“Libur telah tiba, libur telah tiba, libur telah tiba, hari bergembira!” suara nyanyian nyaring terdengar seluruh penjuru rumah oleh seorang gadis kecil berusia 12 tahun, Aurora namanya.
“Dik, coba bawakan koper hitam yang ada di dekat pintu,” ucap suara lelaki yang sedang sibuk memeriksa mobil.
“Baik, Yah, aku segera ambilkan,” ucap gdis kecil tersebut sambari tetap bernyanyi dengan nada sedikit pelan.
Setelah semua persiapan telah selesai, Aurora dan keluarganya segera menempuh perjalanan untuk pulang ke kampung halaman. Dalam perjalanan sepoi angin menyerka wajah Aurora, Aurora sangat antusias menyambut liburan kali ini, kampung halaman membuatnya berjumpa kakek dan nenek serta teman teman yang lama tak jumpa.
Setelah menempuh perjalanan panjang yang memakan waktu 5 jam, waktu yang menunjukkan pukul 22.00 malam keluarga Aurora telah sampai di Desa Tegalsambi, Jepara.
“Nenek, Kakek, Aurora kangen sekali,” ucap aurora setelah turun dari mobil sambari berlari untuk memeluk nenek dan kakeknya.
Kakek Yanto seorang penasihat desa yang tinggal selama hidupnya di Desa Tegalsambi bersama sang istri bernama Sulastri.
“Kalian bagaimana kabarnya? Sehat semua kan?” tanya nenek
“Alhamdulillah sehat, Bu, Pak,” ucap Ayah Aurora.
Setelah bersapa rindu karena lama tak bertemu Ayah, Ibu dan Aurora beristirahat untuk melepas lelah setelah perjalanan panjang.
Wajah mentari masih sayu, embun dingin enggan pergi dari dedaunan, langit belum biru sepenuhnya. Aroma tanah usai hujan masih terasa. Suara khas hewan berkokok mulai terdengar. Bising jam beker mendukung jiwa untuk bangun dari lelap malam. Aurora gadis mungil berambut pendek membuka jendela kamar seraya mengirup udara segar. Dilihatnya keramaian orang dari jarak satu meter tepat dia berdiri. Dengan penuh antusias beranjaklah dia dari tempat tidur menuju keluar rumah.
Dia terpaku melihat satu arah menyisakan tanya, kakeknya yang sedang membaca koran pagi sambari meminum kopi pun dia hampiri,
“Kek, sedang apa mereka berkumpul?” ucapnya sambari menunjuk ke satu arah.
Dengan suara lirih kakek menjawab, “Ada tradisi desa yang akan diselenggarakan pekan depan.”
“Tradisi apa, Kek? Sepertinya menyenangkan dengan persiapan di tengah keramaian itu.”
“Tradisi untuk tolak bala, Nak, namanya Perang Obor yang selalu dilakukan setiap Senin Pahing pada bulan Zulhijjah,” jawab Kakek Yanto.
“Kenapa tradisi itu harus dilaksanakan, Kek?” tanya Aurora kembali.
“Namanya juga tolak bala, Nduk, artinya menolak atau menyangkal bahaya maupun bencana. Warga sekitar sini masih mempercayai tradisi Perang Obor sebagai upaya menolak bencana,” jelas Kakek sambari menutup koran untuk memperjelas ucapannya.
Satu minggu waktu liburan Aurora berlalu, banyak hal yang telah dia lakukan bersama teman lamanya. Liburan yang menyenangkan baginya, melepas lelah dan bertemu teman lamanya. Hari ini tepat tradisi tolak bala bernama Perang Obor dilaksanakan. Sebelum acara, ada ritus di tujuh tempat, yaitu di rumah Lurah, makam Mbah Babadan, makam Mbah Gemblong, punden-punden leluhur atau cikal bakal kampung, dan perempatan. Jadi satu bulan itu ritual terus berputar bergantian dari tempat yang satu ke tempat yang lain.
Dari rumah Lurah sampai ke perempatan warga berjalan sembari mengarak benda bersejarah. Ada juga menyembelih hewan kerbau lalu darahnya dimasukkan ke dalam kendi setelah itu dikubur bersamaan kepala kerbau tersebut. Ada pertujukan seni wayang, hiburan orkes. Waktu slametan di perempatan jalan, warga saling lempar nasi. Malam sebelumnya diadakannya pengajian. Kakek Yanto selaku tetua kampung juga mengikuti setiap rangkaian acara itu.
Malam puncak pun tiba, setiap pemain telah bersiap untuk melaksanakan ritual tersebut. Hawa panas mulai terasa setelah salah satu obor dinyalakan. Pemain yang berjalan dari ujung jalan menyebar sambari membawa obor yang telah dinyalakan kemudian antara satu dan lainnya saling pukul dan menyerang menggunakan obor panas itu. Aurora yang melihat ritual tersebut merasa kagum namun juga banyak pertanyaan di kepalanya.
Malam semakin larut, semua obor telah digunakan dan terbakar dari ujung hingga ujung, tradisi tolak balak pperang obor telah usai. Rasa perih dimata tidak bisa dihindari karena hawa panas yang sangat terasa dengan abu yang mulai terbentuk yang berterbangan membuat Aurora dan keluarga memutuskan kembali ke rumah.
Sebelum masuk rumah, Aurora termenung dengan banyak pertanyaan yang dia tidak mengetahui jawabannya. Dia berpikir untuk bertanya kepada Kakek, namun sampai larut malam kakek belum kunjung pulang.
Begitu Kakek tiba, Aurora langsung bertanya, “Kakek, Aurora bingung, bagaimana bisa orang-orang yang terkena obor tidak merasa kesakitan ataupun terbakar?”
“Jadi sebelum perang obor itu dilakukan, ada ritual khusus untuk pemain yang membuat mereka tidak merasa terbakar atau kesakitan. Selain itu setiap pemain juga diwajibkan berpuasa seminggu sebelum acara. Namun jika ada pemain yang terluka akan langsung disembuhkan menggunakan minyak kelapa dan air lodoh. Air ini bukan sembarang air hanya pemain perang obor yang bisa menggunakan air tersebut, bahkan warga lokal pun tidak diperbolehkan mengambil air itu,” jelas Kakek.
“Oh seperti itu ya kek, lalu bagaimana ceritanya tradisi ini bisa rutin dilakukan, Kek? Siapa yang memulai tradisi ini?”
“Awal mulanya perang obor ini berasal dari legenda Ki Gemblong, konon dulu di Desa Tegalsambi, tinggal seorang pria kaya raya bernama Mbah Babadan. Dia memiliki banyak hewan ternak seperti sapi maupun kerbau. Karena terlalu banyak Mbah Babadan tidak sanggup untuk mengurus semua hewan ternaknya itu,” ucap Kakek.
Kakek berhenti bicara sejenak untuk menikmati kopi yang telah disediakan Nenek.
“Lalu bagaimana, Kek?” tanya Aurora.
“Suatu hari Mbah Babadan bertemu dengan Ki Gemblong yang pekerjannya memelihara hewan ternak, karena sudah tidak sanggup Mbah Babadan menyerahkan hewan ternaknya untuk diurus Ki Gemblong” jelas Kakek.
“Ki Gemblong sendiri terkenal dengan sifatnya yang rajin dan tekun dalam merawat hewan ternak, karena itu Mbah Babadan sangat cocok untuk mempekerjakan Ki Gemblong. Suatu ketika, saat Ki Gemblong sedang menggembala hewan ternak di tepi sungai, ia melihat banyak ikan dan udang di tepi sungai. Ki Gemblong kemudian menangkap ikan dan udang tersebut untuk kemudian membakarnya di dalam kandang hewan ternak. Karena merasa senang ha tersebut ia lakukan beberapa kali. Kesibukan makan dan melupakan tugas utamanya untuk merawat hewan ternak milik Mbah Babadan. Akibatnya semua hewan ternak menjadi kurus dan banyak yang sakit. Lama waktu berselang Mbah Babadan mulai curiga dengan hal yang dialami hewan ternaknya. Tanpa sengaja, akhirnya ia menyaksian sendiri Ki Gemblong sedang menikmati ikan dan udang bakar di dalam kandang ternak miliknya.”
“Wow, sepertinya cerita ini semakin seru Kek, lalu bagaimana selanjutnya? Apakah mereka bertengkar?” tanya Aurora.
“Sabar dulu, akan kakek ceritakan hingga akhir kisahnya” jawab Kakek. “Melihat hal tersebut, seketika Mbah Babadan marah dan memukul Ki Gemblong menggunakan pelepah kelapa yang sudah dibakar. Tidak terima dengan pukulan itu, Ki Gemblong memberi balasan memukul menggunakan pelepah kelapa yang sudah dibakar. Alhasil, terjadilah perang obor yang membuat kandang ternak habis terbakar dan besarnya api membuat semua hewan ternak milik Mbah Babadan melarikan diri. Menyadari hal tersebut, Mbah Babadan dan Ki Gemblong terkejut mengetahui hewan ternak di kandang yang mulanya sakit, tiba-tiba manjadi sembuh dan bisa melarikan diri setelah terjadi perang obor. Seperti itu ceritanya.”
“Jadi setelah semua hewan ternak sembuh ada keyakinan bahwa Perang Obor merupakan sebuah tradisi tolak bala. Seperti itu ya, Kek?” tanya Aurora.
“Iya betul sekali. Pintar cucu Kakek ini” seru Kekek. (*)
Oleh Eldasari Myana Yulianingrum