Oleh Jihan Nabila Meysun Eka Putri (Teknologi Pendidikan UNNES)
Pada era digital ini, mahasiswa semakin giat menggunakan media sosial untuk menyampaikan opini, membangun jaringan, dan berbagi pandangan pribadi. Namun, tidak jarang unggahan mereka memicu perdebatan sengit atau konflik dengan teman dan pengikut lainnya. Media sosial telah banyak merubah dunia. Memutarbalikkan banyak pemikiran dan teori yang dimiliki. Tingkatan atau level komunikasi melebur dalam satu wadah yang disebut jejaring sosial/media sosial. Konsekuensi yang muncul pun juga wajib diwaspadai, dalam arti media sosial semakin membuka kesempatan tiap individu yang terlibat di dalamnya untuk bebas mengeluarkan pendapatnya. Akan tetapi kendali diri harusnya juga dimiliki, agar kebebasan yang dimiliki juga tidak melanggar batasan dan tidak menyinggung pihak lain.
Media sosial memberikan ruang bagi berbagai pandangan dan opini untuk saling berinteraksi, yang sering kali dapat memicu perdebatan yang cukup intens. Saat mahasiswa menyampaikan pandangan yang kontroversial atau berbeda, hal ini bisa memicu reaksi yang kurang positif dari teman-teman atau pengikut mereka. Setiap orang memiliki pandangan yang berbeda, jadi perbedaan pendapat adalah hal yang biasa. Namun, di dunia maya, perbedaan ini sering kali menimbulkan perdebatan yang sengit. Interaksi di media sosial sering kali dipengaruhi oleh emosi, sehingga komentar yang muncul biasanya lebih bersifat subjektif dan kurang rasional. Kolom komentar di sosial media penuh dengan perdebatan. Ujaran yang menunjukkan intoleran banyak ditemukan. Perbedaan komentar dari banyak orang yang ikut bersuara di media sosial. Informasi yang salah atau hoax bisa dengan mudah menyebar di media sosial, yang pada gilirannya dapat menyebabkan kesalahpahaman dan perdebatan.
Di dunia nyata, mungkin kita pernah mengalami, melihat, atau mengetahui terdapat segelintir orang yang melakukan tindakan mencemooh/memfitnah/menghina orang lain secara langsung. Namun sekarang ini, kemunculan internet dan adanya media sosial membuat orang dengan mudahnya melontarkan rasa kesal atau menuangkan perasaannya begitu saja di media sosial tanpa berpikir panjang mengenai dampaknya. Sering kita lihat terjadi ‘perang’ komentar atau debat di bagian “comment” pada sebuah media sosial. Bagi mereka yang menganggap postingan seseorang itu tidak penting atau aneh, atau mungkin bahkan seseorang tersebut dianggap tidak layak atau tidak berhasil dalam sesuatu hal, maka komentar-komentar sinis dan berbagai cacian akan bermunculan di wall orang tersebut. Berbagai hujatan/hinaan/sindiran itu lama kelamaan bisa membuat
seseorang merasa malu, semakin tertekan atau frustasi, dan bahkan ada beberapa yang memilih untuk mengakhiri hidupnya.
Sering kali, perbedaan pendapat di media sosial bisa berujung pada debat yang kurang sehat. Untuk menyikapinya, mari kita coba lebih banyak mendengarkan daripada langsung merespons. Berlatihlah untuk membalas dengan empati dan pemikiran yang tenang, bukan dengan emosi yang meluap. Jangan lupa, di balik setiap layar ada seseorang dengan pandangan dan perasaan yang berbeda. Jaga diskusi tetap santun dan terbuka. Kalau suasana mulai memanas, tak apa-apa untuk mengambil jeda dan kembali saat hati sudah lebih tenang. Bukan soal siapa yang paling benar, tapi bagaimana kita bisa tetap menghargai satu sama lain dan membuat media sosial jadi tempat yang lebih hangat dan positif untuk semua.
Sebagai pengguna aktif media sosial, mahasiswa memiliki peran besar dalam menjaga agar suasana di dunia maya tetap sehat dan positif. Meski media sosial adalah tempat untuk berbagi pandangan dan menjalin relasi, ada risiko munculnya konflik atau perdebatan yang memanas. Sering kali, emosi memengaruhi cara kita berinteraksi, sehingga diskusi menjadi lebih subjektif dan kadang sulit untuk tetap rasional. Tingginya intensitas penggunaan media sosial di kalangan mahasiswa juga membentuk cara mereka berkomunikasi dan berinteraksi. Perbedaan pandangan, informasi yang salah, atau komentar negatif dapat dengan mudah memicu perdebatan. Karena itu, penting bagi mahasiswa untuk mengendalikan diri dan menjaga etika dalam setiap percakapan di media sosial. Saat berdiskusi di media sosial, cobalah untuk selalu mendengarkan dengan hati terbuka. Jadikan perbedaan pendapat sebagai kesempatan belajar, bukan untuk saling menjatuhkan. Selain itu, gunakan media sosial dengan bijak jadikan setiap komentar sebagai cerminan dirimu yang positif. Berbicaralah dengan santun, meski mungkin kamu tidak setuju.(*)