Wujudkan Pola Hidup Sehat, Mahasiswa KKN UNNES Bangun Arena Olahraga dari Bambu dan Bahan Daur Ulang di Desa Depok demi Mendukung SDGs 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera)

Gambar 1: Fasilitas olahraga terpadu dari bambu dan bahan daur ulang hasil karya mahasiswa KKN UNNES Giat 16 di Desa Depok yang siap digunakan

BANJARNEGARA — Dalam upaya meningkatkan kesadaran akan pentingnya aktivitas fisik dan kesehatan masyarakat, serta mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) Poin 3, yakni Kehidupan Sehat dan Sejahtera, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Negeri Semarang (UNNES) Giat 16 yang bertugas di Desa Depok, Kecamatan Bawang, Kabupaten Banjarnegara merealisasikan program kerja PESAT (Pengelolaan Sarana Olahraga Terpadu).

Sebelumnya, masyarakat dan siswa di Desa Depok menghadapi keterbatasan fasilitas olahraga luar ruangan yang memadai. Merespons kondisi tersebut, Program PESAT hadir dengan tujuan untuk menyediakan fasilitas olahraga yang inklusif, murah, dan ramah lingkungan.

Proses pembuatan sarana olahraga ini dilaksanakan selama lima hari, mulai tanggal 20 hingga 24 Juli 2026, berlokasi di area belakang SD Negeri 1 Depok. Kegiatan ini dibimbing langsung dan didukung penuh oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Dr. Asep Purwo Yudi Utomo, M.Pd. Adapun tim mahasiswa pelaksana terdiri dari Yusuf Toro selaku Koordinator Utama Program PESAT, beserta anggota kelompok KKN UNNES Giat 16 Desa Depok.

Gambar 2: Mahasiswa KKN UNNES sedang merakit tangga ketangkasan (agility ladder) secara manual menggunakan material bambu dan tali.

Pembuatan arena olahraga ini memanfaatkan sumber daya lokal dan material daur ulang. Pada tahap awal pengerjaan, tim mahasiswa melakukan penebangan bambu secara mandiri dan melakukan perencanaan rintangan latihan yang dibuat seperti tiang pull-up, tiang dips, tangga ketangkasan (ladder), serta ban bekas sebagai hiasan di area latihan.

Untuk memastikan kekuatan dan ketahanan struktur, bambu ditanam pada lubang yang telah disiapkan dan diperkuat menggunakan batu alam. Tak hanya bambu, pemanfaatan limbah besi juga dioptimalkan sebagai gagang tiang pull-up. Pengerjaan fisik ini dilakukan secara manual menggunakan peralatan tradisional seperti linggis, parang, celurit, dan gergaji.

“Melalui PESAT, kami ingin menghadirkan fasilitas olahraga yang terjangkau namun fungsional bagi warga. Pemanfaatan bambu dan bahan bekas ini bukti bahwa keterbatasan modal bukan halangan untuk berinovasi,” ujar Yusuf Toro, Koordinator Program PESAT KKN UNNES.

Gambar 3: Proses gotong royong mahasiswa saat mendirikan dan menanam tiang bambu utama untuk kerangka fasilitas olahraga.

Program ini mendapat sambutan hangat dari pihak penerima manfaat. Kepala SD Negeri 1 Depok sangat mengapresiasi inovasi mahasiswa KKN ini. Kehadiran arena olahraga ini diharapkan dapat menjadi wadah positif bagi anak-anak sekolah dan remaja desa untuk menyalurkan energi secara produktif melalui permainan ketangkasan maupun olahraga kalistenik (olahraga yang memanfaatkan berat tubuh sebagai beban latihan).

Rangkaian kegiatan ini diakhiri dengan penyerahan pengelolaan fasilitas olahraga secara resmi kepada pihak SD Negeri 1 Depok dan perangkat desa setempat. Melalui rangkaian inovasi ini, mahasiswa KKN UNNES berharap dapat memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi kesehatan dan keharmonisan sosial masyarakat lokal.