Di dusun kecil yang terletak di Klaten, Kadut namanya, ada tradisi unik yang cuma dilakukan sekali setahun yang selalu jadi pembicaraan tiap malam Satu Sura. Pada malam itu, lampu-lampu dusun sengaja dimatikan. Hanya ada suara jangkrik dan angin pelan membuat suasana jadi gelap gulita. Tapi yang paling bikin orang penasaran adalah tradisi para lelaki dusun yang berjalan keliling dusun tanpa sehelai benang. Mereka benar-benar telanjang bulat dari yang muda sampai yang tua. Meski kedengarannya aneh dan agak merinding, tradisi ini sudah turun-temurun dijaga dengan penuh rasa hormat.
Para warga di Dusun Kadut meyakini tradisi ini sebagai cara ampuh untuk menjaga desa tetap aman. “Dulu, puluhan tahun lalu, dusun kita sering kena musibah,” kata Pakdhe yang sudah tinggal di dusun sebelah sejak lama. “Panen gagal terus, banyak yang sakit, sungai sampai kering, ternak juga mati mendadak. Warga pada bingung, nggak tahu harus gimana.” Lalu, katanya, ada seorang sesepuh dusun yang suatu malam bermimpi didatangi sosok gaib. “Sosok itu ngasih petunjuk aneh,” lanjut Pakdhe dengan suara pelan. “Dia bilang, kalau dusun ingin selamat, semua lelaki harus jalan keliling kampung tanpa sehelai benang pun di malam Satu Sura.” Awalnya warga meragukan, tapi musibah terus datang dan keadaan semakin memburuk, mereka pun mencoba mengikuti petunjuk itu. Dan ajaibnya, setelah ritual itu, suasana dusun menjadi lebih tenang, panen mulai membaik, warga sehat-sehat lagi, air sungai mulai banyak, dan hewan ternak juga baik-baik saja.
Malam Satu Sura tiba dengan sangat amat dingin. Para lelaki dewasa berkumpul di tengah dusun duduk melingkar sambil bercengkrama singkat. Mereka tahu ritual ini bukan perkara mudah, dengan badan tanpa sehelai kain, mereka mulai berjalan perlahan mengelilingi dusun. Saat ritual dimulai, di sepanjang jalan tidak diperbolehkan mengucapkan sepatah kata pun. Hanya terfokus pada niat mereka untuk membersihkan diri dan menjaga dusun dari segala bahaya. Suasana malam terasa begitu mendalam, di bawah langit yang gelap heningnya malam setiap gerakan memberi ruang bagi siapapun untuk benar-benar merasakan makna dari ritual tersebut. Seolah telah menghubungkan manusia dengan leluhur dan alam semesta.
Ritual tradisi ini bukan sekadar soal keberanian, tapi juga lambang kejujuran dan kesucian hati. Tanpa mengenakan sehelai kain, mereka kembali kepada fitrah manusia tanpa dusta dan kepura-puraan. Mereka percaya roh jahat takut pada manusia yang tampil apa adanya tanpa ada yang disembunyikan. Jalan tanpa busana ini menjadi simbol kesiapan mereka untuk menghadapi segala hal dengan hati yang terbuka dan niat yang tulus, bukan karena aib, melainkan sebagai bentuk keberanian menerima diri sendiri dan melindungi dusun dari mara bahaya yang mengintai. Selain sebagai bentuk pembersihan diri dan lingkungan, ritual ini juga mempererat ikatan antarwarga.
Dalam keheningan malam, mereka berjalan bersama tanpa sepatah kata pun, merasakan kekuatan persaudaraan yang begitu dalam. Setiap langkah yang diambil mengiringi dan menguatkan satu sama lain. Tidak ada yang merasa sendiri, karena mereka tahu bahwa mereka saling menopang dalam kesunyian dan ketulusan. Kebersamaan dalam ritual ini mengajarkan bahwa kekuatan sejati berasal dari ikatan hati dan niat yang sama untuk menjaga dan merawat dusun dengan sepenuh jiwa.
Setelah selesai mengelilingi dusun dengan langkah pelan dan penuh khidmat, para lelaki itu berhenti di empat penjuru dusun yang dianggap sakral dan penuh makna. Di sana, mereka dengan hati-hati meletakkan sesaji sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus permohonan agar berkah dan keselamatan selalu menyertai seluruh warga. Sesaji yang dibawa memang sederhana, namun setiap komponennya mengandung simbolisme yang sangat dalam dan kaya makna. Nasi kuning yang menjadi bagian utama sesaji melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan yang diharapkan terus mengalir bagi warga dusun. Seekor ayam rebus yang dibungkus rapi dengan daun pisang menjadi lambang kesucian dan pengorbanan, menandakan warga yang siap berkorban demi kebaikan bersama.
Selain itu, bunga melati yang harum turut disertakan sebagai simbol kesucian hati dan ketulusan niat dalam menjalankan ritual ini. Aroma harum bunga melati yang semerbak menambah suasana sakral di malam itu, memperkuat keheningan dan kekhusyukan para warga. Tak kalah penting, dupa yang dibakar mengeluarkan asap dan aroma yang memenuhi udara malam, dipercaya mampu mengusir energi negatif serta mengundang keberkahan dari alam gaib. Momen meletakkan sesaji ini bukan sekadar ritual formalitas, melainkan saat yang penuh keheningan dan doa tulus, di mana warga dusun memohon perlindungan dan rahmat agar kehidupan mereka selalu diberkahi dan terjaga dari segala mara bahaya.
Tradisi di Dusun Kadut ini bukan sekadar ritual aneh yang hanya dilakukan demi tradisi semata. Di balik keberanian dan kesederhanaan, tersimpan makna yang sangat dalam tentang kejujuran, kesucian hati, dan rasa persaudaraan yang kuat. Ritual ini menjadi jembatan antara manusia dengan leluhur serta alam semesta, menjaga keharmonisan dan keselamatan desa dari segala bahaya. Meski zaman terus berubah, tradisi ini tetap dijaga dengan penuh rasa hormat sebagai warisan leluhur yang mengikat para masyarakat Dusun Kadut.(*)
Oleh Syifa Kamila Huwaida