Tradisi Lomban di Jepara

Tradisi lomban merupakan tradisi yang diselenggarakan pada tanggal 8 Syawal atau 1 minggu setelah hari Raya Idulfitri. Tradisi ini sudah menjadi rutinitas tahunan bagi masyarakat Jepara karena mayoritas masyarakat Jepara bermata pencaharian sebagai nelayan. Tujuan dilaksanakan  tradisi ini yaitu sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat, khususnya nelayan atas nikmat yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa berupa hasil laut yang melimpah dan permohonan keselamatan selama melaut.

Masyarakat Jepara sering menyebut lomban dengan “Bada Kupat” karena pada hari itu banyak orang yang memasak kupat (ketupat) dan lepet disertai dengan berbagai macam masakan seperti opor ayam, rendang daging, tumis makanan, dan lain-lain. Orang-orang tidak hanya memasak kupat dan lepet untuk disantap bersama keluarga, tetapi juga dengan penuh semangat membagikannya kepada tetangga dan kerabat di sekitar. Meskipun setiap keluarga umumnya sudah membuat kupat dan lepet sendiri di rumah, tradisi saling memberi ini tetap dijalankan sebagai bentuk rasa syukur, kebersamaan, dan mempererat tali silaturahmi antarwarga.

Menurut warga sekitar, asal muasal adat Lomban di Jepara tidak lepas dari cerita perjalanan dua orang pejabat Kabupaten Jepara yang berlayar ke Pulau Karimun. Ketika kedua pejabat sedang berlayar, di tengah perjalanan mereka menghadapi badai yang sangat dahsyat yang membuat perahu mereka berguncang. Ki Ronggo Mulyo dan Encik Lanang berhasil menyelamatkan dua pejabat daerah tersebut. Dari kejadian tersebut, maka diadakannya adat larung kepala kerbau. Hal ini untuk mengungkapkan rasa syukur mereka kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Puncak acara tradisi lomban yaitu pelarungan kepala kerbau ke laut. Warga sekitar yang bernama Zani berkata bahwa kepala kerbau akan dilarungkan dan daging kerbau akan dimasak dan dibagikan kepada masyarakat. Kepala kerbau yang akan dilarungkan disimpan dalam kapal miniatur kecil bersama beberapa sesajen lainnya yang nantinya akan dilarungkan juga ke tengah lautan. Proses larung dimulai dari TPI Ujungbatu. Setelah prosesi larung langsung menuju ke pantai Kartini. Proses pelarungan ini mengandung makna untuk membuang kebodohan diri manusia, kepala kerbau sendiri disimbolkan sebagai sifat kebodohan karena kerbau diibaratkan binatang yang bodoh dan dijadikan simbol kebodohan orang Jawa pada zaman dahulu. Tujuan pelaruang miniatur kapal pembawa sesaji kepala kerbau, untuk menolak balak dan membawa rezeki bagi para nelayan.

Masih ada beberapa orang yang mengira bahwa tradisi lomban ini, khususnya pelarungan kepala kerbau mengandung hal-hal mistis yang tidak sesuai dengan agama. Namun, nelayan masih memiliki kepercayaan yang cukup kuat bahwa laut memiliki kemampuan magis, sehingga dalam melakukan aktivitas penangkapan ikan diperlukan perlakuan khusus agar keselamatan dan hasil tangkapan semakin terjamin. 

Proses pelarungan dipimpin oleh Bupati Jepara bersama rombongannya di sebelah barat Pulau Panjang, Jepara. Bupati Jepara berada di perahu besar yang sama dengan sesaji kepala kerbau. Pelarungan sesaji akan dipimpin doa oleh pemuka agama. Saat pelarungan, para nelayan mengiringi perahu besar yang membawa sesaji dengan membawa perahu yang berbeda. Setelah sesaji dilepas, beberapa perahu nelayan akan berebut untuk mendapatkan air dari sesaji itu yang kemudian disiramkan ke kapal mereka dengan keyakinan kapal tersebut akan mendapatkan banyak berkah dalam mencari ikan. Ketika berebut sesaji itu juga dimeriahkan dengan tradisi perang ketupat, di mana antar perahu yang berebut saling melempar dengan menggunakan ketupat. Setelah perang selesai, rombongan nelayan dan rombongan bapak bupati Jepara merapat ke Pantai Kartini dan beristirahat serta makan bekal yang dibawa dari rumah.

Dalam perayaan tradisi lomban, setiap masyarakat Jepara selalu merayakan tradisi ini dengan berpergian atau bersenang-senang di pantai. Pantai yang biasanya hanya ada beberapa orang dan bisa leluasa untuk digunakan berenang, saat itu justru menjadi sangat ramai sehingga tidak leluasa untuk berenang maupun bersantai. Selain itu, jalan menuju pantai di penuhi motor dan mobil yang menjadikan macet bahkan mereka terpaksa jalan kaki karena tidak adanya tempat parkir yang kosong. Ramainya kunjungan di pantai tidak membuat mereka patah semangat untuk merayakan tradisi lomban. 

Keramaian tidak hanya ada di pantai Kartini saja, namun pantai-pantai lain di Kabupaten Jepara juga ramai. Semua masyarakat Jepara merayakan di pantai yang dekat dengan rumah mereka seperti Pantai Blebak, Pantai Bondo, Pantai Pailus, Pantai Bandengan, dan masih banyak lagi. Mereka akan membawa bekal dari rumah untuk dapat dimakan bersama dengan keluarga di sana. Bahkan, ada yang membawa ikan dan ayam mentah agar bisa dibakar di sana. Selain di pantai, ada juga masyarakat yang merayakan dengan makan-makan di hutan. Saat itu hutan menjadi sangat ramai dengan adanya sound horeg dan banyak orang bakar-bakar di sana.

Perayaan lomban di pantai maupun di hutan mempererat tali silaturrahmi. Terkadang saat akan membakar bahan makanan yang dibawa dari rumah, ada bumbu yang kelupaan mereka bawa sehingga mau tidak mau meminta dengan orang baru yang ada di sana juga. Makanan yang hanya dimakan untuk keluarga, mengharuskan mereka berbagi karena telah meminta bumbu. Perkenalan anak kecil yang tidak sengaja bertemu di tempat menjadikan orang tuanya bertanya-tanya mengenai anak tersebut sehingga saling mengenal antar orang tua. Secara tidak sengaja, hal tersebut menjadikan masyarakat mengenal satu sama lain. 

Dalam penerapan pada tradisi Lomban di Jepara, masyarakat memanfaatkan sumber daya alam dengan melakukan kegiatan penangkapan ikan dengan tetap menjaga kelestarian sumber daya untuk mencegah kerusakan. Selain itu, keberadaan laut dan sumber daya yang dihasilkannya dapat memberikan manfaat bagi perekonomian masyarakat pesisir. Tradisi lomban juga mengingatkan kepada masyarakat supaya dalam menjalani kehidupan tidak takabur. Manusia juga diingatkan untuk tidak lupa bersedekah, baik antarsesama maupun kepada makhluk hidup lain.(*)

Oleh Eka Zilda Ameliani