Tantangan Berkesan ke Puncak Rajawali


FEATURE- Menggapai puncak adalah suatu pencapaian tersendiri bagi beberapa orang, tidak ada yang salah tentang hal itu. Tapi bagi saya sendiri puncak hanyalah sebagai bonus dalam sebuah perjalanan. Perjalanan mencapai tempat tujuan, perjalanan dengan menahan lapar dan lelah, canda tawa diselingan istirahat. Hal hal itulah yang justru aku rindukan, Karena sejatinya, perjalanan adalah sebuah pelajaran untuk mengukir kenangan.

Temanggung, Jawa Tengah, Pada tanggal 26 Oktober 2024, lima pendaki muda, termasuk saya sendiri Rafly Akbar Anggara (19), melakukan pendakian ke Gunung Sumbing melalui jalur yang cukup ekstrem yaitu jalur Sumbing via Banaran. Pendakian yang dimulai pada pukul 10.00 WIB ini dilalui oleh saya empat rekan lainnya: M Jidan Pratama, Ijal (Zale), Mang Deden, dan Bang Dika. Dengan total empat pos yang harus dilalui sebelum mencapai puncak, jalur ini terbukti menantang bahkan bagi pendaki berpengalaman.

Jalur pendakian Gunung Sumbing sebenarnya ada banyak, tetapi yang paling terkenal adalah jalur Garung dan Banaran. Jalur Garung dikenal lebih pendek dan relatif lebih mudah dibandingkan jalur Banaran, yang membutuhkan waktu lebih lama. Jalur Sumbing via Banaran dikenal sebagai East Route Sumbing, dan di kenal dengan jalurnya yang ekstrem serta panjang di banding jalur lainnya, tidak direkomendasikan bagi pemula karena medannya yang curam dan berbatu. Kendati menantang, jalur ini menawarkan keindahan alam yang luar biasa setelah melewati Pos 1 sampai Pos 3. Terdapat tempat ikonik yang menjadi salah satu tujuan para pendaki memilih jalur sumbing via banaran ini, yaitu sabana luas nan indah yang dijuluki sebagai “Jurassic Park Indonesia”, Segoro  Banjaran yang terletak pada ketinggian 3.180 meter diatas permukaan laut (MDPL).

Pendakian dimulai dari Pos 0, yang dapat dicapai dengan ojek seharga Rp 20.000, sebelum akhirnya berjalan kaki menuju empat pos lainnya yang menjadi titik istirahat sekaligus tantangan tersendiri di setiap tanjakan. Kontur pendakian dari Pos 1 sampai Pos 3 adalah tangga bebatuan dan akar kayu dengan vegetasi hutang yang masih sangat rapat.

Selain itu juga terdapat mata air yang amat segar sekali setelah kita melewati Pos 4, namun sebelum Pos 4 terdapat batuan setinggi ± 10 meter dengan kemiringan ± 80°, kemiringan ini mengharuskan kita menggunakan tali dan rantai untuk membantu melewati batu tersebut, ini menjadi kesulitan tersendiri karena fisik yang sudah lelah dan rasa lapar yang sudah mulai datang, karena biasanya para pendaki memilih untuk memasak sekaligus camp di Pos 4, yang sudah tidak terlalu jauh dari puncak gunung sumbing.

Setelah melalui medan yang berat menuju Pos 4 sebagai tempat camp, kami memutuskan untuk makan dan beristirahat sebelum menggapai puncak esok dini hari, namum sayangnya di sepanjang malam kami di ganggu oleh suara berisik mencabik-cabik plastik dan makanan sisa, ya ia adalah “Bagas” atau babi ganas, kami cukup khawatir dengan tenda yang sangat dekat dengan sumber suara, dan si “Bagas” kerap mendekat juga ke tenda kami. Membuat kami kesulitan untuk tidur. Alhasil kami kesiangan. Yang seharusnya menggapai puncak pukul 3 dini hari menjadi molor ke jam 7 pagi, setelahnya kami memasak sarapan dan mulai bergerak menuju pos air diatas Pos 4, “Segar kali lah, memang beda ya air yang tak terkontaminasi campuran apapun” ucap bang dika. Setelah mengambil air kami melanjutkan perjalanan yang cukup panjang dan menguras tenaga. Tapi kami sangat bersyukur, sebelumnya pihak basecamp sudah bilang kalau 2 harian lalu hujan deras di wilayah basecamp. Tapi hari itu saat kita menuju Pos 4 dan menuju puncak, cuaca sangat cerah, langit biru menemani dari awal hingga akhir perjalanan menuju puncak. Sebelum puncak kita di suguhkan oleh keindahan “Jurassic Park Indonesia”, ya segoro banjaran, sabana yang amat luas di ketinggian yang amat tinggi, dengan udara yang dingin dan langit yang biru, menjadikan Segoro Banjaran menjadi tempat favorit saya selama mendaki ke gunung sumbing ini. 

Setelah berfoto-foto saya dan ke-empat rekan melanjukan perjalanan menuju puncak yang paling tinggi di gunung sumbing, Puncak Rajawali. Jarak tempuh dari Segoro Banjaran kurang lebih sekitar 1,5 jam dengan jalur yang sudah landai dan ada beberapa tanjakan tapi tidak separah dari Pos 1 menuju Pos 4. Setelah berjalan cukup lama dengan di temani teriknya matahari dan dinginnya udara, kami akhirnya berhasil mencapai Puncak Rajawali, puncak tertinggi di Gunung Sumbing, dengan ketinggian 3371 meter diatas permukaan laut (MDPL). pada tanggal 27 Oktober 2024 pukul 11 siang WIB. Dari atas puncak, kita dapat melihat pemandangan luar biasa dari Gunung Sindoro dan lautan awan, kawah berbau belerang, serta beberapa lokasi ikonik lainnya, seperti Segoro Banjaran, Segoro Wedi, Puncak Sejati dan Puncak Buntu.

Menurut saya, pengalaman mendaki jalur Banaran sangat berkesan, dengan tantangan fisik dan mental yang berbanding lurus dengan kepuasan menikmati keindahan alam di puncak. Bagi pendaki yang mencari pengalaman pendakian ekstrem sekaligus keindahan alam yang menakjubkan, jalur Sumbing via Banaran adalah pilihan yang tak terlupakan. (Rafly Akbar Anggara, Teknik Komputer UNNES)