Di siang hari yang terik, aku berjalan kaki menuju sekolah Madrasah Aliyah atau biasa orang-orang sebut dengan sekolah sore. Seluruh murid madrasah diliburkan sekolahnya dan diganti dengan berziarah ke Gunung Munggut yang tidak jauh dari jarak rumahku. Namun kurangnya informasi membuat aku merasa kecewa dan sedih karena aku tidak melihat salah satu orang yang bernasib sama denganku.
Dari informasi yang aku dengar, seluruh murid diharuskan datang ke sekolah terlebih dahulu dan akan berangkat bersama-sama naik mobil pikap. Namun, apakah ada informasi yang tidak aku dengar atau tertinggal, ternyata seluruh murid berangkat ziarah sendiri-sendiri, tidak ada yang datang ke sekolah terlebih dahulu. Namun, waktu sampai di sekolah aku berpikir kalau mungkin saja aku berangkat terlalu awal, jadi belum ada orang yang datang.
“Lohh… kok sepi banget? Apa aku datang terlalu awal ya?” batinku yang berusaha menenangkan hati. Lalu, aku menunggu sebentar untuk memastikan. Namun sudah 15 menit berlalu, belum ada seorang pun yang datang. Lalu ada orang yang memberitahu kalau benar saja murid-murid sudah berangkat lebih awal sejak tadi, bukan aku yang terlalu awal berangkatnya, memang seharusnya aku lebih awal berangkatnya. Lalu aku memutuskan untuk pulang ke rumah saja.
Saat perjalanan pulang, baru beberapa langkah aku berjalan, aku bertemu dengan Bu Siti tetanggaku yang anaknya juga bersekolah di Madrasah Aliyah.
“Loh, Mbak Hasna mau ke mana, kok malah ke arah sana?” tanya Bu Siti.
“Saya mau pulang, di Madrasah sudah tidak ada orang, katanya bapak-bapak yang ada di sana, semua sudah pada berangkat naik pick up daritadi. Jadi saya mau pulang saja, jauh sekali kalau saya jalan kaki sampai ke Gunung Munggut.” ucapku sedikit mengeluh.
“Ya sudah, ayo naik saya antarkan sampai Gunung Munggut,” ajak Bu Siti menawarkan tumpangan.
“Ohh.. terima kasih ya, Bu. Saya tidak jadi pulang deh,” celetukku sambil memamerkan gigi.
Sesampainya di Gunung Munggut, Bu Siti mengantarkanku sampai di depan.
“Terima kasih ya, Bu.” pintaku tersenyum ramah.
“Iya, saya pamit pulang duluan. Tolong jagain anak saya ya, Mbak.” ucap Bu Siti.
Sesudah Bu Siti memintaku untuk menjaga anaknya, dia sudah pergi lebih dulu meninggalkanku. Mungkin karena kita tidak kenal dekat atau memang merasa canggung saja yang membuat anak Bu Siti pergi meninggalkanku lebih dulu. Aku tak menghiraukannya dan langsung masuk menuju makam Gunung Munggut. Tapi, karena aku hanya sendirian, aku merasa aneh ketika masuk dan tidak ada seorang pun yang aku kenal di sana. Aku langsung mencari tempat duduk yang nyaman dan mengikuti agenda yang ada dengan tenang dan khidmat.
Sepanjang acara yang ramai, aku merasa sepi karena aku tidak berani berinteraksi dengan orang yang ada di sekelilingku. Aku seperti orang bingung di sana,
“Ihhh… acaranya masih lama kayanya.” batinku gundah.
Mataku mencari sekeliling dan berharap ada salah satu orang yang aku kenal dan membuat aku merasa sedikit tenang. Dan benar saja, tidak jauh dari tempat aku duduk, ada Mbak Upik anak Pak Yusuf yang orang kenal dengan Pak Ucup penjual penyet sebelah tokoku.
“Eh itu kaya anaknya Pak Ucup, aku pindah duduk ke sana aja deh.” ucapku lirih.
Namun sayang sekali, aku memang tidak kenal dekat dengan Mbak Upik. Mbak Upik lebih asyik dengan teman sebayanya. Namun aku tidak begitu masalah karena aku merasa sedikit tenang ada orang yang aku kenal.
“Duh kaya sama aja aku mendekati Mbak Upik, aku tidak punya teman cerita. Tapi ya sudahlah, aku mendengarkan Kyainya saja biar bisa nambah ilmu.” ucapku menggerutu.
Sepanjang ceramah, aku berusaha fokus mendengarkannya karena ada kisah tentang asal-usul Gunung Munggut yang membuatku takjub dan membuatku sedikit tidak percaya. Bagaimana tidak, Kyai tersebut berkata bahwa Gunung Munggut yang berada di Kabupaten Semarang, lebih tepatnya di Desa Pringsari merupakan gunung yang dibelah oleh seorang wali besar yang bernama Syekh Basyaruddin. Syekh Basyaruddin ini merupakan wali yang mennyebarkan ajaran Islam di berbagai wilayah, khususnya di Desa Pringapus. Di Pringapus, beliau dikenal sebagai tokoh utama yang sudah mendirikan pondok pesantren dan juga masjid di puncak Gunung Munggut.
Selain mukjizat tentang gunung yang dibelah hingga digendong oleh Syekh Basyaruddin, beliau juga meninggalkan sebuah Kitab Al-Qur’an tulisan Syekh Basyaruddin sendiri yang bernama Kitab Blawong. Kkitab tersebut diyakini oleh masyarakat memiliki keistimewaan tersendiri. Nama dari “Blawong” sendiri berasal dari bahasa Jawa yang memiliki makna bahwa kitab ini dapat membela orang yang benar dan mencelakakan mereka yang memiliki niat jahat. Hal yang menakjubkan dari kitab ini adalah saat peristiwa kebakaran yang hebat yang melanda Masjid Pringapus, Kitab Blawong ini sama sekali tidak tersentuh oleh api.
Namun, konon katanya Kitab Blawong yang sangat berharga ini hilang secara misterius, entah dicuri atau bagaimana masyarakat tidak ada yang tahu. Hilangnya Kitab Blawong yang dianggap warisan spiritual peninggalan Syekh Basyaruddin oleh masyarakat Pringapus ini membuat masyarakat berduka sangat mendalam. Berbagai upaya pencarian Ktab Blawong ini sudah dilakukan, dari pencarian oleh inisiatif masyarakat Pringapus sendiri dan juga pelaporan kepada pihak berwajib sudah dilakukan, tetapi tidak membuahkan hasil. Sehingga Kitab itu sudah dinyatakan hilang dan belum ditemukan hingga saat ini.
Kisah yang terjadi di Gunung Munggut ini merupakan bagian dari legenda yang dipercayai oleh masyarakat Pringapus hingga saat ini. Saat ini, Gunung Munggut dijadikan lokasi wisata religi oleh umat muslim. Masyarakat Pringapus juga menjaga tradisi ziarah ke makam-makam para wali yang ada di Gunung Mungggut, berharap agar keberkahan dan nilai-nilai luhur yang sudah diwariskan dapat diteruskan dari generasi ke generasi. Dan Masyarakat Pringapus juga berharap suatu saat Kitab Blawong dapat ditemukan kembali, agar warisan spiritual itu tetap utuh dan dapat menjadi sumber inspirasi bagi semua.
Mendengar legenda yang menakjubkan itu membuatku merasa kagum, walau pun aku tidak sepenuhnya percaya dengan yang diceritakan.
“Masa iya sih?” tanyaku heran.
Namun, dari semua keraguan yang ada, yang ingin aku tanyakan kebenarannya, aku tetap menghormati kepercayaan yang orang yakini hingga saat ini. Dan hingga saat ini aku tidak berani menanyakan keraguanku itu, lebih baik aku pendam sendiri.
Namun belum usai sampai di situ saja, ternyata masih ada lanjutan ceritanya. Konon katanya, dari cerita yang pernah aku dengar dari Kyai waktu aku mendatangi pengajian akbar yang diadakan di Masjid Jami’ Syekh Basyaruddin yang berada di Desa Pringapus, penamaan Masjid Jami’ Syekh Basyaruddin adalah penghormatan atas peran besar Syekh Basyaruddin sebagai penyebar Islam dan tokoh spiritual di Pringapus, sekaligus simbol kejayaan dan keberkahan yang diwariskan oleh beliau dan Pangeran Purwokesumo di masa lalu. Menurut cerita, dalam membangun Masjid Jami’ Syekh Basyaruddin ini ada peristiwa magis yang tidak dapat dipercaya dengan begtiu mudahnya oleh manusia. Masjid Jami’ Syekh Basyaruddin konon dibangun hanya dalam satu malam, dengan batu fondasi yang didatangkan dari Tuntang dan tanah timbunan dari Mblumbang Gede di daerah Jurang Pringapus. Yang lebih luar biasa, semua bahan tersebut hanya diangkut menggunakan saputangan. Awalnya masjid akan dibangun di Gunung Munggut, tetapi sebelum selesai, pembangunan terhenti karena terdengar kokokan ayam menjelang subuh, sehingga Syekh Basyaruddin memindahkan masjid tersebut ke alun-alun Desa Pringapus hanya dengan satu kedipan mata.
Sudah lama aku duduk mendengarkan ceramah dari Kyai, aku sudah mulai merasa letih duduk terlalu lama. Aku pun memutuskan untuk pulang. Namun, seblum aku pulang, ada sesuatu yang menggodaku dan menghentikan langkahku. Aku pun mengampirinya dan membeli segelas es cendol untuk menghilangkan dahaga di teriknya siang itu di Gunung Munggut.
“Lek, beli satu gelas aja, ya. Berapa?” tanyaku kepada tukang cendol.
“Minum sini apa dibungkus?” tanya tukang cendol.
“Bungkus aja, Lek.” Jawabku.
“Siap!” balas tukang cendol penuh semangat.
Sembari menunggu, aku diajak mengobrol sedikit dan ditanyai basa-basi oleh tukang cendol itu.
“Sendirian saja, Mbak?” tanya tukang cendol singkat.
“Hehehe… iya, Lek. Entah aku yang berangkat telat, terus ditinggal atau memang pada berangkat sendiri-sendiri. Jadinya, aku ke sini sendirian aja. Tapi, tadi ketemu tetangga yang nganterin anaknya, terus saya diajak barengan deh.” jawabku panjang lebar.
Tidak lama, pesanan es cendolku sudah jadi. Aku pun segera membayar dan kembali pulang.
“Makasih yaaa…” ucap tukang cendol.
“Iya, Lek, sama-sama.” balasku.
Sampai di luar makam Gunung Munggut, aku menjumpai laki-laki tidak dikenal yang sedang memperbaiki motornya yang sedang mogok. Dia melihat aku yang sendirian saja, tiba-tiba dia berjalan sambil menaiki motornya yang mogok, Aku tetap berjalan biasa dan tidak menghiraukannya.
“Sendirian aja, mending bareng saya, Mbak.” goda laki-laki itu.
Aku mencoba mempercepat langkah kakiku dan tidak membalas ucapan laki-laki yang tidak aku kenal itu. Ada rasa takut, tapi berpikir dia hanya menggodaku saja dan tidak akan berani macam-macam karena sepanjang aku berjalan, masih ada banyak orang yang berlalu lalang. Tidak lama kemudian, teman laki-laki itu menghampirinya dan pergi begitu saja. Aku pun merasa tenang dan aku kembali melanjutkan langkahku menuju rumah dengan rasa sedikit kesal dan juga letih. (*)
Oleh Hasna Alfaliya