Oleh Hanif Tsabitul Azmi (Teknologi Pendidikan UNNES)
Perkembangan teknologi yang semakin pesat memudahkan kita untuk mengakses segala sesuatu di mana pun dan kapan pun. Dengan adanya perkembangan teknologi tersebut, media sosial seolah menjadi patokan paling penting sebagai kebutuhan sehari-hari di semua kalangan masyarakat. Kita mendapatkan informasi yang hangat dan terhibur hanya sekali sentuhan melalui konten di media sosial. Banyak aplikasi media sosial yang marak sekarang, seperti Instagram, Facebook, X, Line, Tiktok dan lain sebagainya. Salah satu media sosial yang paling banyak peminatnya adalah Tiktok.
Tiktok merupakan aplikasi yang menampilkan berbagai video berdurasi pendek yang menjadi media informasi, ataupun hiburan. Namun bagi remaja, pada awalnya mereka menggulir layar dengan mencari video yang menarik menjadi media hiburan dan pada waktu luang saja. Tetapi seiring berjalannya waktu mereka memainkan Tiktok tanpa mengenal waktu, dan mengikuti segala tren dan mereka Fomo (Fear Of Missing Out)) perasaan yang mencemaskan dirinya hingga selalu membuka aplikasi Tiktok.
Menurut The Washington Post yang mengutip pada penelitian dari University Of California, Los Angeles pada tahun 2023, dinyatakan bahwa penggunaan Tiktok pada remaja, menghabiskan waktu rata-rata 52 menit per hari dan 64% pengguna merasa “terpaksa” untuk memainkan aplikasi tersebut tanpa henti, hal ini menandakan adanya kecanduan.
Penelitian dari University of Michigan pada tahun 2023, menyatakan bahwa adanya pengurangan daya pengguna untuk menerima dan mengonsumsi konten yang berdurasi panjang. Studi ini menemukan bahwa kebiasaan mengonsumsi konten berdurasi pendek seperti Tiktok yang berdurasi 15-60 menit membuat pengguna merasa berkurang kapasitas konsentrasi dalam mempertahankan perhatian yang berlangsung lama. Terlebih untuk berkonsentrasi lebih besar dan lebih panjang, seperti berhadapan dengan tugas yang rentan lebih lama durasinya. Hal ini juga dikaitkan dengan fenomena yang disebut “digital attention span shrinking” atau penyusutan rentang perhatian digital yang mengefek sampingkan dari kebiasaan mengkonsumsi informasi yang cepat dan fragmentaris.
Adapun studi lainnya dari Royal Society For Public Health (RSPH), sebuah lembaga kesehatan masyarakat di Inggris pada tahun 2022, menyatakan bahwa ada 58% pengguna Tiktok berusia 16-24 tahun melaporkan adanya peningkatan kecemasan dan depresi setelah memainkan aplikasi Tiktok. Hal ini menegaskan untuk kita memahami dampak negatif dari penggunaan media sosial yang berlebihan.
Menurut Ahmad Alfian (2024) dilansir oleh Geotimes.id, Dampak kesehatan mental ini yang berakibat ke hal negatif, membawa sejumlah risiko dalam penggunaan Tiktok. Di antara dampak negatif penggunaan Tiktok adalah kecanduan. Sering kali Algoritma Tiktok merekomendasi konten yang menarik dan membuat seseorang sulit untuk berhenti menggunakan aplikasi tersebut. Dalam hal ini, kecanduan Tiktok mengakibatkan gangguan produktivitas, hubungan sosial dalam berinteraksi, dan pola tidur yang tidak teratur. Selain itu, banyaknya konten yang beredar sering kali menampilkan gaya hidup yang sempurna, fisik yang ideal, dan kesuksesan luar biasa yang menimbulkan perasaan rendah diri atau iri dengki.
Fomo (fear Of Missing Out) juga jadi dampak negatif bagi pengguna Tiktok. Pengguna Tiktok yang sering kali merasa tertinggal dengan konten baru yang menarik untuk dilihat. Pengguna Tiktok seperti ini merasakan kecemasan dan keinginan untuk membuka aplikasi terus-menerus. Belum lagi persoalan perundungan siber atau cyberbullying.
Dampak negatif lainnya, yaitu membuang waktu secara sia-sia, hilangnya rasa malu, semangat belajar menurun, lebih percaya berita hoaks, kesehatan mental menurun, bahkan hal yang paling buruk yaitu pelecehan seksual. Dengan beredarnya konten yang seliweran di Tiktok, banyak pengguna yang berlomba-lomba untuk menarik perhatian tanpa memikirkan apa manfaat konten yang mereka buat. Bahkan konten tersebut bisa merugikan diri sendiri atau orang lain.
Tiktok sendiri menjadi salah satu aplikasi yang mencari ketenaran, saling senggol-menyenggol, menghujat, dan menyindir. Tidak dapat dibenarkan bahwa tindakan menindas atau menyakiti seseorang lewat konten yang dibuat dan mengomentari hal yang tidak semestinya hingga membuat orang geram akan komentar yang seolah membawa pembaca merasakan sulut emosi seakan dirinya masuk ke permasalahan. Faktor yang membuat orang mudah terjerumus dengan mengeluarkan argumen yang tidak valid, kata-kata kasar, dan perundung. Hal ini memakan banyak korban.Banyak konten yang tidak pantas dan tidak sesuai untuk remaja yang tidak mendidik. Maka tidak relevan untuk anak remaja mengikuti konten yang buruk dan terjerumus dengan hal negatif. Kita sebagai generasi muda harus mencari informasi yang positif dan bermanfaat dan jangan mudah tertarik dengan informasi yang tidak sesuai atau berita palsu. Kita tidak dapat mengendalikan orang untuk mengunggah konten yang bermanfaat, tapi setidaknya kita dapat mencari dan membuat konten yang bermanfaat untuk anak muda sekarang. (*)