya, jika dilihat dari atas Candi Mendut, akan membentuk satu garis lurus dengan Candi Pawon dan titik terakhir berakhir di Candi Borobudur. Kalau aku lihat-lihat di media sosial, banyak para biksu yang berdoa menyusuri Candi Mendut lalu ke Candi Pawon dan tujuan akhirnya di Candi Borobudur.
Nah, kami pun diperbolehkan masuk, tapi harus menggunakan helm keselamatan karena saat sampai di kawasan candi, candinya sedang direkonstruksi. Rekonstruksi ini biasanya memang dilakukan saat musim hujan tiba karena takut fondasi dan struktur candinya tiba-tiba runtuh. Sebelum panas semakin terik karena kami tiba di sana jam 10 siang, kami menyempatkan untuk foto terlebih dahulu dan membuat konten.
Setelah berfoto-foto, kami naik ke atas candi. Walaupun tidak boleh sampai ke tengah-tengah, kami masih bisa menikmati bagaimana rasanya naik ke atas Candi Mendut. Sebenarnya Candi Mendut ini merupakan candi dengan struktur yang kecil dibandingkan dengan megahnya Candi Borobudur. Bahkan Candi Pawon saja lebih kecil dari Candi Mendut. Aku dan temanku sangat bersenang-senang, hampir lupa waktu. Di waktu yang bersamaan, ada turis-turis dari berbagai negara di luar negeri. Jika didengar dari bahasanya, ada yang dari Cina, ada juga yang dari Malaysia.
Ternyata berlama-lama di candi ini juga agak membosankan karena suhunya yang panas dan haus. Seperti yang aku sebutkan tadi, ada vihara dekat sekali dengan kawasan Candi Mendut. Aku memutuskan untuk pergi ke sana dan mengajak temanku. Sebenarnya aku masih ragu apakah aku perlu membayar untuk masuk ke vihara tersebut. Akhirnya aku bertanya kepada salah satu pedagang. Kata pedagang tersebut, vihara ini juga termasuk tempat wisata dan itu gratis. Pedagangnya langsung menyuruh kami masuk.
Pertama kalinya aku masuk ke tempat ibadah agama lain dan langsung membuatku takjub. Saat pertama kali melangkah di depan gerbang, kami langsung dihadapkan dengan patung Buddha dan kereta kencana. Di kanan dan kiri jalan terdapat kolam ikan dengan hiasan bunga teratai yang indah. Pinggirannya terdapat stupa-stupa. Setelah itu, banyak juga tempat duduk yang nyaman. Tidak hanya itu, tempat ibadahnya juga luas, bahkan ada pelataran yang cukup luas.
Aku dan temanku tidak lupa untuk mengabadikan momen itu karena memang baru pertama kali masuk ke sana. Di sana kami tidak sengaja bertemu dengan biksu yang sedang beribadah. Kami sebisa mungkin untuk tidak mengganggu dan tetap menghormati, walaupun tempat itu juga tempat wisata. Aku juga sangat kagum karena tempatnya yang bersih dan rapi. Setelah berlama-lama di vihara, kami memutuskan untuk pulang karena waktu menunjukkan hampir dzuhur.
Di perjalanan, tidak henti-hentinya kami membicarakan Candi Mendut itu karena memang sangat menakjubkan. Kami berencana juga untuk pergi ke Candi Prambanan pada saat libur semester 2 mendatang. Kami juga menabung untuk pergi ke sana karena ingin berswafoto dengan mengenakan kebaya Jawa. Walaupun perjalanannya jauh, akan lebih menyenangkan jika bersama teman.(*)