Selesai menunaikan tugas prajurit yang kalah perang melawan pasukan VOC di Batavia, rombongan pasukan Mataram pulang dengan luka yang tidak hanya melekat di tubuhnya tetapi juga di dalam jiwa. Kekalahan itu, bukan sekadar soal kalah jumlah pasukan atau senjata, tetapi karena pengkhianatan dari dalam yang membakar habis persediaan logistik mereka. Bahan makanan, obat-obatan, bahkan perlengkapan perang, hangus tanpa sisa di tengah malam sebelum pertempuran besar pecah. Dalam kondisi lemah dan kelaparan, para prajurit tetap bertahan demi menjaga kehormatan, walaupun nyawa sebagai taruhannya.
Namun, ketika perang usai dan kemenangan tidak berpihak kepada Mataram, pasukan yang tersisa menghadapi dilema besar. Apakah mereka akan kembali ke Surakarta, dengan membawa aib kekalahan, atau tetap menjaga sumpah prajurit sejati yang pantang pulang sebelum menang. Sumpah itu, bukan sekadar kata, tetapi ikatan batin dalam dirinya terhadap tanah airnya.
Maka, mereka memilih untuk tidak kembali. Sebagian besar rombongan akhirnya pergi menyusuri hutan yang rimbun, dipenuhi dengan pohon-pohon yang rindang, dan rumput-rumput yang setinggi dada. Serta menyusuri lereng-lereng bukit. Diantara lebatnya hutan dan lereng-lereng bukit mereka mendirikan perkampungan sederhana, menyatu dengan warga setempat, dan perlahan-lahan melebur menjadi bagian dari tanah baru. Konon, dari prajurit inilah lahir pemimpin-pemimpin lokal yang teguh dan ulama-ulama yang bijak. Sebab, di dalam jiwa mereka tersimpan pengalaman pahit tentang perang, pengkhianatan, dan keikhlasan. Serta kedisiplinan, keteguhan hati, dan semangat pengabdian selalu terpatri dalam hidup mereka.
Mbah Jati adalah laki-laki berkulit hitam dan dengan postur yang tinggi besar menurut ukuran orang Jawa. Beliau adalah salah satu Prajurit dari Mataram (Prajurit selalu penduduk asli orang Jawa). Mbah Jati terkait dengan sumpahnya sebagai seorang prajurit. yaitu “Pulang membawa kemenangan atau mati dalam peperangan.”
Itulah sumpah yang dipegang teguh di dalam hatinya. Sumpah yang tak perlu dikatakan kepada siapapun. Tapi, selalu abadi didalam dirinya. Di sebuah tempat yang sekarang menjadi Desa Kaso (sarwodadi), Mbah Jati beristirahat.
Mbah Jati dan Mbah Tebet bersama sisa pasukannya membangun rumah yang jumlahnya bisa diitung jari dan membuka lahan pertanian. Mereka harus membuka hutan di wilayah tersebut, untuk membuka lahan pertanian serta membangun rumah. Hari demi hari, Mbah Jati bersama sisa pasukannya bekerja keras membabad rumput setinggi dada, menebang pohon dengan kapak, di mana itu merupakan pekerjaan yang sangat melelahkan. Mereka hanya bisa makan seadanya, hanya ditemani oleh singkong rebus dan gula merah. Sebagai penduduk baru diwilayah yang dibukanya.
Gula buatan penduduk tersebut di buat dengan cara mengumpulkan getah bunga pohon kelapa (manggar) dalam bumbung (bambu). Bunga getah tersebut diperoleh dengan memanjat pohon kelapa lalu memotong manggarnya. Di bawahnya, telah disediakan bumbung untuk menampung getah manggarnya. Setelah itu, ditunggu sehari semalam. Setelah sehari semalam lalu bumbung yang berisi getah tersebut diambil dan dibawa turun, lalu diganti dengan bumbung yang kosong. Getah manggar tersebut direbus di atas tungku dengan wajan yang terbuat dari tanah liat. Selama itu, getah manggar di aduk hingga berwarna kemerah-merahan. Barulah kemudian dicetak dengan menggunakan cetakan berbentuk lingkaran yang pipih atau setengah lingkaran, dan ditunggu sampai dingin.
Suatu hari, mereka bersama-sama ingin menebang pohon kepuh yang ukurannya sebesar sepuluh kali lipat orang dewasa. Sejak pagi, sudah lima kapak patah bahkan mata kapaknya selalu tumpul. Berdasarkan petunujuk batin yang diterima Mbah Jati, penebangan pohon kapuh yang besar itu harus dibatalkan. Pohon tersebut untuk dijadikan fakta sejarah generasi yang akan datang.
“Hentikan penebangan pohon ini, biarkan pohon ini tetap ada sebagai bagian dari sejarah, untuk generasi mendatang,” ujar Mbah Jati, sambil mengentikan para penebang pohon. Pada akhirnya, penebangan pohon pun dihentikan.
Sementara itu, semua kapak yang tumpul diasah oleh Singodikromo. Saat itu, Singodikromo mendadak dimintai tolong oleh orang terakhir yang menebang pohon kepuh itu. Namanya Darno. Dengan tergesa-gesa, ia minta kapaknya diasah terlebih dahulu.
“Tolong Mas Singo…punyaku diselakake (didahulukan). Untuk motong jati yang di sana,” ujar Darno sambil mengacungkan jari ke utara.
Diselakake, dalam arti yang dikehendaki Darno adalah didahulukan. Memang, diselakake memiliki arti yang jamak. Selain didahulukan, diselakake juga memiliki arti lain yaitu diselipkan atau dijepitkan.
“Siap Pak,” jawab Singodikromo dengan penuh semangat.
Tanpa curiga Darno bergegas pergi ke tempat robohnya pohon jati yang besar itu. Sementara itu, Singodikromo dengan tenang menyelipkan kapak milik Darno di antara dua pohon katilayu yang besarnya seukuran lengan.
Waktu istirahat siang, Darno menanyakan kapak miliknya kepada Singodikromo.
“Sudah?” tanya Darno.
“Sudah,” jawabnya dengan tenang.
“Di mana?” tanya Darno penasaran.
“Itu,” jawab Darno sambil menunjuk kapak yang terselip di pohon katilayu.
Darno mengambil dan memperhatikan kapaknya ternyata masih tetap tumpul dan nampak belum diasah.
“Kamu ini bagaimana, ditunggu hampir satu jam kapakku masih saja tetap tumpul. Apanya yang sudah?” tanya Darno sambil mengusap-usap mata kapak yang masih tumpul.
“Sudah dakselakake…sesuai permintaanmu,” jawabnya dengan tenang tanpa dosa sambil mengepulkan rokok.
“O…ala Ngo…Singo. Hem…,” ujar Darno.
Darno tidak jadi marah tetapi juga tidak tertawa. Ada rasa dongkol tetapi merasa salah karena telah mengucapkan kata ‘diselakake’. Yang membuat kesalahpahaman.
Penduduk lain yang tahu sifat Singodikromo yang jujur dan polos, hanya tersenyum geli. Mbah Jati yang memperhatikan dari kejauhan pun ikut tersenyum.
“Rasain!” ujar penduduk ketika itu.
Suasana pun menjadi cair dan penuh hangat dari para penduduk.
Sejak saat itu, penduduk sepakat tempat itu disebut dengan nama Kaso. Nama Kaso diambil dari sejarah asal-usul mereka memasuki wilayah ini, yang semula hanya untuk beristirahat. Kaso diambil dari kata “ngaso” yang artinya istirahat. Kalimat ngaso, menjadi Kaso karena wilayah tersebut menjadi tempat beristirahat yang nyaman. Warga ditempat itu, juga selalu mendapat wejangan (ajaran) Agama Islam dari Mbah Jati.
Di samping membuka lahan untuk pertanian, sambil beristirahat, Mbah Jati selalu menyampaikan ajaran Agama Islam yang dulu pernah disampaikan melalui Kanjeng Sunan Kalijaga. Selain itu, membuat sumur untuk tempat berwudhu dan juga membuat gubug untuk shalat, waktu itu disebut sebagai langgar. Langgar atau yang biasa dikenal sebagai Mushola tempat yang terbuat dari kayu dan ilalang, yang digunakan para penduduk untuk mengumandangkan adzan dan menunaikan sholat. Dan Mbah Jati pun yang menjadi imam salat di langar tersebut.
Para penduduk patuh terhadap semua ajaran yang disampaikan oleh Mbah Jati, karena mereka percaya bahwa itu merupakan karomah yang dimiliki oleh Mbah Jati. Oleh karena itu, penduduk setempat memberi nama tambahan yaitu Mbah Kramat Jati. Mbah Kramat Jati sering menyampaikan ajaran Islam kepada para penduduk setempa. Penyebaran agama Islam dilakukan secara perlahan dan alami, terutama saat para penduduk berkumpul dan beristirhat bersama. Dalam suasana kebersamaa itulah, nilai-nilai Islam disampaikan melalui cerita, nasihat, serta teladan dalam perilaku sehari-hari. Namun, sebagian besar para warganya lebih tertarik pada karomahnya. Mereka lebih tertarik untuk belajar karomah, dibandingkan teori yang tertulis di dalam Kitab Suci Al-Qur’an.
Pada suatu hari, ketika matahari tepat di atas ubun-ubun, Mbah Kramat Jati dan para penduduk setempat beristirahat sambil berdiskusi. Ditemani dengan suara-suara binatang yang masih ramai terdengar dari hutan yang mengelilinginya. Suara ular derik dan kicauan burung turut menyertai. Udara yang panas, karena jauh dari perbukitan dan gunung. Kalau dilihat dari pantai, perlu jalan tujuh kilometer ke utara, dan nampak gagah Gunung Slamet yang menjulang tinggi di sebelah selatan.
Sambil mengepulkan asap rokok lintingan yang dibuat sendiri (laswe = geles dhewe). Ditemani oleh secangkir kopi panas yang mengepulkan harumnya. Mbah Kramat Jati sengaja memberi peluang kepada penduduk untuk bertanya. Lalu, menengguk kopinya dengan aroma yang menyeruak dari cangkir yang masih mengepul.
Namun, beberapa menit menunggu, tak kunjung ada pertanyaan. Dalam batin Mbah Kramat Jati yakin bahwa setelah berbulan-bulan membuka lahan pertanian ini pasti penduduk ingin sekali mengungkapkan kegalauannya. Akan tetapi, penduduk hanya menunduk takut, tidak berani ada yang bertanya.
“Karena tidak ada yang mau bertanya, maka saya yang akan bertanya,” ujar Mbah Kramat Jati sambal menghisap rokok dan mengepulkan ke atas.
“Mengapa kalian lebih tertarik karomah dibanding syariat Islam?” ujar Mbah Karamat Jati dengan penuh tanya.
Singodikromo mendongakan kepala dan merapikan blanko yang dikenakannya. Dengan suara yang lembut dan matanya memandang ke tanah, tidak berani menatap Mbah Kramat Jati. Dengan tenang menjawab.
“Maaf… sebelum Agama Islam diajarkan kepada kami, kami telah memiliki Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa. Untuk membuktikan telah dekat dengan Gusti Allah, maka nampak berbagai karomah. Silakan saja yang lain menilainya sebagai sihir, tapi kami menyebutnya sebagai kramat. Karena sampai saat ini kami merasa kalah kramatnya dengan Mbah Kramat Jati, maka kami memohon bisa mendapat ilmu kramat dari Panjenengan (Kamu).”
Suasana sesaat jadi sepi. Suara-suara dari balik pohon yang belum ditebang, semakin ramai. Matahari telah bergeser kearah barat. Dan kini bayang-bayang jatuh di timur. Angin mendesis. Beberapa biji pohon kepuh jatuh ke tanah. Ada juga yang jatuh di depan Mbah Kramat jadi, lalu diambil.
“Mengapa biji ini jatuh?” ujar Mbah Kramah, sambil menunjukkan biji tersebut kepada para penduduk.
“Karena sudah tua, maka waktunya untuk jatuh,” jawab Singodikromo.
“Benar. Akan tetapi apakah yang tua saja yang jatuh?” tanya Mbah Kramat.
“Karena batangnya membusuk lalu terkena angin, maka yang muda juga bisa jatuh. Maksudku? Apakah tidak ada campurtangan dari Gusti Allah?” ujarnya lantang, namun dengan suara yang dalam dan penuh kelembutan.
Matanya menatap satu per satu wajah mereka. Hening sejenak menyelimuti, seolah kata-katanya menusuk ke relung hati pada pendengarnya.
“Tentu ada. Tetapi, kami punya pikiran untuk menjelaskan secara ilmiah. Pikiran kami juga dari Gusti Allah.” Ucapnya dengan tenang, disertai senyum tipis yang menyejukkan suasana.
Matanya menatap lembut kearah warga yang masih ragu, mencoba membangun jembatan antara keyakinan lama dan pemahaman baru.
Di bawah bimbingan beliau, masyarakat mulai mengenal Islam. Langgar kecil dari kayu dan ilalang menjadi tempat pertama kali terdengar suara adzan di tanah tersebut. Beliau bukan hanya seorang pendakwah, tetapi juga seorang yang bijak, sabar, dan mampu menjembatani nilai-nilai Islam dengan adat setempat. Dengan pendekatan yang lembut, beliau mulai memperkenalkan Islam dengan adat setempat. Beliau memperkenalkan Islam bukan melalui paksaan, melainkan melalui keteladanan.
Beliau membantu warga membuka lahan pertanian, menyembuhkan yang sakit, serta memberikan wejangan ajaran tentang hidup yang liurus dan bertakwa. Dari situlah, kepercayaan penduduk tumbuh dan ajaran Islam di terima. Kini, peninggalan spirituan beliau, dikenal dengan sebutan Petilasan Mbah Kramat Jati, sebuah situs yang terletak di salah satu sudut desa . Terletak ditempat yang tenang dan rindang, lokasi tersebut diyakini sebagai tempat beliau bermeditasi, menyepi, sekaligus mengajarkan ajaran Islam. Warga kerap melakukan ziarah ke sana, terutama pada hari-hari tertentu, terutama pada malam Jum’at atau menjelang bulan Ramadan dan Maulud Nabi.
Perubahan nama desa Kaso menjadi Sarwodadi kemudian digunakan secara resmi untuk menggambarkan harapan baru, “sarwo” berarti serba, dan “dadi” yang berarti jadi, yang merupakan sebuah harapan agar desa ini menjadi tempat yang Makmur dalam segala hal, baik duniawi maupun spiritual. Selain itu, juga mencerminkan perkembangan wilayah tersebut dari pemukiman kecil, yang tadinya hanya terdiri dari beberapa rumah saja, kini sudah menjadi desa yang lebih maju. Akan tetapi, jejak sejarah dan dakwah dari Mbah Kramat Jati masih tetap hidup dalam cerita-cerita lisan, doa-doa, dan nilai-nilai kehidupan warga hingga kini. Semangat Islam yang dibawanya terus diwariskan dalam bentuk kegiatan keagamaan, pengajian rutin, hingga kebiasaan, gotong royong yang masih dijunjung tinggi oleh warga Sarwodadi hingga saat ini. (*)