Perundungan dan Kesehatan Mental Anak

Oleh Yolanda Destiana Wardhani (Teknologi Pendidikan UNNES)

Perundungan  merupakan perilaku agresif tipe proaktif yang di dalamnya terdapat aspek    kesengajaan untuk mendominasi, menyakiti, atau menyingkirkan, adanya ketidak seimbangan kekuatan baik secara  fisik,  usia,  kemampuan  kognitif,  keterampilan, maupun  status sosial, serta dilakukan secara berulang-ulang oleh satu atau beberapa anak terhadap anak lain. Jadi kesimpulan dari pengertian perundungan secara umum yaitu segala sesuatu kegiatan atau tingkah laku yang bertujuan untuk melukai secara fisik maupun secara mental dan dilakukan secara berulang-ulang.

Kasus perundungan semakin banyak maupun dari tingkat dewasa maupun dari tingkat anak kecil. Jika masalah perundungan semakin banyak pada anak kecil, maka sedari kecil mental anak sudah rusak akibat adanya perundungan. Snak akan mengalami trauma berat ketika perundungan ini masih berlanjut. 

Faktor yang menyebabkan perundungan ini terjadi dikategorikan sebagai faktor individu, keluarga, social-budaya, dan sekolah.  Faktor Individu ini termasuk pada kekuatan fisik dan reaksi agresif yang dimiliki si perundungan terhadap korban. 

Keluarga juga jadi faktor penyebab perundungan. Pengasuhan anak permisif, kurangnya keterlibatan dan kehangatan, kurangnya didikan yang disiplin dan adanya kekerasan semua sudah termasuk factor keluarga yang relevan dalam perundungan. Perundungan dari teman sebaya berupa tekanan kelompok, norma kelompok, dan identitas kelompok yang merupakan faktor kunci yang berpengaruh terhadap perilaku teman sebaya. 

Lingkungan sekolah juga bisa menjadi faktor penyebab. Ketika sekolah tidak punya kebijakan yang jelas dan tegas mengenai perundungan, siswa akan merasa tindakannya tidak dianggap serius oleh pihak sekolah. 

Untuk mengatasinya maka orang  tua perlu dilibatkan dalam konseling dan pengawasan terhadap anak, baik  anak yang menjadi korban perundungan maupun anak yang menjadi korban perundungan. Selain itu, pendidik juga selalu memberikan bimbingan dan pengawasan selama pembelajaran. Orangtua Selain keterlibatan, istirahat pada saat pembelajaran  juga dapat mencegah terjadinya perundungan melalui pola asuh orang tua, pendekatan  kepada anak, komunikasi yang  baik dengan anak dan  komunikasi yang baik dengan pihak sekolah.

Selaini itu juga diperlukan pendidikan karakter untuk mengembangkan karakter anak dan mencapai pendidikan karakter  yang optimal, diperlukan rencana atau cetak biru . Pendidikan karakter  dapat terlaksana  dengan baik maka harus diikuti prosedur-prosedur yang sesuai, dan untuk menanamkan karakter sejak dini maka arah pendidikan karakter adalah perlu dan harus dimungkinkan. (*)