Terdapat sebuah perumahan di daerah Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat yang memiliki cerita mitos turun-temurun. Dahulu kala, sebelum dibangun menjadi perumahan, warga sekitar mengatakan bahwa tanah tersebut adalah tempat pembuangan jenazah para penjajah Belanda. Terdapat mitos lain yang sampai saat ini masih menjadi perbincangan warga sekitar, yaitu berita mengenai tanah tersebut yang dulunya menjadi tempat pembuangan bayi yang dilahirkan dari hubungan dengan makhluk halus atau jin.
Karena adanya mitos-mitos tersebut, muncul berbagai cerita mistis yang dialami oleh warga sekitar mengenai lokasi tersebut. Mulai dari melihat seorang wanita cantik yang berpenampilan seperti ratu, namun bagian bawah tubuhnya tidak berbentuk layaknya manusia, hingga wanita dengan pakaian serba putih yang berkeliaran dengan cara terbang sekitar jam dua dini hari.
Pak Rahmat, yang sudah menetap di perumahan tersebut sejak tahun 2005, mengatakan bahwa hal mistis tersebut pernah dialaminya. Ia berkata, “Dulu, awal-awal saya tinggal di sini, saya sering kali melihat sosok wanita sangat cantik dengan pakaian seperti ratu, tetapi tidak ada kakinya dan di belakangnya seperti ada gerbang kerajaan.”
Pak Rahmat melihat hal tersebut tidak hanya sekali atau dua kali, tetapi berulang hampir setiap hari dalam kondisi yang sangat sepi di waktu menjelang malam hari sampai menjelang pagi hari. “Ketika saya duduk di depan rumah jam dua pagi, ada sosok perempuan terbang menggunakan baju warna putih diiringi suara ketawa yang cukup keras. Dan itu tidak hanya saya yang mengalami, tetapi tetangga lain juga.”
Setiap pagi hari, ketika Pak Rahmat berbincang dengan tetangga sekitar, ia selalu mendapatkan cerita-cerita mistis yang dialami warga sekitar dengan sosok yang sama seperti yang ia lihat.
Di tahun 2012, cerita-cerita tersebut mulai menyebar setelah rumah kosong di samping tanah tersebut mulai ditempati. Pemilik rumah, Bu Ella, mengatakan, “Kadang kalau sudah waktunya magrib, suka ada sosok wanita di bawah pohon pisang, dan kalo sudah tengah malam seperti ada yang ketawa.”
Pohon pisang yang dimaksud Bu Ella adalah pohon pisang miliknya yang berada di pekarangan rumahnya. Gangguan-gangguan dari makhluk halus terus berlanjut meneror orang-orang yang menempati rumah tersebut hingga mengalami kerasukan. Warga sekitar pun tak jarang yang melihat sosok dengan balutan kain putih yang berdiri di dekat rumah tersebut.
Ketika saudara saya sedang berkunjung ke rumah saya, ia mengalami hal serupa yang pernah dialami oleh Pak Rahmat. Malam hari, saudara saya berniat untuk merokok di dekat rumah Bu Ella, karena kondisinya yang sepi dan dirasa cocok untuk menyendiri. Pandangan matanya beredar ke berbagai arah dengan penasaran dan menelisik setiap tempat yang terlihat. Pandangannya tertuju pada satu tempat yang memunculkan sosok wanita cantik seperti putri kerajaan. Karena saudara saya penasaran, ia menghampiri sosok yang dilihatnya. Namun, tidak lama ia menghentikan langkahnya dan menyadari terdapat juga gerbang kerajaan di belakang sosok wanita tersebut dan wujud sosok wanita itu juga aneh.
Keesokan harinya, saudara saya mencoba menceritakan hal yang dialaminya kepada orang tua saya. Warga mengetahui hal yang dialami oleh saudara saya, sehingga mereka mulai merasa terganggu dengan kejadian-kejadian mistis yang tidak hanya dialami oleh warga sekitar, tetapi juga dialami oleh orang-orang yang bertamu. Hingga mereka menggelar acara doa bersama yang diharapkan dapat meredakan kejadian mistis yang terjadi di sekitar mereka.
Sekitar satu bulan setelah acara doa bersama, kejadian serupa kembali terjadi yang membuat masyarakat kembali berupaya untuk melakukan berbagai cara agar kejadian tersebut mereda. Masyarakat kembali menggelar acara doa bersama rutin setiap hari Kamis malam. Bahkan, rumah Bu Ella yang sering mengalami kejadian mistis dan diganggu oleh makhluk-makhluk halus pun ikut menggelar acara doa bersama yang rutin dilaksanakan pada hari Kamis malam atau Sabtu malam.
Semenjak diadakannya doa bersama rutin oleh Bu Ella dan warga sekitar, kejadian tersebut belum benar-benar mereda, karena sosok-sosok tersebut tidak lagi hanya dilihat oleh orang dewasa saja, tetapi ada anak kecil yang pernah melihat sosok tersebut juga. Orang tua mulai ketakutan karena kejadian tersebut juga dialami oleh anak kecil, mereka jadi melarang anaknya untuk bermain di malam hari. Tidak hanya itu, mereka pun enggan untuk berkunjung ke rumah Bu Ella pada malam hari.
Warga setempat semakin gencar dan lebih rajin dalam melaksanakan doa bersama untuk tempat tersebut. Setelahnya, warga juga mencoba untuk meredam cerita-cerita mistis tersebut agar tidak disebarluaskan lagi dan mencoba mulai terbiasa dengan kejadian-kejadian serupa. Hal tersebut dilakukan agar warga sekitar dapat beraktivitas kapan pun tanpa dihantui dengan rasa takut dan mulai terbiasa dengan kejadian mistis, karena sejatinya hidup di dunia akan terus berdampingan dengan dua alam yang berbeda. Selagi warga tidak mengganggu dan mereka ingin menampakkan wujud tetapi tidak mengganggu warga, akan dianggap menjadi hal yang biasa saja.
Saat ini, tahun 2025, perumahan tersebut sudah jarang sekali terdengar kejadian-kejadian mistis yang terjadi. Pak Rahmat sudah pindah dari perumahan tersebut karena urusan pekerjaan, sedangkan Bu Ella memilih menetap di perumahan tersebut dengan rumah barunya dan rumah lamanya dijual. Dan saya pun memilih menetap di perumahan tersebut dengan pengalaman-pengalaman mistis yang sudah pernah dialami. Perumahan tersebut pun kini mulai ramai dikenal dan sudah padat ditempati. Walaupun cerita-cerita kejadian di masa lalu masih sering terdengar, tetapi kini hal serupa hampir tidak pernah terjadi lagi.
Cerita ini menjadi pengingat bahwa setiap tempat memiliki sejarah dan kisahnya masing-masing. Mitos dan pengalaman mistis yang dialami oleh warga sekitar bukan hanya sekadar cerita, tetapi juga bagian dari budaya dan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Masyarakat di perumahan tersebut kini berusaha untuk hidup berdampingan dengan kepercayaan dan pengalaman mistis yang ada, sambil tetap menjalani kehidupan sehari-hari dengan penuh harapan dan keberanian. Semoga kisah ini dapat menjadi inspirasi bagi kita semua untuk menghargai dan memahami warisan budaya yang ada di sekitar kita. Setelah semua peristiwa di masa lalu yang telah terjadi, semua orang yang mendengar cerita tersebut tidak benar-benar mempercayai hal seperti itu. Semua itu hanyalah cerita, kebenarannya hanya Tuhan yang tahu. Saya tidak memaksakan apa yang saya percaya untuk kalian percaya, saya hanya ingin berbagi cerita.(*)
Oleh Syiva Aulia Rahmah