Dahulu kala, di sebuah kawasan yang kini dikenal sebagai Desa Sumurtawang, hiduplah seorang pertapa tua bernama Ki Tawang. Ia tinggal sendirian di sebuah bukit tandus yang sulit ditumbuhi tanaman karena kekeringan panjang yang melanda wilayah itu. Meski hidup sederhana, Ki Tawang terkenal bijaksana dan suka menolong warga desa di kaki bukit.
Setiap musim kemarau, warga desa harus berjalan jauh menuju sungai yang mulai surut untuk mengambil air. Banyak yang jatuh sakit karena kelelahan, dan beberapa anak-anak bahkan harus putus sekolah karena ikut membantu orang tuanya mencari air. Melihat penderitaan ini, Ki Tawang pun mulai bermeditasi, memohon petunjuk dari Sang Pencipta agar diberikan jalan keluar.
Pada malam ketujuh pertapaannya, Ki Tawang bermimpi didatangi seorang lelaki tua berjubah putih. Sosok itu berkata, “Tawang, galilah tanah di bawah batu besar tempat engkau biasa bertapa. Di sanalah sumber kehidupan akan muncul.” Ketika Ki Tawang terbangun, ia langsung menuju tempat yang dimaksud dan mulai menggali dengan tangan kosong.
Ajaibnya, hanya dalam beberapa jam, muncullah mata air kecil yang terus-menerus memancar dari dalam tanah. Air itu jernih, dingin, dan tidak pernah surut meski kemarau melanda. Ki Tawang menyebut tempat itu “sumur tawang”, yang berarti sumur yang ditemukan oleh Tawang di atas bukit.
Warga desa pun berduyun-duyun naik ke bukit untuk mengambil air. Aksesnya memang sulit, namun airnya sangat berkhasiat. Banyak yang merasa sembuh dari penyakit setelah meminumnya. Ki Tawang dengan tulus membiarkan siapa pun mengambil air dari sumur itu, tanpa meminta imbalan.
Kabar tentang sumur ajaib ini menyebar ke berbagai penjuru, hingga suatu hari datang seorang bangsawan dari kerajaan sebelah. Ia berniat menguasai sumur itu dan membangun pagar keliling untuk membatasi akses warga. Namun, saat pembangunan dimulai, sumur itu tiba-tiba kering dan retak. Ketika bangsawan itu pergi, air kembali memancar dengan deras.
Dari kejadian itu, warga percaya bahwa sumur tersebut hanya bisa digunakan oleh mereka yang berniat baik dan tulus. Sejak saat itu, mereka menjaga sumur tersebut dengan penuh hormat, dan menjadikannya tempat keramat. Setiap tahun, mereka mengadakan sedekah bumi untuk menghormati Ki Tawang dan memohon agar air terus mengalir.
Ki Tawang sendiri menghilang secara misterius beberapa tahun kemudian. Banyak yang percaya bahwa ia telah moksa, menghilang secara gaib karena kesuciannya. Namun, sebagian warga mengaku masih melihat bayangan dirinya di sekitar sumur pada malam tertentu, terutama ketika bulan purnama.
Nama Desa Sumurtawang pun berasal dari kisah ini—mengabadikan keberadaan sumur di atas bukit dan nama pertapa yang menemukannya. Hingga kini, sumur itu masih ada dan dianggap sebagai warisan leluhur yang tidak ternilai harganya.
Cerita rakyat ini terus diceritakan dari generasi ke generasi, sebagai pengingat bahwa keikhlasan dan niat baik akan selalu membawa berkah, sementara keserakahan hanya akan mendatangkan kehancuran.(*)
Oleh Citra Lu’lu’ Fitriana