Atasi Kecemasan Matematikamu

Oleh Atikah Azhar Syarif (Pendidikan Matematika UNNES)

Bagi banyak siswa, matematika lebih dari sekedar mata pelajaran; matematika adalah ketakutan. Dari kegugupan sebelum ujian hingga keengganan untuk sekedar bersinggungan dengan masalah hitungan, kecemasan matematika (mathematics anxiety) telah menjadi fenomena nyata dan sering kali menghambat perkembangan belajar seseorang. Tapi, sebenarnya, mengapa ketakutan ini muncul? Dan, yang utama, bagaimana kita dapat mengatasinya?

Kecemasan atau dalam Bahasa Inggrisnya “anxiety” berasal dari Bahasa Latin “angustus” yang berarti kaku, dan “ango, anci” yang berarti mencekik. Kecemasan merupakan pengalaman pribadi yang berhubungan dengan ketegangan mental yang membuat ketidaknyamanan, yang sering kali muncul sebagai reaksi umum terhadap kesulitan dalam mengatasi masalah atau rasa keamanan yang terganggu. Kecemasan matematika dapat digambarkan dan didefinisikan sebagai bentuk perasaan seseorang baik berupa perasaan takut, tegang, maupun cemas dalam menghadapi persoalan matematika atau dalam melaksanakan pembelajaran matematika dengan berbagai bentuk gejala yang ditimbulkan.

Studi yang dilakukan oleh Siti Umaroh dkk. (2020) tentang tingkat kecemasan matematika siswa di salah satu SMPN di Banten menunjukkan ada sebanyak 34% siswa memiliki tingkat kecemasan matematika yang tinggi. Kecemasan dengan intensitas yang wajar dapat dianggap memiliki nilai positif sebagai motivasi belajar. 

Apabila intensitasnya sangat kuat dan bersifat negatif justru akan menimbulkan kerugian dan dapat mengganggu dalam proses belajar, yang tentunya akan berdampak pada hasil atau prestasi belajar siswa. Survei PISA tahun 2022 menunjukkan bahwa skor rata-rata kemampuan literasi matematika pelajar Indonesia hanya mencapai 366 poin terpaut 106 poin dari skor rata-rata global. Capaian ini menunjukkan kurangnya keterampilan siswa dalam menyelesaikan permasalahan matematika yang salah satu faktornya adalah tingkat kecemasan matematika siswa. 

Sebenarnya kenapa seseorang bisa mengalami mathematics anxiety? Well, ada beberapa faktor seseorang bisa mengalami mathematics anxiety. Pengalaman siswa pada saat kesulitan menyelesaikan permasalahan matematika bisa jadi salah satu faktor internal yang menyebabkan siswa memiliki kecemasan matematika. Faktor eksternal yang dapat menyebabkan kecemasan matematika antara lain iklim pembelajaran yang tidak kondusif, sikap dan perilaku guru yang kurang bersahabat, rendahnya kemampuan guru dalam menyampaikan materi matematika, matematika yang memiliki banyak rumus, hingga harapan dan ekspektasi dari keluarga. Beberapa faktor tersebut dapat menjadikan siswa berpandangan bahwa matematika itu sulit dan menakutkan yang tentunya pemikiran ini dapat menumbuhkan kecemasan matematika dalam diri siswa tersebut.

Apabila kecemasan matematika telah mencapai pada tingkat yang mengganggu dan berdampak negatif pada prestasi belajar tentu siswa harus mampu mengatasinya. Siswa dapat memulainya dengan meningkatkan self-efficacy (keyakinan atau penilaian diri) terhadap kemampuan matematis yang dimilikinya. Self-efficacy dapat menuntun siswa untuk menemukan solusi dan bersikap positif dalam menghadapi permasalahan matematika. Siswa dengan self-efficacy yang tinggi lebih bersemangat serta ulet dalam mengambil tindakan secara tepat. Sebaliknya, siswa dengan self-efficacy yang rendah lebih mudah putus asa, menyerah, dan menghindari tugas yang sering dihadapi. Siswa juga perlu menumbuhkan growth mindset. Growth mindset dapat membantu siswa mengatasi kecemasan yang berkaitan dengan performa dan berpotensi mengurangi dampak negatifnya. Hasil PISA (2022) menunjukkan bahwa siswa yang memiliki growth mindset memiliki kecemasan matematika yang lebih rendah dibandingkan dengan siswa yang memiliki fixed mindset

Kecemasan matematika biasanya muncul karena ketakutan ketika menghadapi kesulitan pada saat menyelesaikan permasalahan matematika. Mempersiapkan diri sebaik mungkin dengan mempelajari materi sebelum diajarkan di kelas, berlatih soal-soal matematika, dan memahami konsep matematika dapat membuat siswa lebih siap ketika dihadapkan dengan permasalahan matematika yang lebih rumit. Siswa perlu menemukan gaya belajar yang sesuai agar dapat mempercepat proses kognitifnya dalam belajar. Gaya belajar visual, auditori, read/write, dan kinestetik memiliki pendekatan yang berbeda sehingga ketidaktahuan mengenai gaya belajar yang tepat dapat menghambat siswa dalam memahami materi yang selanjutnya mengantarkan pada kecemasan matematika.

Bagi pendidik, masalah kecemasan matematika siswa harus mendapatkan perhatian khusus. Pendidik harus mampu mengembangkan model pembelajaran yang inovatif dan menyenangkan yang dapat mengurangi tingkat kecemasan matematika siswa. Hal tersebut juga akan memudahkan siswa memahami pelajaran, melibatkan partisipasi siswa dalam kelas, dan meningkatkan kemampuan siswa. Selain itu, lingkungan yang mendukung untuk belajar akan sangat membantu siswa untuk menerima pelajaran. Orang tua yang suportif, teman/ kelompok belajar yang sesuai, pendidik yang dapat menjadi fasilitator bagi siswa, dan lingkungan sekolah yang mendukung kegiatan belajar mengajar akan membantu siswa mengurangi kecemasan dalam belajar dan meningkatkan kemampuan siswa.

Kecemasan merupakan suatu yang wajar dimiliki oleh setiap orang. Kecemasan matematika pada tingkat yang rendah dapat mendorong siswa belajar dalam bentuk motivasi belajar. Pada tingkat yang lebih tinggi, kecemasan matematika dapat mengganggu proses belajar dan prestasi belajar. Ketika siswa mengalami kesulitan dalam menerima materi matematika dan menyelesaikan permasalahan matematika akan memunculkan perasaan cemas dan takut pada saat berinteraksi dengan matematika. Kecemasan matematika dapat dikontrol oleh diri sendiri dengan meningkatkan self-efficacy, menumbuhkan growth mindset, melakukan belajar mandiri sesuai dengan gaya belajar. Penggunaan metode pembelajaran dan lingkungan yang mendukung juga dapat mengurangi kecemasan matematika. (*)