Wasiat Wali, Warisan Tradisi: Legenda Sunan Giri di Giren

          Dalam lintasan sejarah penyebaran Islam di Tanah Jawa, tercatat banyak kisah tentang perjuangan para wali dalam menanamkan ajaran tauhid di tengah masyarakat yang masih memegang teguh kepercayaan lokal. Salah satu sosok penting dalam perjalanan dakwah tersebut adalah Sunan Giri, seorang ulama dan penyebar Islam dari kalangan Walisongo yang dikenal dengan kesalehan dan kebijaksanaannya. Pada masa penyebaran Islam di tanah Jawa, Sunan Giri melakukan perjalanan dakwah ke berbagai daerah. Dalam salah satu perjalanan tersebut, beliau tiba di sebuah kawasan perbukitan yang kini dikenal sebagai Desa Giren. Ketika itu, waktu menunjukkan masuknya Salat Zuhur, sehingga beliau berupaya mencari sumber air di sekitar bukit bagian selatan desa untuk berwudhu. Namun, setelah berkeliling, tidak satu pun sumber air yang berhasil ditemui di area tersebut.

         Dengan keimanan yang teguh serta keyakinan spiritual yang mendalam, Sunan Giri kemudian menancapkan tongkatnya ke tanah sambil mengucapkan lafaz basmalah, Bismillahirrahmanirrahim. Dalam sekejab, terjadi sebuah peristiwa luar biasa. Dari titik tempat tongkat itu ditancapkan, memancarlah air yang jernih dan sejuk, membentuk sebuah belik atau sumur kecil di tengah kawasan perbukitan yang kering. Peristiwa ini disaksikan oleh beberapa warga dari kejauhan dengan penuh rasa takjub, karena sebelumnya tidak pernah ditemukan sumber air di lokasi tersebut.  Air yang keluar dari belik tersebut kemudian digunakan oleh Sunan Giri untuk berwudhu. Beliau mengambil sebuah tempurung kelapa yang ditemukan di sekitar lokasi dan menggunakannya sebagai gayung. Dengan penuh kekhusyukan, beliau membasuh wajah, tangan, kepala, dan kaki, sesuai tata cara wudhu yang diajakarkan dalam Islam.

        Setelah menyucikan diri, Sunan Giri berjalan menuju sebuah bukit lain yang terletak di sebelah barat, dengan ketinggian yang sedikit lebih tinggi. Di sana, beliau menghamparkan sajadah di atas tanah yang datar dan bersiap untuk menunaikan sholat Dzuhur. Sebelum memulai sholat, beliau mengumandangkan azan, mengangkat suaranya dengan ketulusan dan kehikmatan. Suara azan yang mengalun merdu itu menggema menyusuri lembah dan perbukitan, hingga menarik perhatian masyarakat yang tinggal di sekitar tempat tersebut. 

“Allāhu Akbar, Allāhu Akbar…”

“Asyhadu allā ilāha illallāh…”

“Asyhadu anna Muḥammadan rasūlullāh…”

“Ḥayya ‘alaṣ-ṣalāh, ḥayya ‘alal-falāḥ…”

“Allāhu Akbar, Allāhu Akbar…”

“Lā ilāha illallāh…”

         Masyarakat yang tinggal di wilayah sekitar, yang pada waktu itu sebagian besar masih menganut kepercayaan tradisional dan belum mengenal ajaran Islam, dikejutkan oleh lantunan azan yang asing bagi mereka. Namun, suara tersebut membawa ketenangan dan kedamaian yang menggugah rasa ingin tahu. Meskipun tidak ada satu pun dari mereka yang mendekat untuk ikut serta dalam peleksanaan sholat, banyak yang mengamati dari kejauhan, bersembunyi di balik pepohonan atau semak-semak, memperlihatkan sosok yang tengah beribadah dengan khusyuk itu. Sunan Giri tetap menunaikan sholat Dzuhur seorang diri dengan penuh kekhidmatan.

      Setelah selesai, beliau tidak segera melanjutkan perjalanannya. Sebaliknya, beliau duduk sejenak di tempat itu dan memulai menyampaikan pesan-pesan moral dan ajaran kebaiakan. Dengan tutur kata yang lembut dan bersahaja, beliau menjelaskan makna sholat, pentingnya menyembah Tuhan Yang Maha Esa, serta mengajak masyarakat untuk menjalani kehidupan yang bersih, damai, dan berlandaskan nilai-nilai ketauhidan. Dakwah yang beliau sampaikan sederhana namun menyentuh, disampaikan dalam bahasa yang mudah dipahami, sehingga mulai membuka hati sebagian warga terhadap ajaran Islam.

         Setelah menunaikan sholat Dzuhur dan menyampaikan pesan-pesan dakwah kepada masyarakat yang mulai tertarik mendengarkan ajaran beliau, Sunan Giri melanjutkan kembali perjalanannya ke wilayah lain untuk menyebarkan agama Islam. Walau hanya singgah dalam waktu yang singkat, kehadiran beliau meninggalkan kesan yang sangat mendalam bagi penduduk setempat. Oleh karena itu, masyarakat setempat kemudian menamai daerah tersebut dengan sebutan “Giren” gabungan dari kata Giri, yang merujuk pada nama Sunan Giri, dan Leren, yang dalam bahasa Jawa berarti beristirahat. Nama tersebut menjadi penanda bahwa tempat itu pernah menjadi lokasi persinggahan seorang wali dalam perjalanan dakwahnya di Tanah Jawa.

        Jejak peninggalan Sunan Giri tidak lenyap ditelan zaman. Beberapa tempat yang diyakini memiliki kaitan erat dengan keberadaan beliau masih dijaga dan dihormati oleh masyarakat hingga saat ini. Salah satu yang paling dikenal adalah Sumur Kembang, yaitu mata air yang dipercaya muncul dari tongkat yang ditancapkan oleh Sunan Giri. Sumur ini berbentuk persegi dan telah diberi atap sebagai pelindung. Meskipun berada di daerah yang minim sumber air, sumur tersebut tidak pernah mengering, dan airnya tetap jernih serta sejuk. Warga meyakini bahwa sumur ini memiliki nilai spiritual serta kekuatan gaib, sehingga mereka memperlakukannya dengan penuh rasa hormat. 

      Tidak jauh dari lokasi sumur, terdapat sebuah bangunan kecil yang disebut punden, yang juga dianggap sakral. Di dalamnya tersimpan sebuah peninggalan berupa belahan tempurung kelapa, yang menurut kepercayaan masyarakat, pernah digunakan oleh Sunan Giri untuk mengambil air wudhu. Punden tersebut dikelilingi oleh pepohonan besar yang rimbun, menciptakan suasana hening dan penuh kesan mistis. Letaknya yang berdekatan dengan kompleks pemakaman tua semakin memperkuat nuansa spiritual kawasan ini. Sebagai bentuk pelestarian tradisi dan penghormatan kepada leluhur, masyarakat Desa Giren mengadakan ritual tahunan yang disebut sedekah desa. Kegiatan ini diselenggarakan setiap tahun setelah masa panen kedua, mengingat lahan pertanian di desa tersebut merupakan sawah tadah hujan yang hanya dapat ditanami pada musim-musim tertentu. Upacara biasanya dilaksanakan pada sore hari, setelah waktu sholat Ashar , sekitar pukul tiga. Setiap kepala keluarga membawa nasi tumpeng lengkap dengan ayam panggang, yang disusun di area punden sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen serta doa agar desa senantiasa dilimpahi keberkahan dan keselamatan.

        Tradisi ini tidak hanya diikuti oleh warga Giren, tetapi juga oleh masyarakat dari desa-desa sekitar. Anak-anak turut ambil bagian dengan penuh semangat, masing-masing membawa ayam panggang milik mereka sendiri, menciptakan suasana yang meriah meskipun tetap dijalankan dalam nuansa sakral. Acara ini menjadi simbol kebersamaan sekaligus bentuk nyata dari semangat gotong royong yang masih terpelihara dengan baik di tengah masyarakat. Menurut penuturan para sesepuh desa, sebelum meninggalkan wilayah Giren, Sunan Giri sempat menyampaikan sebuah pesan penting kepada masyarakat.

      Beliau berwasiat agar Sumur Kembang ditimpa dengan “gong dua pangkon”, yakni dua set gong tradisional Jawa. Pesan ini dimaknai sebagai bentuk perlindungan spiritual agar wilayah tersebut terhindar dari bencana besar, khususnya yang berkaitan dengan air—seperti banjir, atau bahkan kemungkinan berubah menjadi lautan. Hingga kini, wasiat tersebut masih dipercayai dan dijaga dengan penuh keyakinan, menjadi bagian dari kearifan lokal yang memperkuat nilai-nilai sakral dalam kehidupan masyarakat Desa Giren.(*)

Oleh Raras Yunitasari