Kita tentu sudah mengetahui banyaknya pulau di Indonesia, dan setiap pulau tersebut
memiliki makanan tradisional yang khas dengan beragam bumbu rempah. Mulai dari makanan
berat pendamping nasi hingga jajanan tradisional, masing-masing menonjolkan ciri unik yang
berbeda. Misalnya, Pulau Jawa dikenal dengan kulinernya yang beragam, seperti rawon, gudeg,
nasi tumpeng, dan hidangan lainnya. Selain itu, Indonesia juga memiliki jajanan khas dari
berbagai daerah, yang mencerminkan keunikan dan ciri khas tersendiri sebagai ikon bagi
masing-masing wilayah. Ketersediaan bahan-bahan alam yang melimpah memudahkan
masyarakat untuk mengolah dan menciptakan berbagai jajanan. Jajanan tradisional bukan
hanya sekadar makanan ringan, tetapi juga merupakan bagian penting dari budaya dan kearifan lokal. Setiap jajanan menyimpan cerita dan nilai-nilai budaya yang telah diwariskan turun-
temurun, yang memungkinkan kita untuk belajar tentang sejarah, tradisi, dan kearifan lokal suatu daerah. Melalui jajanan tradisional, kita dapat melihat kreativitas dan ketekunan masyarakat Indonesia dalam memanfaatkan bahan-bahan lokal untuk menciptakan hidangan yang lezat dan unik. Jajanan ini tidak hanya menggugah selera, tetapi juga menjadi simbol kekayaan budaya yang patut dilestarikan.
Namun, sekarang pembuat jajanan tradisional sudah jarang ditemukan. Hal ini didasari
oleh rendahnya minat Gen Z untuk mempelajari dan melestarikan ilmu pembuatan jajanan
tersebut. Melestarikan jajanan tradisional bukan sekadar mempertahankan makanan,
melainkan juga sebuah upaya untuk menjaga warisan rempah-rempah serta kekayaan alam
Indonesia yang telah diturunkan oleh nenek moyang dari generasi ke generasi. Gen Z
cenderung terjebak dalam mindset “segala sesuatu instan dan cepat”, sementara proses
pembuatan jajanan tradisional perlu banyak waktu serta usaha yang lebih jika dibandingkan
dengan makanan modern. Inilah yang membedakan jajanan tradisional dengan jajanan modern.
Di era digital saat ini, penampilan jajanan menjadi sangat krusial. Jajanan tradisional yang
disajikan dengan cara sederhana sering kali kalah menarik dibandingkan jajanan modern yang
disajikan secara kreatif dan fotogenik. Gen Z cenderung memilih jajanan yang tidak hanya
enak, tetapi juga menarik secara visual untuk dipamerkan di media sosial. Selain itu, pengaruh
media sosial dan internet sangat signifikan dalam memperkenalkan cara memasak
internasional yang sering kali lebih cantik dan “Instagramable” dibandingkan memasak
tradisional. Sebagian orang menganggap jajanan tradisional “kuno” dan “kurang menarik”,
padahal di beberapa daerah, jajanan tradisional justru sulit ditemukan. Hal ini menyebabkan
Gen Z kesulitan untuk mengenali jajanan tradisional. Banyak dari mereka yang belum familiar
dengan jajanan tradisional sehingga enggan mencobanya, dan kebanyakan dari mereka belum
mengetahui sejarah, nilai budaya, dan manfaat dari jajanan tersebut.
Meskipun akses informasi mudah dijangkau, tidak semua Gen Z mau mencari informasi
untuk mengenal dan merasakan jajanan tradisional. Kurangnya pengenalan dan pengetahuan
terhadap sejarah, produksi, dan praktik budaya jajanan tradisional, membuat mereka kurang
berminat untuk mencobanya. Berbagai fakta menunjukkan terdapat kekurangan pemahaman
terhadap budaya dan kekayaan jajanan tradisional. Hal ini terlihat dari cara meracik dan
memodifikasi, serta ketidaktahuan mengenai bahan baku yang digunakan dalam pembuatan.
Sering kali, bahan baku yang sudah ada digantikan dengan bahan baku yang baru. Contohnya,
dalam pembuatan jajanan “wajik,” penggunaan santan kelapa asli diganti dengan santan instan.
Penambahan bahan baku yang tidak sesuai dengan aturan dan ketentuan dapat merubah cita
rasa serta ciri khas dari jajanan tradisional tersebut. Contoh lainnya adalah pada resep jajanan
tradisional yang seharusnya menggunakan gula aren sebagai bahan baku, tetapi malah diganti
dengan gula putih. Keterbatasan literatur dan kurangnya pengetahuan yang tidak
terdokumentasi dengan baik menjadi kendala. Hal ini menyulitkan proses pelestarian serta
pewarisan pengetahuan kepada generasi yang akan datang.
Upaya yang dapat dilakukan untuk melestarikan jajanan tradisional yaitu dengan cara
membeli, mengonsumsi, dan mengkreasikan jajanan tersebut. Selain itu, kita juga dapat
mempromosikan dan memperkenalkan jajanan tradisional dengan melibatkan generasi Z, serta
mengajarkan cara membuatnya.
Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa rendahnya minat Gen Z terhadap
jajanan tradisional disebabkan oleh beberapa faktor. Seperti minimnya pengenalan dan
pengetahuan terhadap sejarah, produksi, dan praktik budaya jajanan tradisional, pola pikir
tentang makanan instan atau cepat saji, serta pengaruh media sosial yang mengedepankan
tampilan makanan yang menarik secara visual. Namun, bukan berarti upaya pelestarian jajanan
tradisional tidak dapat dilakukan. Berbagai langkah dapat ditempuh, seperti membeli dan
mengonsumsi jajanan tradisional secara rutin, mengkreasikan jajanan tradisional dengan
sentuhan modern, mempromosikan jajanan tradisional melalui media sosial dengan melibatkan
Gen Z, mengajarkan cara pembuatan jajanan tradisional, serta mengenalkan jajanan tradisional
kepada orang-orang di sekitar kita. Dengan kerja sama dan komitmen bersama, kita dapat
melestarikan warisan kuliner tradisional Indonesia yang kaya akan rempah dan nilai budaya.
Saatnya kita menjadi agen perubahan dan menjaga kelestarian jajanan tradisional sebagai
bagian dari identitas budaya bangsa. Mari bersama-sama menjaga dan memperkenalkan
kekayaan kuliner nusantara kepada generasi muda, agar mereka dapat menikmati dan
melestarikannya di masa depan.
Penulis: Haris Budisetiawan, Helga Tsania Rahma Putri, Izzatun Nihayah, Refa Amelia Putri,
dan Syafina Izzatun Yazidahayu