IDENTITAS NOVEL
Judul Buku : Gadis Pantai
Nama Pengarang : Pramoedya Ananta Toer Penerbit : Lentera Di Pantara Jumlah Halaman : 272 halaman
Tanggal Publikasi : Tahun 2011 Kategori : Roman Keluarga
Pramoedya Ananta Toer atau yang akrab disebut Pram merupakan salah satu sastrawan besar Indonesia. Beliau lahir di Blora, Jawa Tengah, tepatnya pada tanggal 6 Februari 1925. Seorang putra sulung dari Kepala Sekolah Budi Utomo ini telah menghasilkan lebih dari 50 karya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Meskipun karyanya seringkali ditahan dan dilarang karena dianggap mengganggu keamanan negara pada masa Soekarno dan Soeharto, ia tetap gigih untuk tidak berhenti menulis hingga mendapatkan berbagai penghargaan dari luar negeri.
Novel Gadis Pantai ini ditulis oleh Pramoedya sewaktu ia menjadi tahanan di Pulau Buru. Bahkan novel ini juga sempat dilarang beredar pada masa rezim Orde Baru karena isi novelnya mengandung kritik sosial yang tajam. Novel dengan latar belakang sejarah kolonial Belanda ini mengangkat tema isu sosial tentang penindasan yang timbul dari feodalisme pada masa itu.
Novel Gadis Pantai menceritakan tentang seorang anak perempuan berusia empat belas tahun yang dikawinkan dengan Bendoro oleh bapaknya. Bendoro adalah seorang priyayi yang bekerja sebagai pegawai Belanda. Dengan status sosialnya, ia merasa berhak untuk menikahi Gadis Pantai untuk menjadi selirnya. Sebelumnya, Gadis Pantai hidup sederhana di kampung nelayan tempat tinggalnya. Hidupnya jauh dari kata “mewah” karena ia tinggal di kampung nelayan yang mayoritas penduduknya berpenghasilan rendah. Keseharian Gadis Pantai hanya diisi dengan menumbuk udang dan membantu ayahnya membenahi jala untuk mencari ikan di laut. Selayaknya orang tua, bapak Gadis Pantai menginginkan anaknya bisa hidup berkecukupan dan tidak merasakan susah payah sepertinya. Dengan harapan tersebut, bapak Gadis Pantai pun menerima tawaran utusan Bendoro untuk menikahkan anaknya dengan Bendoro. Di sisi lain, Bendoro menikahi Gadis Pantai bukan tanpa maksud. Ia menikahinya hanya karena untuk memenuhi kebutuhan seks nya hingga Bendoro mendapat wanita yang sederajat dengannya. Gadis Pantai bahkan menjadi istri percobaan kelima yang telah dinikahi oleh Bendoro.
Awal pernikahan Gadis Pantai diliputi kebingungan dengan jalan takdir yang ia jalani. Hari-hari yang dijalani Gadis Pantai setelah menikah dengan Bendoro berubah drastis dari sebelumnya. Semula ia sering keluar rumah untuk sekedar bermain ke Pantai, namun setelah menikah ia merasa terkekang karena lebih sering berdiam diri di dalam rumah. Ia tinggal di sebuah gedung megah. Dengan panggilan “Mas Nganten”, sebutan atau istilah bagi perempuan yang melayani kebutuhan seks para priyayi, Gadis Pantai memiliki pelayan pribadi yang biasa disebut Bujang. Bujang mengajarkan Gadis Pantai bagaimana sikap menjadi istri seorang Bendoro. Bujang juga seseorang yang selalu membantu dan menemani Gadis Pantai dalam hal apapun.
Awal menjadi istri Bendoro, Gadis Pantai mencoba belajar menyesuaikan diri, dari belajar tata krama hingga berpenampilan sebagaimana seorang istri Bendoro. Akhirnya lama kelamaan ia mulai menikmati berbagai pelayanan dan hak istimewa yang diterimanya. Akan tetapi kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Perlakuan tidak adil yang dialaminya sangat tidak sebanding dengan hak istimewa manapun. Hari yang seharusnya menjadi hari yang paling bahagia karena kehadiran putri mungilnya di dunia, justru rusak karena suaminya sendiri. Hari itu ia sangat bersemangat untuk memperlihatkan bayinya kepada sang suami. Namun kenyataan begitu pahit. Bendoro bahkan enggan melihat keadaan Gadis Pantai dan anak perempuannya. Ia diceraikan sepihak lalu diusir untuk kembali ke halaman rumahnya tanpa membawa bayi yang telah ia lahirkan.
- KELEBIHAN
Novel ini bagus sekali untuk dibaca. Novel ini memiliki sejarah masa lalu yang berharga untuk dipelajari. Sebuah sejarah feodalisme Jawa pada zaman dahulu yang menggambarkan kehidupan sosial pada masa itu. Dalam novel ini perempuan digambarkan sebagai manusia yang tidak diberikan hak berbicara dan berpendapat hingga akhirnya hal itu dipercaya lalu berkembang di luar lingkungan keraton dan diterima secara sukarela oleh masyarakat Jawa. Bahkan hal tersebut telah menjadi warisan budaya secara turun temurun di masyarakat kita. Novel ini mengingatkan kita terutama perempuan untuk terus memperjuangkan hak dan harga diri agar tidak dijadikan budak oleh siapapun.
- KEKURANGAN
Terdapat beberapa istilah menggunakan bahasa Jawa zaman dahulu yang mungkin akan sulit dipahami bagi orang yang tidak mengerti bahasa Jawa. Lalu penyampaian konflik dalam novel ini juga kurang tegas yang menimbulkan pembaca kurang merasakan konflik batin yang dialami oleh masing-masing tokoh.
NAMA : FINA HALIMATUS SHOLIHAH
NIM 2402020093
MATA KULIAH : DASAR-DASAR SINTAKSIS