Pada suatu masa di sebuah desa yang asri di Tegal, Jawa Tengah, hiduplah seorang lelaki tua bernama Mbah Wiryo. Hidupnya sangat sederhana. Setiap hari, ia bangun pagi-pagi sekali untuk pergi ke sawah, memikul cangkul tua peninggalan ayahnya. Meski usianya sudah senja dan tubuhnya tidak sekuat dulu, ia tetap bekerja keras. Mbah Wiryo dikenal oleh warga sebagai orang yang jujur, dermawan, dan pantang menyerah meski hidup dalam keterbatasan.
Suatu hari, saat musim tanam tiba, Mbah Wiryo memutuskan untuk memperluas lahan sawahnya. Ia menggali tanah lebih dalam dari biasanya. Di tengah-tengah pekerjaannya, cangkulnya mendadak mengenai benda keras. “Krek!” bunyinya. Mbah Wiryo terkejut dan segera menghentikan pekerjaannya. Ia penasaran dan mulai menggali dengan hati-hati. Beberapa saat kemudian, muncullah sebuah guci besar yang tampak sudah sangat tua, berlumut, dan tertutup tanah.
”Ini guci siapa ya? Mungkin peninggalan zaman dulu,” gumamnya.
Meski heran, Mbah Wiryo memutuskan untuk membawa guci itu pulang. Dengan susah payah, ia memanggul guci itu hingga ke rumah kecilnya yang sederhana. Ia membersihkan guci itu dan meletakkannya di sudut dapur. Mbah Wiryo berencana menggunakannya sebagai wadah penyimpanan beras, karena karung berasnya sudah mulai usang.
Malam itu, setelah makan malam yang sederhana, Mbah Wiryo menuangkan segenggam beras ke dalam guci itu. Ia kemudian tidur seperti biasa tanpa memikirkan apa-apa. Keesokan paginya, saat membuka guci untuk memasak, Mbah Wiryo sangat terkejut. Guci yang semalam hanya berisi sedikit beras, kini penuh hingga meluap.
”Apa ini benar? Apa aku sedang bermimpi?” serunya terheran-heran.
Untuk memastikan, ia mencoba lagi memasukkan beberapa butir koin tembaga ke dalam guci itu.
Esok paginya, jumlah koin itu menjadi berlipat-lipat. Mbah Wiryo pun sadar bahwa guci yang ia temukan bukan guci biasa—itu adalah guci ajaib yang mampu menggandakan apa pun yang dimasukkan ke dalamnya.
Hari demi hari, Mbah Wiryo menggunakan guci itu untuk memperbanyak hasil panen, uang, bahkan barang-barang berharga lain. Dalam waktu singkat, hidupnya berubah drastis. Rumahnya yang dulu reyot kini menjadi besar dan megah. Ia memiliki sawah yang luas, ternak yang banyak, dan hartanya melimpah ruah. Warga desa yang dulu iba melihat kemiskinannya kini justru kagum dan iri dengan kemakmurannya.
Namun, seperti kata pepatah, kekayaan kadang mampu mengubah hati manusia. Mbah Wiryo yang dulunya dikenal rendah hati dan suka menolong kini berubah menjadi sombong dan pelit. Ia jarang lagi bertegur sapa dengan tetangga dan tak pernah lagi berbagi rezeki. Ia lebih suka menghabiskan waktunya menghitung hartanya yang terus bertambah.
Suatu malam, ketika duduk di depan guci ajaibnya, muncul pikiran serakah di benaknya. “Kalau semua benda yang kumasukkan ke dalam guci ini bisa berlipat ganda, bagaimana kalau aku sendiri yang masuk? Mungkin aku akan menjadi dua orang! Aku bisa bekerja lebih keras dan lebih cepat mengumpulkan kekayaan,” katanya pada diri sendiri.
Tanpa memikirkan risiko, Mbah Wiryo segera bersiap. Ia memanjat guci yang besar itu dan perlahan memasukkan tubuhnya. Anehnya, begitu seluruh tubuhnya masuk, guci itu berguncang hebat dan menutup rapat. Tak lama kemudian, guci itu menghilang secara misterius, meninggalkan rumah megah Mbah Wiryo kosong tanpa pemilik.
Pagi harinya, warga desa heran karena Mbah Wiryo tak terlihat seperti biasa. Mereka berbondong-bondong datang ke rumahnya. Setelah mencari ke seluruh penjuru, mereka hanya menemukan rumah yang kosong,(*)
Oleh Citra May Yasyaa