Upacara Apem Yaqowiyu dan Kenangan Terin

Aku masih ingat betul waktu itu. Usiaku mungkin baru 6 atau 7 tahun, ketika pertama kali diajak orang tuaku ke Upacara Apem Yaqowiyu di Jatinom, Klaten. Saat itu, aku malah merajuk karena ditinggal di rumah nenek. “Aku ikut, dong! Aku juga mau lihat!” protesku sambil nangis. Tapi, Ayah cuma tertawa lembut, “Nanti ramai sekali, Nak. Kamu bisa tersesat.”

Tapi Nenek membelaku, “Biarkan dia ikut. Biar tahu warisan leluhurnya.” 

Akhirnya, dengan tangan erat menggamit Ayah, aku dibawa serta. Dan itu adalah salah satu kenangan terindah dalam hidupku.

Bertahun-tahun kemudian, aku kembali ke Jatinom, kali ini bukan sebagai anak kecil yang penasaran, tapi sebagai orang yang ingin memahami lebih dalam. Aku menemui Bapak Tukijo, seorang sesepuh yang sudah puluhan tahun terlibat dalam upacara ini.

“Dulu waktu kecil, saya juga diajak orang tua seperti Anda,” ujarnya sambil tersenyum, matanya berbinar mengenang masa lalu. “Sekarang, giliran saya yang menjelaskan pada generasi muda.”

Aku duduk di serambi rumahnya yang asri, ditemani secangkir teh hangat. “Jadi, bagaimana sebenarnya prosesi Apem Yaqowiyu ini, Pak?”

”Seminggu sebelum acara, warga sudah mulai bergotong royong membuat apem,” cerita Bapak Tukijo. “Dulu, semua masih manual—tepung ditumbuk, santan diperas sendiri. Sekarang sudah ada mesin, tapi semangat kebersamaannya tetap sama.”

Aku membayangkan ibu-ibu di dapur besar, tertawa sambil mencetak adonan. Bau harum kelapa dan tape menguar di udara.

”Malam sebelum acara, warga berkumpul di Masjid Agung Jatinom untuk zikir dan tahlilan,” lanjutnya. Suasana malam itu digambarkannya penuh khidmat, dengan lampu minyak yang berkelap-kelip. “Ini bukan sekadar ritual, tapi juga permohonan keselamatan untuk seluruh masyarakat.”

Esok harinya, ribuan apem diarak keliling desa dalam “Kirab Apem”. “Apem-apem itu dibawa ke Pendapa Jatinom dengan iringan musik tradisional,” ujar Bapak Tukijo bersemangat.

“Lalu, ada prosesi doa di makam Ki Ageng Gribig (penyebar Islam di sini). Setelah itu, apem dibagikan ke semua orang—tidak peduli kaya atau miskin, tua atau muda.”

”Apem itu simbol permintaan maaf (‘afwan dalam bahasa Arab), tapi juga lambang kebersamaan,” jelasnya. “Dulu, saya lihat orang-orang berebut tapi tetap tertawa. Sekarang pun masih begitu. Ini bukti bahwa budaya kita kuat karena ada rasa saling berbagi.”

Aku teringat pengalamanku dulu. Saat itu, aku berdiri di kerumunan, mata berbinar melihat tumpukan apem digantung di pendapa. Seorang bapak tua memberiku sepotong. “Ini, Nak. Makanlah, dapat berkahnya,” katanya ramah.

Rasanya manis, sedikit asam dari tape, dan… hangat. Seperti rasa kebersamaan yang mengisi udara saat itu.

”Jadi, sebenarnya Apem Yaqowiyu ini bukan cuma ritual, ya Pak?” tanyaku.

Bapak Tukijo mengangguk. “Betul. Ini tentang menjaga tali silaturahmi. Dulu, orang-orang datang dari desa sebelah hanya untuk bertemu sanak saudara. Sekarang, mungkin zamannya sudah berubah, tapi nilai kebersamaannya harus tetap sama.”

Aku tersenyum. Mungkin, inilah mengapa kenangan masa kecil itu begitu melekat. Bukan hanya tentang apamnya, tapi tentang bagaimana sebuah kue kecil bisa menyatukan ribuan orang dalam senyum dan tawa.

Dan hari ini, aku bersyukur pernah diajak ayah ke sini. Karena sekarang, aku mengerti—warisan terindah bukan hanya benda, tapi juga cerita dan kebersamaan yang terus hidup.(*)

Oleh Fauzan Nurul Abbas