Desa Bojonggede yang kini telah menjadi bagian dari kecamatan Bojonggede dan menjadi bagian dari Kabupaten Bogor. Bojonggede ini merupakan wilayah yang strategis karena sangat dekat dengan ibukota kabupaten Bogor yaitu Cibinong. Desa Bojonggede ini merupakan desa yang mandiri. Salah satu yang menarik di desa ini adalah pasarnya disana pusat perputaran ekonomi yang sangat deras dan memiliki Stasiun KRL (kereta rel listrik) yang menghubungkan ke Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.
Pada zaman yang terus berkembang kita mesti mengetahui awal mula daerah ini agar mengetahui nenek moyang kita dan dapat melestarikan budaya dan sejarahnya agar tidak punah ditelan masa,
Berikut saya cerita rakyat desa ini dan tidak lupa saya akan menceritakan pengalaman pribadi saya di desa ini yang tidak akan saya lupakan seumur hidup.
Berbicara sejarah memang menjadi daya tarik tersendiri bagi publik, tak terkecuali Sejarah tentang Gagang Golok di Desa Kedung Waringin, Kampung Kedung Jiwa RT 03 RW 09, Bojonggede, Kabupaten Bogor itu berbentuk batu yang menyerupai Gagang Golok. Konon katanya, batu Gagang Golok ada kaitannya dengan zaman Kerajaan PaJajaran.
Seorang warga, Yatno mengatakan, Gagang Golok masih berkaitan dengan Sejarah lainnya di wilayah Kecamatan Bojonggede.
“Ini dari zaman Sejarah dahulu ya. Ini berdasarkan yang diceritakan bahwa ada sejak zaman kerajaan Pajajaran. Di sini ada dua. Di sini batu gagang goloknya dan di area Perumahan Gaperi Genteng Biru itu ada batu tapak. Sejarah orang tua dulu seperti itu,” kata Pak Yatno.
Pak Yatno menyatakan bahwa dirinya sudah dari tahun 1994 tinggal disekitar Gagang Golok. “Kalau kata sesepuh pertama di sini, H Adi. Pernah digali dan tidak ditemukan apa-apa. Sejak saya datang ke sini itu namanya sudah gagang golok. Ya kalau berdasarkan sejarah-sejarah zaman dulu itu ada gagang golok yang nancep di sini.”
Sementara itu, terkait masa lalunya, di area Gagang Golok sempat diletakkan kelambu yang berputar mengelilingi batu tersebut.
”Dulu itu di sini ada kelambunya, tapi sekarang sudah tidak ada seiring berjalannya waktu,” ungkap dia.
Terkait penelitian, pak Yatno mengaku bahwa banyak pihak yang sudah menghampiri Gagang Golok.
“Kalau yang datang ke sini dari berbagai kalangan. Dari pihak penelitian pun sudah ke sini. Nantinya katanya di sini akan diperbaiki ataupun diperindah lokasinya,” bebernya.
Selain itu, Gagang Golok menyimpan kisah tersendiri dan memiliki hubungan dengan Sejarah lainnya.
“Ini ada kaitannya dengan batu tapak. Kata orang seperti itu,” tegasnya.
Tak hanya itu, jika malam hari, pak Yatno memberi tahu bahwa banyak yang terjadi di luar nalar manusia.
“Banyak kalau cerita di luar nalar. Malam-malam sering terdengar suara kereta kencana, tapi saya belum pernah melihat. Bulan kemarin, ada orang yang mendengar kereta kencana dan ada suara gamelan,” katanya.
Terlebih dari hal itu, bagi saya desa ini seperti rumah, tempat istirahat, tempat berkeluh kesah, tempat untuk bersandar. Saya mempunyai perasaan yang berbeda kepada desa ini, perasaan ini muncul setiap saya Kembali kepadanya perasaan yang tenang, adem, sangat lega rasanya dan sulit untuk diutarakan lewat tulisan.
Saya memiliki pengalaman pribadi yang banyak sekali di desa ini, walau saya lahir di kota Bogor tetapi saya tumbuh dan besar di desa Bojonggede, pengalaman yang paling berkesan adalah ketika saya berkekeling desa menggunakan sepeda BMX saya. Si kuning namanya karena berwarna kuning dan ini hasil dari tabungan saya.
Saya mulai berkekeling selepas Salat Subuh. Kami berlima dan berangkat setelah semua sudah berkumpul di pos ronda. Kami jalan menyusuri perkampungan dan perkebunan warga. Suasana pagi yang sangat sejuk dan tenang.
Setelah itu kami melewati Pasar Bojong yang sangat ramai oleh pengunjung. Oh ya pengunjung pasar tidak hanya dari desa ini tetapi dari desa lainnya seperti Desa Kedung Waringin, Waringinjaya, Cimanggis dan Desa Susukan, bahkan dari desa Pabuaran yang dekat dengan Citayam Depok.
Kami terjebak oleh macet saat itu sehingga kami memutuskan untuk mencari jalan pintas niat awalnya untuk menghindar dari macet ini tapi ketika menyusuri jalan pintas itu ternyata kami berlima nyasar dan ada di Cikaret salah satu wilayah yang ada di Kecamatan Cibinong ibukota Kabupaten Bogor.
Kami memang menghindari macet tapi kita nyasar ke tempat yang jauh, kami pun merasa pasrah dan Lelah tapi disisi lain kami senang sekali walaupun nyasar kita bisa tahu tempat baru menurut kita, kita berpetualangan setelah itu kami bermain lebih jauh lagi hingga ke pinggiran depok dan saat siang kami meneduh di salah satu tukang es kelapa dan istirahat sejenak sambil ketawa ketiwi. Minum es kelapa sudah dan kami pun pulang Kembali ke desa kami melewati jalan yang diberi tahu oleh tukang es kelapa.
Pengalaman pribadi kedua saya, di desa ini saya mengenal olahraga sepakbola, dan inilah yang membuat saya jatuh cinta dengan olahraga sepakbola. Suatu ketika ketika saya berusia 6 tahun, saya masih ingat, saya bersama teman-teman saya bermain bola di lapangan dekat desa tetangga, saya awalnya hanya menonton saja, tetapi salah satu teman memaksa saya untuk bermain, mau tidak mau saya harus main. Dan sejak itulah saya sangat menyukai sepakbola.
Sebagai penutup, saya berterima kasih kepada bapak saya, kakek saya, Pak Slamet, dan Pak Yatno yang sudah merelakan waktunya untuk menjadi narasumber saya, semoga tugas ini menjadi amal pahala untuk kita semua.(*)
Oleh Muhammad Farrell Hidayat Putra