Si Sabeni atau Sabeni bin Canam lahir pada tahun 1860-an di daerah Tanah Abang. Saat itu suasananya jauh berbeda dari sekarang, masih banyak pepohonan, jalan dari tanah, dan persawahan. Beliau lahir dari keluarga yang sederhana. Ketika muda beliau dikenal berani, jujur, dan punya rasa keadilan yang tinggi.
Sejak kecil beliau sudah menunjukan bakat yang luar biasa dalam silat. Si Sabeni belajar dari guru-guru silat, salah satunya guru silat tua dari cingkrang, ketika itu muncul aliran silat cingkrik, aliran yang dikembangkan oleh beliau. Silat cingkrik memiliki khas dengan gerakan lincah, banyak tangkisan, dan serangan yang gesit mirip seperti monyet.
Sabeni dikenal dengan jurus silat cingkriknya, jurusnya cepat, lincah, dan banyak gerakan kaki serta tangan yang cekatan. Banyak muridnya yang belajar darinya dan kelanjutkan ilmunya tersebut hingga sekarang.
Ketika dewasa, Sabeni dikenal warga sebagai “jawara kampung Tanah Abang”. Bukan jawara karena beliau preman, tapi beliau melindungi para warga dari tukang palak, mandor bengis, hingga tentara-tentara Belanda yang berbuat semena-mena. Beliau dikenal sangat berani mengahapi siapa pun, bahkan beliau pernah bertarung dengan petarung bayaran dari Belanda.
Nenek saya bercerita ketika beliau berumur 5 atau 6 tahun. Kampung nenek saya tidak jauh dari Tanah Abang. Sore itu, Nenek saya diajak buyut ke acara besar entah itu acara sunatan atau nikahan. Acara itu ramai orang-orang, di sana ada pertunjukan silat, di situlah nenek saya pertama kali melihat Si Sabeni.
Orangnya yang tidak terlalu tinggi, namu tegap, berwibawa, dan matanya yang tajam. Saat itu Sabeni sudah tua, rambutnya sudah bertumbuh uban, tapi ketika beliau berdiri, semua orang yang hadir langsung diam. Beliau berdiri di tengah panggung, kemudian memperagakan beberapa jurus silat. Ketika selesai beliau duduk, banyak orang yang menghampiri untuk mencium tangan beliau, nenek dan buyut pun ikut mencium tangan beliau.
Cerita kedua ketika nenek saya berumur delapan tahun. Suatu hari ketika waktu sore terdapat dua pemuda yang berkelahi, karena rebutan lapak di pasar. Orang-orang sudah ramai berkumpul menonton dua pemuda berkelahi. Tiba-tiba terdengar suara yang pelan “Udah…cukup.” Semua orang yang fokus menonton perkelahian langsung menengok ke belakang, ternyata itu adalah suara dari si Sabeni. Dia tidak teriak, tidak marah. Cuma jalan pelan saja ke arah dua pemuda itu.
“Lu pikir kalau berantem lu bisa dapet lahan itu? Lu berdua sekampung. Jangan karena duit sama lahan, jadi musuhan gini,” kata si Sabeni ke dua pemuda.
Satu pemuda menjawab “Tapi dia, Bang, yang mulai duluan” sambil terbata-bata.
Sabeni menghela napas dan menepuk pundak kedua pemuda tersebut lalu berkata, “Yang mulai duluan emang salah, tapi kala lu juga ikut lanjutin kan juga jadi ikut salah. Mending kita omongin baik-baik. Kita ini kan orang Betawi. Pegang adat bukan emosi.”
Kemudian dua pemuda itu terdiam sejenak. Pemuda yang mulai duluan pun meminta maaf dan bersalaman. Sabeni hanya bisa tersenyum melihat kejadian tersebut.
Ketika nenek sedang bermain dengan teman-temannya, nenek bertemu dengan Bang Sabeni lagi santai duduk di bawah pohon sambil menikmati waktu senja. Nenek dan teman-teman waktu itu langsung lari ke Bang Sabeni dan ngobrol bareng dan bercanda. Waktu itu ada anak yang tanya ke Bang Sabeni. “Bang, kenapa kala kita belajar silat gak langsung belajar mukul?” kata anak itu.
Sabeni jawab sambil senyum dan megang kepala anak itu. “Karena mukul itu gampang, tapi yang susah itu gimane kita nahan dirinya.”
Sabeni wafat pada tanggal 15 Agustus 1945. Sampai akhir hayatnya beliau masih dihormati, bukan hanya sebagai pesilat, tapi sebagai tokoh masyarakat. Masih banyak muridnya yang kemudian menjadi guru dan menyebarkan ilmu silat cingkrik hingga sekarang. Sekarang jurus silat cingkrik masih dipelajari diberbagai sekolah silat Betawi.
Nama Sabeni dijadikan nama jalan di daerah Tanah Abang sebagai penghormatan terhadap beliau dan juga Sabeni pernah dipentaskan dalam pentas lenong Betawi.(*)
Oleh Elgie Aimar Naufal Mumtaz