Pohon Jati Bungkus Warisan Para Demang (Legenda di Dusun Sindangbarang)

Setiap nama tempat, daerah dan yang berkaitan dengan alam selalu menyimpan sebuah cerita yang tak terhingga jumlahnya, asal-usul dan urutan dengan cerita yang berbeda di suatu daerah. Keberadaan asal-usul itu menunjukan betapa banyak khasanah budaya yang ada di nusantara ini, yang perlu dikaji, diceritakan, didongengkan kepada semua generasi yang ada di suatu daerah.

Daerah itu dulunya begitu rimbun hingga pohon-pohon menjulang menembus langit, dan bambu-bambu tumbuh seolah hendak memeluk seluruh bumi, menciptakan hutan yang tak pernah disentuh cahaya matahari. Kondisi wilayah yang merupakan hamparan setelah laut selatan ini masih banyak terdapat rawa-rawa, kolam yang besar berisi air kehidupan yang tak tercemar. Perbukitan dan rawa yang strategis itu seakan terhampar di tengah dunia, tak pernah lelah menjadi tempat persinggahan ribuan jiwa yang datang dari utara dan selatan, seolah setiap langkah di tanahnya membawa kisah yang tak berujung.

Para penggawa pembesar Kerajaan Ngayogyakarta dengan utusan regenerasi kepemimpinan, penguasaan wilayah jawa menyebar melintasi jalur utama menuju daerah-daerah. Desa Sindangbarang yang merupakan perlintasan jalur utama persimpangan jalan Banyumas menuju daerah Pangandaran merupakan daerah yang akan dibahas dalam legenda Pohon Jati Bungkus Peninggalan Alam para demang yang bersinggah tak jauh dari jalur utama perlintasan antar Provinsi Jawa Tengah dan Provinsi Jawa Barat. Menurut penuturan para sesepuh dan pinisepuh, bahwa Desa Sindangbarang berasal dari sebuah “ Kedemangan “  yang dipimpin oleh seorang demang yang berasal dari Surakarta serta tinggal di gubug rawa pada tahun 1921 yang bernama  Demang Candra Prana, Demang Sawikrama, dan Demang Arsadrana.  

Dusun Sindangbarang memiliki sejarah tersendiri sebagai bagian yang tak terpisahkan merupakan pusat persinggahan yang lama bagi para demang secara turun temurun. Di wilayah seluas mata memandang, tempat di mana rawa-rawa mengalir seperti lautan dan perbukitan kayu tua menjulang bak dinding raksasa, kehidupan sehari-hari seakan bernafas dalam kesejukan abadi. Tempat ini menjadi surga perlindungan, dimana ribuan jiwa dari dusun jauh berlindung di pojok dunia yang dianggap tak bisa disentuh oleh bahaya apa pun. Pada zaman Demang Candra Prana, demang pertama yang bermukim di daerah ini setiap kali mengadakan pertemuan di hutan belantara yang rimbun dengan kayu kayu besar, dijadikan padepokan untuk acara bertemu, bermusyawarah dengan warga masayarakat yang mewakili sutu daerah penatus yaitu daerah atas dan daerah bawah.

Suatu ketika Demang Candra Prana melakukan kegiatan melintasi wilayah igir larangan dan gunung sumbul, sang demang memotong dahan pohon jati ketika naik igir larangan sebagai teken atau tongkat alat pegangan tangan dengan menerabas rerumputan seolah membelah lautan hijau, menciptakan jalan setapak yang belum pernah disentuh satu langkah pun manusia. Perjalanan melintasi perbukitan ini sang demang tidak langsung pulang ke gubug di atas rawa sedeng melainkan mengadakan pertemuan di daerah Astana yang kini disebut jalan Astana. Jalan Astana merupakan jalan setapak sangat rimbun yang penting untuk mengambil kebutuhan air bersih warga dan jalan itu harus selalu terlihat tertutup oleh rerumputan karena digunakan untuk tempat bertemu para penatus.

Dahan kayu jati sebagai teken atau tongkat pegangan sang demang ditancapkan di sebelah kiri atas kekayuan yang rimbun sang demang duduk bersender di pohon besar. Seiring perjalanan waktu dibawah rimbunya kekayuan didirikan sebuah gubug panggung bagi sang demang untuk melaksanakan kegiatan kepemimpinan dan penguasa kewilayahan meliputi cara bertahan hidup dengan pertanian, menabur ikan hasil pencarian bibit ikan di sungai dermaji, mengaji dan olah ilmu dengan belajar ilmu pencak silat yang mahir.

Penatus yang hadir di padepokan tak jauh dari gubug sedeng sekitar seratus meter jaraknya, sang demang menjadi ramai siang dan malam untuk belajar, semua perbekalan para wakil wilayah diletakkan menyender di pepohonan kayu pule, wringin kurung dan kayu waru itu, berjalan bertahun-tahun lamanya menjadi tempat makan dan minum setelah beraktifitas ceramah sang Demang Candra Prana. Setelah lama gubug padepokan menjadi rapuh dan diusulkan digantikan tiangnya sang demang terbelalak melihat keadaan kayu yang tumbuh diantara rimbunnya pohon didekatnya “pohon ini tidak boleh ditebang!” serunya lantang. “Kayu jati ini bukan sekadar batang pohon, ia adalah penanda, penjaga sunyi yang berdiri tegak sebagai lambang keamanan desa.” ucap sang demang lagi.

“Kayu jati ini akan tumbuh besar,” sang demang berkata kepada para perwakilan penatus, dan akan menjadi tempat informasi yang baik bagi kelangsungan masyarakat di sekitarnya. Seiring perjalanan waktu, kayu-kayu yang membungkus pohon jati itu runtuh seperti hujan deras, berguguran tanpa henti hingga seolah dunia menyaksikan lenyapnya segala yang pernah ada namun selalu dibersihkan oleh warga untuk melestarikan keberadaan tumbuh kayu jati bungkus itu dengan sempurna, pupuk dari kekayuan rapuh, air dari sisa-sisa minum para wakil penatus senantiasa menyirami pohon jati itu, hingga tumbuh besar dan menjadi batang pohon terbesar hingga kini.

Tangkai bawah tumbuh kayu jati ini sangat besar dan terdapat banyak lubang penyimpan makanan hingga benda-benda animisme yang ada dan dipercaya sebagai kekuatan supranatural. Pertumbuhan kayu yang sangat besar ini menarik perhatian bagi para pertapa melakukan semedi di dekat wilayahnya. Setelah keadaan kademangan berubah menjadi daerah pedesaan kini masyarakat yang datang dari semua penjuru jawa tengah dan jawa barat banyak yang menginap untuk melakukan pertapaan dan di ditugaskan juru kunci sebagai pemegang kunci tempat tersebut.

Informasi yang baik dari para demang terutama Demang Candra Prana, Demang Sawikrama dan Demang Arsadrana khusus kayu jati bungkus ini dimaksudkan sesuai pertumbuhan dahan ranting kayu yang tumbuh ke semua penjuru mata angin akan menunjukan tingkat kesuburan, ketentraman dan kedamaian sesuai pertumbuhan dahan ranting dan daunya yang lebat dan menghijau dan patahnya dahan ranting kayu, bergugurnya dedaunan pohon jati ini sesuai arah mata angin akan menunjukan kemurkaan, kebencanaan yang terjadi di sekitar wilayah tumbuhnya kayu ini, termasuk besar kecilnya pangkal dahan yang patah. “Kayu jati dengan dahan yang patah itu seperti lambang kepemimpinan yang hancur, menggambarkan kehancuran yang menyebar hingga ke setiap sudut desa, mengancam masa depan yang telah lama dipertahankan,” ucap ketiga demang tersebut.

 Legenda Jati bungkus akan selalu menjadi cerita warga masyarakat desa Sindangbarang dengan di peliharanya sebuah pemakaman para pendahulu desa, dibuat lapangan olah raga Candra Prana yang luas, area pendidikan warga masyarakat. Sebagai bentuk penghargaan dilestarikan dibersihkan dan dirawat oleh penjaga kunci sang juru kunci yang bergantian secara berurutan sesuai pemahaman dan perkembangan jaman. Menjadi tempat yang dikeramatkan oleh warga masyarakat pada masa kini diharapkan menjadi sejarah pertumbuhan kayu yang berumur panjang dan tidak rapuh.(*)

Catatan Narasumber: Rusilam, S. H (Kepala Desa Sindangbarang).

Oleh Fatma Ratri Nur Ramadhani