Semarang- Bulan suci Ramadan membawa berkah tersendiri bagi umat Muslim, namun bagi mahasiswa tingkat akhir, periode ini sering kali menjadi ujian ganda. Di tengah kewajiban ibadah puasa, mereka harus tetap mempertahankan produktivitas untuk menyelesaikan skripsi. Tantangan utama yang dihadapi bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga melawan kantuk yang kerap menghampiri pada siang hari.
Leira Limushidayah, mahasiswi semester 8 program studi Ilmu Politik Universitas Negeri Semarang, mengungkapkan betapa beratnya menyesuaikan ritme produktivitas selama Ramadan. “Setiap begadang mengerjakan skripsi selalu ditemani kopi. Sekarang di siang hari tidak bisa minum kopi, jadi merasa produktivitas menurun drastis,” ujarnya.
Mahasiswa yang sedang menyelesaikan bab analisis ini mengaku sering ketiduran saat membaca jurnal atau mengetik. Untuk mengatasi hal tersebut, Leira memindahkan jam produktifnya ke malam hari setelah salat tarawih, meski harus berjuang melawan rasa lelah yang bertambah. “Sekarang ngerjainnya habis tarawih, walaupun tetap saja ngantuk dan capek,” jelasnya.
Rani, mahasiswi akhir program studi Manajemen konsentrasi Sumber Daya Manusia (SDM), membagikan pengalaman serupa. “Deadline gak pernah berhenti, tapi energi kita harus dibagi-bagi antara ibadah dan akademik,” keluhnya.
Ia mengaku sering menemui kesulitan mempertahankan fokus saat mengerjakan skripsi di siang hari. Solusi uniknya adalah dengan memanfaatkan waktu sahur yang menurutnya justru lebih produktif. “Meski berat ya membuka laptop pukul 3 pagi, tapi pikiran lebih jernih dan tidak ada gangguan notifikasi dari media sosial,” tutur Rani.
Mengalami hal yang serupa, Novy, mahasiswi akhir program studi Sastra Inggris, mengembangkan strategi khusus untuk menghadapi masa-masa sulit ini. “Saya bagi waktu dalam mengerjakan skripsi jadi beberapa sesi pendek atau biasanya disebut teknik Pomodoro,” jelasnya. Namun ia mengakui, godaan untuk tidur siang sering kali lebih kuat dari niat menyelesaikan skripsi. Dukungan teman seperjuangan menjadi penyemangat utamanya. “Sama teman, kami saling mengingatkan deadline dan berbagi tips untuk bertahan dari rasa ngantuk di grup WhatsApp,” ujar Novy yang sedang mengerjakan penelitian.
Tantangan fisik selama Ramadan ternyata juga berdampak pada proses berpikir. Leira mengungkapkan kesulitan menemukan ide brilian saat perut kosong. “Kadang saya harus menunggu sampai buka puasa dulu biar bisa berpikir lebih jernih,” akunya.
Rani menambahkan, kondisi ini memaksa mereka untuk lebih kreatif dalam mengatur jadwal. “Pintar-pintar aja bagi waktu, saya sekarang punya catatan khusus untuk tanda waktu-waktu dimana saya paling produktif,” jelasnya.
Meski penuh rintangan, ketiga mahasiswa ini melihat sisi positif dari situasi yang mereka hadapi. “Ramadan mengajarkan kita untuk lebih menghargai waktu dan memprioritaskan mana sih hal-hal yang penting,” kata Leira. Mereka berharap bisa menyelesaikan skripsi tepat waktu sembari tetap menjaga kualitas ibadah pada bulan suci.(*)
Oleh Yoshinta Nur Prihatina