Peran Keluarga Dalam Menjaga Kesehatan Mental Anak

Oleh Naura Qurrotu’aini (Ilmu Hukum UNNES)

Keluarga merupakan lingkungan pertama bagi individu saat ia lahir di dunia. Hal ini yang kemudian menyebabkan keluarga menjadi peran utama dalam proses tumbuh kembang anak, termasuk dalam perkembangan mentalnya. Dalam mencapai dan mempertahankan Kesehatan mental yang baik, peran keluarga tidak dapat diabaikan. Kesehatan mental adalah kondisi dimana seseorang dapat mengelola stresnya sehari-hari, bekerja secara produktif dan berkontribusi terhadap lingkungannya. 

Masalah emosional dan mental anak telah menjadi fokus dunia dalam bidang Kesehatan karena berkaitan dengan penderitaan, masalah fungsional, paparan stigma dan diskriminasi serta memiliki potensi kematian. Menurut Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (INAMHS) pada tahun 2022, satu dari tiga remaja Indonesia atau 15,1 juta remaja mengalami masalah Kesehatan mental. Pada tahun yang sama juga dilaporkan sebanyak 826 kasus bunuh diri terjadi di Indonesia, yang jumlahnya meningkat dari tahun sebelumnya.Hal ini tentu mencemaskan.

Sebagai tempat pertama kali belajar tentang interaksi, emosi serta nilai-nilai kehidupan, sudah seharusnya keluarga menyediakan lingkungan yang nyaman serta penuh kasih sayang yang akan membuat anak merasa lebih aman terhadap diri mereka sendiri. 

Ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk menjaga mental anak. Mengapresiasi anak atas kemampuan mereka akan membantu mereka menumbuhkan keinginan untuk mengeksplorasi hal baru. Biarkan anak menjelajah dan berekspresi atas ketertarikan mereka. Yakinkan anak dengan senyuman dan ajak komunikasi untuk membangun jalinan yang kuat satu sama lain.

Anak membutuhkan tujuan dalam hidupnya. Sebagai orang tua, membimbing anak menuju tujuannya adalah hal yang perlu dilakukan. Beri pengertian pada anak mengenai konsekuensi yang akan ia dapat agar ekspektasinya sesuai dengan realita yang terjadi. Hal ini juga bisa membangun kepercayaan atas diri sendiri. Keluarga dapat mencurahkan kasih sayang dengan banyak hal. Menyalurkan perasaan bahwa anak merasa diterima, dimengerti dan tidak sendirian menghadapi masalah. 

Penting untuk tidak berkata bohong kepada anak. Karena hakikatnya anak akan meniru setiap yang dilakukan orang tua, terlebih kebanyakan mereka belum dapat membedakan mana yang baik dengan yang buruk.

Selayaknya manusia pada umumnya, anak pasti juga melakukan kesalahan. Baik yang disengaja ataupun tidak, orang tua tetap tidak boleh menghakimi dengan kata-kata yang menjatuhkan. Cari situasi yang tepat lalu ajaklah anak bicara. Menerima kegagalan dan kelalaian juga salah satu cara efektif menguatkan mental anak.

Pola asuh orang tua atau pengasuh akan membentuk karakter anak dalam hidupnya. Pola asuh yang suportif, penuh kasih dan konsisten dapat membantu anak berkembang dengan rasa percaya atas dirinya sendiri serta akan menumbuhkan harga diri dalam diri anak itu sendiri. 

Kepekaan atau kesadaran orang tua atas anak mereka harus ditingkatkan. Masih banyak orang tua yang menyepelekan permasalahan mental anak dengan dalih “Mereka hanya kurang dekat dengan tuhan.” Padahal anak butuh didampingi dan ditemani, bukan dihakimi.

Memotivasi Anak

Selayaknya manusia pada umumnya yang haus validasi, sesekali memvalidasi apa yang anak lakukan juga perlu. Memberi dorongan atas hal baik yang ia lakukan bisa menumbuhkan rasa percaya diri anak dan menuntunnya untuk menjadi lebih berkembang.

Kesehatan mental yang baik merupakan kunci dari kebahagiaan. Dalam mencapai hal ini, peran keluarga terlebih orang tua tentu sangat penting. Melalui dukungan emosional, pola asuh, Pendidikan dan lingkungan yang sehat serta model peran yang baik diharapkan anak-anak akan tumbuh menjadi individu dengan Kesehatan mental yang stabil. Orang tua sudah sepatutnya mengisi peran penting dalam pertumbuhan anaknya untuk menciptakan Kesehatan mental yang stabil bagi anak-anak mereka. Mulai dari hal-hal kecil seperti apresiasi, dukungan emosional, menyesuaikan perkataan dengan perbuatan, hingga hal-hal besar seperti pola asuh. 

Penting bagi anak dan remaja untuk membangun hubungan kuat dengan keluarga dan teman. Apa yang dilihat anak cenderung akan diikuti, maka dari itu dibutuhkan role play yang baik disekitarnya. Orang tua juga harus sadar dan menjaga apa yang dilihat anak di media seperti televisi, game dan lain sebagainya. Berikutnya, jangan libatkan anak dalam urusan rumah tangga yang berat. Biarkan anak tumbuh tanpa tekanan. Mari jaga mental anak-anak kita kelak untuk masa depan bangsa.(*)