Di sebuah desa bernama Tamansari, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, terdapat sebuah sumber mata air yang hingga kini tak pernah kering, bahkan di musim kemarau panjang. Tempat itu dikenal dengan nama Sendang Sani. Selain menjadi objek wisata dan sumber kehidupan masyarakat sekitar, Sendang Sani menyimpan kisah legendaris yang sudah turun-temurun dipercaya sebagai peninggalan salah satu Wali Songo, yakni Sunan Bonang.
Konon, pada masa penyebaran agama Islam di tanah Jawa, Sunan Bonang sering melakukan perjalanan dakwah dari satu daerah ke daerah lain. Dalam salah satu perjalanannya menuju Gunung Muria, beliau ditemani oleh dua orang murid setianya, yaitu Ki Dudo dan Ki Kosim (dalam versi lain disebut Ki Ahmad). Mereka berjalan kaki melewati hutan dan perbukitan di wilayah Pati yang kala itu masih sepi dan belum banyak penduduknya.
Setelah menempuh perjalanan jauh, tibalah waktu salat Zuhur. Namun, di tengah teriknya matahari dan lelahnya perjalanan, mereka tidak menemukan sumber air sedikit pun untuk berwudhu maupun untuk minum. Tanah di sekitar mereka gersang dan kering. Melihat kondisi itu, Sunan Bonang kemudian memerintahkan murid-muridnya untuk mencari air.
Dia berkata, “Carilah sumber air di bawah pohon besar itu. Tancapkan tongkat ini ke tanah dan dengan izin Allah, air akan keluar dari bumi.”
Kedua murid itu pun bergegas menjalankan perintah gurunya. Dengan penuh keyakinan, mereka menancapkan tongkat Sunan Bonang di tanah di bawah pohon yang rindang. Tak lama kemudian, ajaib! Dari tempat tongkat itu ditancapkan, muncul mata air yang jernih dan segar. Airnya mengalir deras hingga membentuk sebuah kolam alami. Melihat keajaiban itu, mereka pun bersyukur dan segera mengambil air untuk wudu.
Namun, di balik keajaiban itu, muncul kisah tragis yang membuat tempat ini semakin melegenda. Salah satu murid Sunan Bonang yang bernama Ki Dudo (menurut versi masyarakat setempat) terlalu senang melihat air yang melimpah. Ia tidak hanya mengambil air secukupnya untuk wudhu, melainkan juga mandi, bermain air, dan bahkan meminum air sendang dengan berlebihan. Ia lupa pada adab dan perintah gurunya.
Melihat tingkah muridnya, Sunan Bonang merasa kecewa. Dengan nada tegas, beliau menegur, “Wahai muridku, engkau telah berlaku seperti bulus (kura-kura), lebih senang berendam di air daripada menjalankan kewajibanmu.”
Konon, ucapan itu bukan sekadar perumpamaan. Karena kesalahan dan kelalaiannya, Ki Dudo seketika berubah menjadi seekor bulus, hewan yang hidup di air dan sesekali muncul ke permukaan. Sejak saat itu, bulus tersebut tinggal di dalam sendang dan tidak pernah keluar lagi. Masyarakat percaya, bulus yang hidup di dalam Sendang Sani hingga kini adalah jelmaan murid Sunan Bonang yang dikutuk menjadi hewan tersebut.
Sejak peristiwa itu, Sunan Bonang menamai tempat itu sebagai “Sendang Sani”. Nama “Sani” diyakini berasal dari kata “Sisani”, yang berarti “bekas” atau “peninggalan”. Dengan demikian, “Sendang Sani” dapat diartikan sebagai “sendang peninggalan Sunan” — tempat yang menjadi saksi keajaiban sekaligus pelajaran berharga bagi para muridnya.
Selain kisah murid yang menjadi bulus, masyarakat juga mempercayai bahwa air Sendang Sani memiliki banyak manfaat dan berkah. Banyak orang datang untuk mengambil airnya karena dipercaya bisa menyembuhkan penyakit, membawa keberkahan, dan melancarkan rezeki. Walau begitu, sebagian besar masyarakat hanya memanfaatkan air itu dengan penuh hormat tanpa menyalahgunakan kepercayaan yang sudah lama ada.
Hingga kini, Sendang Sani tetap terjaga dan menjadi kebanggaan warga Desa Tamansari. Di sekitar sendang, suasananya masih asri, dengan pepohonan rindang dan udara yang sejuk. Di dalam sendang itu pun masih sering terlihat bulus besar yang dipercaya sebagai penjelmaan murid Sunan Bonang tadi. Meskipun tidak selalu muncul, banyak pengunjung yang merasa beruntung jika berhasil melihat hewan itu naik ke permukaan.
Selain nilai spiritual dan kisah legendarisnya, masyarakat setempat juga menjaga tradisi budaya yang berkaitan dengan Sendang Sani. Setiap tahun, mereka mengadakan acara “Tradisi Sendang Sani”, berupa ziarah, doa bersama, dan kenduri sebagai bentuk rasa syukur atas berkah air yang tidak pernah habis. Biasanya, acara itu diadakan pada bulan Rabiul Awal, bertepatan dengan peringatan kelahiran Nabi Muhammad saw.
Kini, Sendang Sani tidak hanya dikenal sebagai tempat bersejarah dan spiritual, tetapi juga sebagai objek wisata religi dan alam di Kabupaten Pati. Banyak wisatawan datang untuk menikmati kesejukan alamnya, mendengar cerita rakyatnya, dan merasakan suasana damai di tempat yang dipercaya sebagai salah satu jejak dakwah Walisongo di tanah Jawa.(*)
Oleh Allicia Putri Heru