Waktu itu aku masih duduk di bangku kelas 10. Baru saja bergabung dalam ekstrakurikuler Pramuka, dan tanpa disangka aku terpilih sebagai salah satu kontingen dalam lomba “Napak Tilas Perjuangan Joko Songo.” Di sela-sela latihan yang melelahkan tapi menyenangkan, ada satu momen yang sampai hari ini masih lekat dalam ingatanku: cerita dari Kak Gilang. Ia adalah seorang kakak alumni yang sering datang melatih kami. Sosoknya ceria dan suka bercanda, namun juga bisa tegas dan galak. Di antara semua materi teknik kepramukaan dan simulasi medan, ada satu yang benar-benar menancap di hati: kisah tentang Joko Songo.
Perjuangan mereka memang tak tercatat dalam buku-buku sejarah. Namun tanah di Karanganyar tahu. Udara yang kami hirup setiap pagi masih menyimpan jejak peluh mereka. Dan setiap bulir padi yang tumbuh dari ladang-ladang itu, konon menjadi saksi bisu keberanian sembilan pemuda yang memilih jalan sunyi. Mereka tidak meminta penghargaan, tak mengharap dikenang. Yang mereka inginkan hanyalah satu: agar rakyat bebas dari ketakutan dan penindasan.
Joko Songo, sembilan pemuda yang namanya perlahan larut bersama waktu, namun ruh perjuangannya tetap menyala dalam cerita-cerita lisan. Mereka adalah Sunarto, Waluyo, Sukoto, Muryanto, Salman Hasim, Rusman Liliek, Lakstoto, Supriadi, dan Slameto. Pemuda-pemuda biasa, dengan cita-cita sederhana. Namun ketika penjajahan menyisakan luka dan ketidakadilan merajalela, mereka memilih angkat kaki dari kenyamanan, dan berdiri menantang arus.
Menurut Kak Gilang, perjuangan mereka dimulai dari sebuah gubuk kayu di pinggir hutan Lawu. Tempat itu menjadi markas kecil tempat mereka menyusun strategi, menyembunyikan senjata rampasan, dan mengatur suplai logistik. Malam demi malam mereka habiskan di bawah cahaya remang obor, menuliskan rencana demi rencana dengan darah dan keberanian. Mereka tahu nyawa adalah taruhan, namun diam lebih menyakitkan daripada luka peluru.
Yang membuatku terenyuh adalah cerita tentang Sunarto. Ia pemuda paling muda di antara mereka, baru berusia7 17 tahun saat pertama kali turun ke medan. Konon, dialah yang selalu membawa bendera merah putih kecil di saku bajunya. Katanya, “Kalau aku mati, setidaknya aku mati dengan bendera ini di dekatku.” Kalimat itu membuat mataku panas. Aku membayangkan betapa kuatnya semangat di balik tubuh yang mungkin belum benar-benar tumbuh dewasa.
Mereka tak hanya berperang dengan senjata. Mereka juga menyusup ke desa-desa, memberi semangat kepada rakyat, membagikan makanan, dan kadang hanya untuk meyakinkan bahwa harapan belum mati. Salah satu momen paling legendaris adalah ketika mereka berhasil membebaskan belasan tawanan rakyat dari kamp penjajah tanpa sebutir peluru pun. Dengan strategi dan keberanian, mereka mengubah ketakutan menjadi kemenangan kecil yang tak terlupakan.
Namun, perjuangan tak selalu berakhir dengan kemenangan. Dalam penyergapan besar-besaran yang dilakukan oleh tentara kolonial, dua dari mereka gugur. Salman Hasim dan Supriadi tertembak ketika mencoba melindungi rekannya yang terluka. Saat itu, menurut cerita, langit mendung seakan turut berkabung. Tapi semangat mereka tidak mati. Bahkan di tengah duka, Joko Songo tetap bertahan.
Setelah tragedi itu, kelompok mereka terpecah. Beberapa melanjutkan perjuangan secara gerilya, sementara lainnya kembali ke desa sebagai rakyat biasa. Tapi, seperti kata Kak Gilang, tak ada yang benar-benar ‘kembali biasa’ setelah menjadi bagian dari Joko Songo. Hidup mereka telah menyatu dengan tanah, dengan rakyat, dengan cita-cita yang tak bisa dibungkam oleh waktu.
Kini, hanya sedikit orang yang masih ingat nama-nama mereka. Namun di hati kami, terutama kami yang pernah mendengar kisah ini dari para pembina, nama mereka abadi. Setiap kali kami melangkah dalam napak tilas, seolah-olah langkah kami menapak di jejak para pemberani itu. Seolah kami berbicara dengan jiwa mereka yang diam-diam menjaga Karanganyar.
Joko Songo adalah bara yang tak pernah padam, tersembunyi di balik debu sejarah namun tetap menyala di dada mereka yang mau mendengar. Kisah mereka bukan dongeng pengantar tidur, tapi genderang yang membangunkan jiwa-jiwa yang hampir lupa cara bermimpi tentang kemerdekaan sejati. Mereka tidak meminta dikenang, tapi langkah mereka masih menggema di setiap tanah yang kita pijak.Joko Songo mungkin hanya legenda. Tapi dari cerita mereka, aku belajar bahwa sejarah tak selalu ditulis dengan tinta. Kadang, ia ditanamkan lewat cerita yang diwariskan dengan cinta. Dan setiap kali aku mendengar angin berbisik di antara sawah Karanganyar, aku percaya, sembilan pemuda itu masih ada menjaga, menyemangati, dan mengingatkan bahwa kebebasan ini bukan hadiah, tapi warisan dari keberanian yang tak pernah ditagih balasannya.
Sekarang, obor itu berpindah ke tangan kita. Kita mungkin tidak menembus hutan atau menghadang peluru, tapi kita masih bisa memilih untuk peduli saat dunia mulai membeku. Kita bisa menyuarakan kebenaran, walau angin zaman mencoba memadamkan nyala. Tidak perlu menjadi raksasa, cukup jadi cahaya kecil yang menolak padam. Karena semangat Joko Songo adalah api yang tak meminta disembah, hanya butuh dijaga agar tetap hangat, agar masa depan tak kehilangan arah.(*)
Khanssa Natha Rajaswa