Penyumbang  untuk Perkembangan Sosial-Emosional Anak

Apakah Anda tahu lingkungan dapat berpengaruh terhadap perkembangan sosial emosional anak usia dini? Lingkungan dan perkembangan sosial emosional anak usia dini saling terikat erat. Perkembangan sosial emosional merupakan proses dimana anak belajar beradaptasi untuk memahami situasi dan emosi dalam berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya, mendengarkan, mengamati dan meniru apa yang mereka lihat. Perkembangan sosial emosional juga sangat sensitif bagi anak-anak untuk memahami perasaan satu sama lain dengan berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari.

Perkembangan sosial emosional anak merupakan dua aspek yang berbeda tetapi tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Dengan kata lain, membahas perkembangan emosi harus bersinggungan dengan perkembangan sosial anak. Demikian pula sebaliknya, membahas perkembangan sosial anak harus melibatkan perkembangan emosional anak. Perilaku sosial sangat erat hubungannya dengan perilaku emosionalnya walaupun memiliki pola yang berbeda. Masing-masing proses terpisah dan sangat berbeda satu sama lain tapi saling berkaitan, sehingga perkembangan aktivitas bermain seorang anak memiliki peranan yang cukup besar dalam mengembangkan kecakapan sebelum anak mulai bermain.

World Health Organization (WHO) 2017, melaporkan bahwa 5-25% dari anak-anak usia prasekolah mengalami gangguan perkembangan emosional dengan populasi anak sebesar 23,979,000. Anak yang mengalami gangguan kecemasan ±9%, mudah emosi ±11-15%, dan gangguan perilaku 9-15%. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Nasional tahun 2018, jumlah keseluruhan perkembangan anak pada usia 4–6 tahun di Indonesia mencapai 88,3% dengan jumlah keseluruhan perkembangan sosial-emosional mencapai 69,9%, perkembangan fisik mencapai 97,8%, dan perkembangan kemampuan menulis dan membaca mencapai 64,6%. Hal ini membuktikan bahwa faktor lingkungan dapat berdampak signifikan pada perkembangan sosial emosional anak. Ingin lebih tau pengaruh faktor lingkungan terhadap perkembangan sosial emosional anak usia dini? Artikel ini akan membahasnya lebih lanjut jadi mari simak bersama-sama.

Perkembangan sosial-emosional adalah kepekaan anak untuk memahami perasaan orang lain ketika berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, kematangan sosial-emosional akan sangat mempengaruhi cara interaksi anak dalam menanggapi setiap problematika yang dihadapinya. Perkembangan sosial emosional ini bertujuan agar anak memiliki kepercayaan diri, kemampuan bersosialisasi, dan kemampuan mengendalikan emosi. Optimalisasi perkembangan sosial emosional ini dapat dilakukan dengan mulai mengajak anak mengenal dirinya sendiri dan lingkungan. Proses pengenalan ini dapat berupa interaksi anak dengan keluarga yang akan membuat anak belajar membangun konsep diri. Juga dapat dengan cara bermain bersama teman sebaya yang akan melatih dan meningkatkan kemampuan sosialisasi anak.

Aspek kunci dari perkembangan emosi pada anak-anak adalah belajar bagaimana mengatur emosi. Anak-anak melihat bagaimana orang tua mereka menampilkan emosi dan berinteraksi dengan orang lain, dan mereka meniru apa yang mereka lihat pada orang tua mereka dan yang telah dilakukan untuk mengatur emosi.Temperamen seorang anak juga memainkan peran dalam regulasi emosi mereka, dipandu oleh gaya pengasuhan yang mereka terima. Sebagai contoh, anak-anak lebih rentan terhadap emosi negatif atau episode kemarahan sangat dipengaruhi oleh pengasuhan bermusuhan dan lalai, sering mengarah ke masalah perilaku bahkan lebih.

Lingkungan sosial meliputi lingkungan rumah terutama di sekolah dasar yang akan segera masuk dan terus menerus sampai ke lingkungan yang lebih luas, yaitu masyarakat umum. Masalah sosialdapat diidentifikasi dari berbagai perilaku yang terungkap anak-anak, termasuk anak-anak selalu ingin untuk menjadi egois, agresif, marah, setiap keinginan harus diikuti, menentang bahkan menarik diri dari lingkungan mereka dan tidak mau bergaul dengan teman-temannya.

Lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan sosial emosional anak usia dini. Anak akan belajar memahami dan mengekspresikan emosi serta belajar bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya, termasuk ada orang tua, teman sebaya, guru. Faktor-faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi yaitu ada dari lingkungan sekolah, lingkungan keluarga atau lingkungan rumah, dan lingkungan luar rumah atau lingkungan disekitarnya. Keluarga adalah lingkungan pertama yang memperkenalkan anak pada norma dan nila sosial, sedangkan sekolah memberikan kesempatan untuk berinteraksi dengan teman sebaya dan guru. Lingkungan yang mendukung, baik dari fisik maupun sosial memungkinkan anak untuk mengembangkan kepercayaan diri, kemampuan bersosialisasi, dan dapat mengendalikan emosional. Namun sebaliknya apabila lingkungan kurang mendukung, seperti pengasuhan tidak responsif atau lingkungan sekolah tidak kondusif, dapat menghambat perkembangan emosional anak. (*)

Oleh Rida Tia Atmaja (Pendidikan Guru Anak Usia Dini UNNES)