Pada zaman modern seperti saat ini, fenomena kekosongan relasional sering kali
dirasakan oleh sebagian orang di kehidupan sehari-hari. Kekosongan relasional merupakan
suatu kondisi emosional di mana seseorang merasa kurang memiliki kedekatan atau
keterhubungan sosial yang memadai; meskipun secara fisik dikelilingi orang lain, ia tetap
merasa sendiri. Kondisi ini dapat terjadi dalam lingkup pertemanan bahkan dalam keluarga
sekalipun.
Keluarga adalah unit sosial terkecil yang berperan dalam membentuk karakter dan nilai
sosial. Relasi keluarga yang harmonis dapat dibangun melalui komunikasi, empati, dan sikap
saling menghargai. Namun faktanya aspek tersebut sering kali tidak terwujud sebagaimana
mestinya. Kesibukan pekerjaan membuat sebagian orang tua tidak hadir secara emosional
bagi anaknya. Akibatnya, empati menjadi berkurang dan kasih sayang yang tidak lagi
ditunjukkan secara langsung, melainkan hanya sebatas pada pemenuhan kebutuhan materi.
Situasi ini menciptakan jarak emosional yang akhirnya menumbuhkan rasa sepi dan
kekosongan dalam diri anak. Rasa kesepian, kekosongan, dan emosional yang kurang ini
menimbulkan perubahan perilaku, sikap, bahkan kesehatan fisik.
Dalam industri perfilman, saat ini banyak film yang mengangkat isu terkait
kekosongan relasional. Adapun salah satu film Indonesia yang mengandung isu tentang
kekosongan relasional yaitu Tinggal Meninggal.
Film Tinggal Meninggal yang diproduksi oleh Imajinari Pictures yang ditulis dan
disutradarai oleh Kristo Immanuel. Awal mula film ini bercerita tentang Gema (diperankan
oleh Omara Esteghlal), seorang laki-laki yang hidup sendirian, menjalani hari-harinya dengan
rutinitas yang aneh dan membingungkan. Ia terlihat sering berbicara sendiri, melalukan
aktivitas tanpa arah untuk mencari perhatian, dan memperlihatkan perilaku ganjil seolah-olah
ada orang lain bersamanya. Namun seiring berjalannya cerita, penonton mulai menyadari
bahwa semua tindakannya adalah bentuk ekspresi dari kesepian dan kekosongan batin yang ia
alami.
Film Tinggal Meninggal menggambarkan kekosongan relasional yang begitu nyata
dalam kehidupan modern. Melalui tokoh utama yang tampak kesepian, berbicara sendiri, dan
terperangkap dalam imajinasinya, film ini menyingkap sisi gelap dari kehidupan manusia
yang kehilangan relasi emosional dengan orang lain. Simbol-simbol seperti ngengat yang
muncul dalam perut menggambarkan kegelisahan batin dan kehampaan yang perlahan
menggerogoti jiwa. Pada akhirnya, Tinggal Meninggal tidak sekadar bercerita tentang
kematian fisik, melainkan tentang kematian relasi yaitu saat manusia hidup tanpa benar-benar
terhubung. Film ini menjadi pesan bagi penonton untuk kembali menumbuhkan empati,
kehadiran, dan kedekatan di tengah dunia yang semakin tertutup dan kurang peduli terhadap
sesama.(*)
Oleh Kiara Sekar Ayu