Konflik antara Palestina dan Israel kembali memanas, setelah diusulkannya gencatan senjata pada Jumat (31/5/2024) oleh Presiden Amerika Serikat, Joe Biden dalam voting PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa). Perang antara kedua belah pihak ini sudah berlangsung selama 75 tahun yang dimulai pada tahun 1948, hal ini disebabkan oleh perebutan wilayah Palestina. Hingga saat ini, Israel telah menguasai hampir seluruh wilayah Palestina dan hanya menyisakan wilayah kecil Tepi Barat Palestina. Akibatnya, seluruh penduduk Palestina kekurangan bahan pangan dan krisis air bersih.
Dalam perundingan yang berlangsung di ibu kota Qatar, Doha, Hamas menegaskan penolakan terhadap “syarat baru” yang diusulkan oleh Presiden Amerika Serikat, Joe Biden. Syarat tersebut mencakup penempatan pasukan Israel di dalam Jalur Gaza, terutama di sepanjang perbatasan wilayah tersebut dengan Mesir. Hamas menganggap syarat itu tidak adil karena Israel masih terus melakukan serangan. Sementara itu, Perdana Menteri, Israel Benjamin Netanyahu bersikeras mempertahankan keberadaan militernya di wilayah tersebut.
Hamas yang didirikan pada tahun 1987 oleh Sheikh Ahmed Yassin di Gaza, dianggap sebagai organisasi teroris oleh beberapa negara seperti Amerika Serikat, Israel, Uni Eropa, Inggris, dan Jepang. Namun Hamas mengeklaim bahwa mereka adalah gerakan rakyat Palestina yang memperjuangkan hak wilayahnya dan kemerdekaan untuk negaranya, tetapi kesalahpahaman ini diperburuk oleh aksi bom bunuh diri yang dilakukan Hamas di wilayah Israel, menewaskan setidaknya 60 warga Israel. Hamas juga menyatakan tekad untuk memerangi Israel demi merebut kembali wilayah Palestina.
Pada tahun 1997, Amerika Serikat menetapkan Hamas sebagai organisasi teroris asing. Meski demikian, gerakan tersebut terus memelopori perlawanan dengan kekerasan selama intifada kedua di awal tahun 2000-an, bersamaan dengan aksi kekerasan dari kelompok lain Palestinian Islamic Jihad dan milisi Tanzim milik Fatah juga bertanggung jawab atas kekerasan tersebut.
Serangan Hamas yang disebut sebagai “Operasi Banjir Al-Aqsa” terjadi pada 7 Oktober 2023, perang tersebut menyerukan militan di Tepi Barat untuk bergabung. Sayap bersenjatanya adalah Brigade Ezzedine Al-Qassam mengeklaim telah menembakkan lebih dari 5000 roket, sementara Hecht mengatakan Israel menghitung lebih dari 3000 roket masuk. Dalam insiden itu, lebih dari 1200 orang tewas dan lebih dari 200 orang lainnya menjadi sandera.
Hingga saat ini, perang antar Hamas dan Israel masih berlangsung dan telah menewaskan lebih dari 69 penduduk Palestina per 48 jam terakhir seperti yang telah dilaporkan kantor berita AFP (Agence France-Presse), Senin (8/7/2024), sedikitnya 38.193 warga sipil Palestina yang tewas, sedangkan total sebanyak 87.903 warga Palestina terluka. Ditambah karena penyerangan yang telah dilakukan oleh Israel menyebabkan rusaknya fasilitas umum seperti rumah sakit Al-Shifa di Gaza City yang merupakan salah satu fasilitas medis terbesar di wilayah tersebut yang berguna untuk membantu korban dari serangan Israel, hal ini membuat korban dari penyerangan Israel tidak mendapatkan penanganan yang layak.
Usulan Amerika untuk melakukan gencatan senjata antara kedua belah pihak belum menemukan titik temu, perbedaan pandangan antara Hamas dan Israel menjadi hambatan utama bagi tercapainya perdamaian, tetapi hingga saat ini warga Palestina yang berada di jalur Gaza masih sangat berharap akan terjadinya perjanjian gencatan senjata.
Kelompok 3
Tim Penyusun :
- M. Yosi Maulana Hakim Saputra
- Arjun Dwi Rangga
- Tsalis Nafisaturrohmah
- Lintang Egan Dinda Maharani
- Dis Damara
- Nor Rohmat Akbar Surahman