“Sapa Nandur Bakal Ngundhuh” dalam Media Digital Sastra Wayang

Pengabdian kepada Masyarakat FBS UNNES  

Gempar. Kayangan Jonggring Saloka bergetar oleh ulah seorang raksasa mandraguna. Tak ada satu pun dari para dewa sanggup melawannya. Bathara Guru lantas mengutus Bathara Narada untuk meminta bantuan kepada Pandawa. Turunlah ia ke bumi untuk mencari Arjuna, ksatria penengah pandawa untuk menjadi ‘jago’ para dewa. Cerita ini terungkap dari penuturan sang dalang Ki Seno Nugroho melalui dialog tokoh Bagong yang bercerita kepada Wisanggeni. Inilah sepenggal kisah dari channel youtube Ki Seno Nugroho yang dapat dijadikan bahan ajar pembelajaran bahasa pewayangan kepada para guru bahasa Jawa SMA di Kota Semarang. Selama ini, pembelajaran bahasa pewayangan selalu dihindari oleh para guru. “Jangankan siswa, saya saja harus memerhatikan secara seksama agar mengerti tuturan di dalam pakeliran wayang,” kata seorang guru SMA di dalam sebuah workshop bertajuk Pengembangan Media Digital Pembelajaran Sastra Wayang Di Kota Semarang pada hari Kamis, 11 Juli 2024 di Aula SMA 1 Semarang.

Pelatihan pengembangan media digital sastra wayang memiliki peranan penting. Acara ini sangat penting sebagai wujud sinergitas MGMP Bahasa Jawa SMA Kota Semarang dengan tim pengabdian Fakultas Bahasa & Seni UNNES yang dilaksanakan oleh Dr. Yusro Edy Nugroho, M.Hum., Sungging Widagdo, S.Pd., M.Pd., dan Dr. Asep Purwo Yudi Utomo, M.Pd.  Acara ini merupakan wujud pengabdian kepada masyarakat sebagai salah sebuah pilar perguruan tinggi. Melalui program pelatihan tersebut, para guru bahasa Jawa SMA di Kota Semarang diharapkan dapat mengoptimalkan pembelajaran bahasa Jawa kepada generasi masa kini yang akrab dengan dunia digital. Selain itu, kemampuan guru terhadap adaptasi dunia digital dapat ditingkatkan. Dengan demikian, konten pembelajaran wayang yang terkesan kuno dapat tereliminasi dengan sajian media pembelajaran yang modern.

Wayang memiliki nilai-nilai didaktis yang adi luhung jika mampu diimplementasikan. Gambaran nilai-nilai kehidupan di dalam setiap kisah yang disajikan dapat menjadi tuntunan hidup seseorang. Karakter di dalam tokoh wayang merupakan cerminan karakter setiap orang. Sebagaimana karakter Bagong yang merepresentasikan rakyat jelata, selalu ditampilkan apa adanya, lugas, dan tedheng aling-aling dalam menyuarakan kepentingan rakyat. Terdapat kebijaksanaan hidup yang tersajikan di dalam setiap lakon pewayangan. Selalu terdapat gesekan antara entitas satu dengan entitas lain dan cara penyelesaian masalah kehidupan. Seorang tokoh wayang mampu menyelesaikan misi dan menghadirkan solusi atas masalah yang dihadapi dengan baik. Ajaran tentang nilai kebaikan dan nilai keburukan juga tersajikan dengan landasan dan argumen yang jelas. Konsep sapa nandur bakal ngundhuh terekam jelas di dalam setiap lakon pewayangan yang tersajikan. Inilah nilai-nilai didaktis yang dapat disajikan kepada para siswa di dalam pelajaran bahasa Jawa melalui materi bahasa pewayangan.

Dr. Yusro Edi Nugroho memaparkan bahwa bahasa pewayangan memang terkesan sulit dipahami. Namun, itu hanyalah kesan yang belum tentu benar. Melalui pelatihan pengembangan media digital sastra wayang, diberikan trik dan tips sehingga siswa dan guru dapat memahami dengan mudah bahasa pewayangan. Selain itu, melalui media digital sastra pewayangan, guru dapat memberikan materi penerapan unggah-ungguh bahasa Jawa melalui dialog antar tokoh wayang. “Diharapkan dengan adanya program pelatihan tersebut dapat menambah kapasitas para guru bahasa Jawa SMA di Kota Semarang dalam mengajarkan bahasa Jawa,” tuturan Dr. Lucia Yuyun Dian Susanti, M.Pd., Ketua MGMP Bahasa Jawa SMA Kota Semarang.