Di lereng selatan Kabupaten Tegal, tak jauh dari kawasan wisata Guci yang terkenal dengan pemandian air panas alaminya, terdapat sebuah desa bernama Kesuben. Desa ini dikenal sebagai salah satu wilayah yang subur dan kaya akan hasil pertanian. Tanahnya yang gembur dan iklimnya yang sejuk menjadikan berbagai tanaman tumbuh subur, terutama padi, durian, dan dukuh (duku) yang menjadi ikon desa.
Letak Desa Kesuben sangat strategis, berada di jalur penghubung antara pusat kecamatan Lebaksiu dan kawasan wisata alam Guci. Banyak wisatawan yang melewati desa ini dan singgah sejenak untuk membeli hasil bumi langsung dari petani. Selain pertanian, sebagian warga juga membuka warung dan penginapan kecil untuk wisatawan yang ingin menikmati suasana perdesaan yang tenang dan alami.
Konon, desa ini tidak muncul begitu saja. Sejarahnya bermula ratusan tahun silam, ketika seorang tokoh dari Kerajaan Cirebon bernama Mbah Subi melakukan perjalanan ke wilayah selatan. Ia adalah seorang abdi dalem yang dikenal bijaksana dan memiliki ilmu agama serta pengobatan tradisional. Dalam perjalanannya, Mbah Subi singgah di sebuah hutan lebat yang penuh dengan suara alam dan aroma harum buah durian yang jatuh dari pohon.
Tempat itu belum bernama, namun penduduk sekitar yang hidup terpencar dalam kelompok kecil menyebutnya sebagai tempat angker karena banyak pohon besar dan buah durian yang jatuh mendadak.
Tapi Mbah Subi tidak gentar. Ia justru merasa bahwa tanah itu subur dan penuh berkah. Ia pun menamai daerah tersebut dengan sebutan Durensawit, menggabungkan kata durian dan pepohonan sawit yang tumbuh liar di sekitar.
Mbah Subi memutuskan untuk menetap. Ia membangun sebuah pondok kecil dan mulai mengajar warga sekitar tentang bercocok tanam, etika hidup, dan ajaran agama Islam. Lambat laun, warga dari daerah sekitarnya mulai datang dan menetap, karena tertarik dengan ketenangan serta ilmu yang dibawa oleh Mbah Subi.
Semakin lama, pemukiman itu tumbuh menjadi sebuah komunitas. Karena peran besar Mbah Subi dalam membina masyarakat, daerah itu pun dikenal sebagai “Kesubian”, yang bermakna ”daerah tempat tinggal Subi” atau “kampung Subi”. Namun, karena perubahan dialek dan pelafalan dari waktu ke waktu, nama Kesubian lambat laun berubah menjadi Kesuben, sebagaimana disebut hingga kini.
Desa Kesuben berkembang pesat. Buah durian yang dulu menjadi penanda awal mula desa, kini menjadi komoditas unggulan. Banyak petani yang mengembangkan kebun durian lokal, yang terkenal manis dan berdaging tebal. Di musim panen, desa ini ramai dikunjungi pembeli dari luar daerah, bahkan dari luar provinsi.
Selain durian, desa ini juga terkenal dengan hasil dukuh atau duku yang tumbuh di pekarangan rumah warga. Buah ini menjadi ciri khas Kesuben, dan kerap dijadikan oleh-oleh khas jika melewati jalur menuju wisata Guci. Para pelintas tak jarang berhenti untuk mencicipi langsung buah dari pohonnya.
Dengan kekayaan alam yang melimpah dan lokasi yang menguntungkan, pemerintah desa mulai mengembangkan agrowisata. Wisatawan bisa menikmati tur kebun durian, memetik buah langsung, serta belajar tentang pertanian organik. Ini menjadi peluang ekonomi baru bagi pemuda desa yang mulai tertarik untuk mengembangkan kampung halamannya.
Kini, Desa Kesuben bukan hanya tempat yang subur, tapi juga menjadi saksi sejarah perjalanan seorang tokoh dari Cirebon yang membawa ilmu, keimanan, dan kehidupan baru. Warga tetap menjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh Mbah Subi, sambil terus berinovasi untuk masa depan desa yang lebih sejahtera dan mandiri.(*)
Oleh Dimas Haidar Muzayyin