Resensi Buku

Judul: Humankind: A Hopeful History

Penulis: Rutger Bregman

Tahun Terbit: 2020

Penerbit: Bloomsbury Publishing

Substansi Resensi

Buku Humankind: A Hopeful History karya Rutger Bregman menawarkan pandangan alternatif terhadap sifat dasar manusia. Selama ini, banyak teori klasik, misalnya dari pemikiran Thomas Hobbes hingga eksperimen psikologi seperti Milgram dan Stanford Prison Experiment yang membentuk anggapan bahwa manusia pada dasarnya egois, agresif, dan hanya mampu bertahan hidup melalui kontrol serta kekuasaan. Namun, pandangan pesimistis tersebut ditantang oleh Bregman dengan argumen bahwa manusia pada hakikatnya justru cenderung baik, kooperatif (kerja sama), penuh empati serta kasih sayang.

Dalam buku ini, Bregman menguraikan berbagai studi kasus sejarah, antropologi, dan psikologi. Misalnya, ia mengkritisi kembali validitas beberapa eksperimen terkenal yang menggambarkan sisi gelap manusia dan menunjukkan bahwa banyak di antaranya dibangun berdasarkan manipulasi atau interpretasi yang bias. Selain itu Bregman juga menyajikan kisah nyata tentang solidaritas manusia dalam situasi krisis dan genting, mulai dari kerja sama warga sipil saat perang hingga gotong royong masyarakat dalam menghadapi bencana alam maupun buatan. Dengan demikian Bregman ingin membalik pandangan: bahwa kebaikan dan rasa saling percaya antar manusia menjadi dasar yang memungkinkan berkembangnya peradaban.

Kekuatan utama buku ini terletak pada gaya penulisan Bregman yang sederhana (mudah dipahami orang awam), komunikatif, dan penuh cerita! Ia tidak hanya menyajikan data, tetapi juga narasi yang memikat sehingga pembaca merasa terhubung. Ide-idenya mendorong pembaca untuk merenungkan kembali tentang pendidikan, politik, ekonomi, dan kehidupan sosial. Misalnya, jika manusia pada dasarnya baik, maka seharusnya sistem pendidikan memberikan ruang rasa ingin tahu dan empati, bukan hanya disiplin ketat. Dalam ranah politik, ia mengajak pembaca membayangkan pemerintahan dan kebijakan publik yang lebih berlandaskan kepercayaan pada warga, bukan sekadar kontrol.

Namun buku ini tetap mendapat kritikan loh, misalnya beberapa pembaca dan akademisi menilai ide Bregman itu terlalu idealis dan optimis. Kenyataan sosial tetap menunjukkan bahwa konflik, diskriminasi, dan kekerasan tetap menjadi bagian dari kehidupan manusia. Tidak semua bukti yang Bregman sajikan dianggap mewakili untuk menjelaskan sifat dasar manusia secara umum. Meski begitu, nilai buku ini terletak pada keberaniannya dalam membuka ruang diskusi, mengajak pembaca keluar dari pandangan lama yang pesimis, dan menumbuhkan harapan baru tentang masa depan manusia.

Kesimpulan:

Konklusinya adalah, Humankind merupakan karya yang menginspirasi dan relevan terutama di era modern yang penuh tantangan, krisis, dan berita negatif. Bregman berhasil mengajak pembaca untuk melihat sifat manusia dari sudut pandang yang lebih optimistis (penuh harapan): bahwa empati, kerja sama, dan kebaikan bukanlah kemustahilan, melainkan bagian mendasar dari diri dan hakikat kita sebagai manusia. Ibaratnya, Bregman bertanya: “Memangnya manusia itu jahat? Bagaimana kalau sebenarnya baik?” Buku ini disarankan dibaca oleh mahasiswa, pendidik, politisi, maupun masyarakat umum yang ingin menumbuhkan kembali optimisme terhadap potensi dan harapan manusia dalam membangun dunia yang lebih adil, damai, dan penuh harapan.

Berikut ini elaborasi dalam bentuk poin ringkas:

Isi Buku

  1. Menantang pandangan pesimistis (Hobbes, Milgram dan Stanford Prison Experiment).
  2. Argumen utama Bregman adalah manusia pada dasarnya baik, kooperatif, dan penuh empati.
  3. Banyak eksperimen klasik yang dinilai bias atau manipulatif.
  4. Contoh nyatanya antara lain: solidaritas saat perang dan gotong royong dalam bencana.
  5. Disebutkan juga bahwa empati dan kepercayaan sebenarnya merupakan fondasi utama peradaban.

Kelebihan

  1. Gaya penulisannya populer, komunikatif, dan naratif.
  2. Menghubungkan sejarah, psikologi, dan antropologi dengan isu-isu kontemporer.
  3. Menginspirasi perubahan dalam bidang pendidikan, politik, dan kebijakan publik.

Kelemahan

  1. Dinilai terlalu optimistis dan idealistis
  2. Tidak semua bukti yang disajikan sifatnya umum.
  3. Berisiko mengabaikan sisi gelap manusia, seperti konflik dan kekerasan.

Dalam Humankind, pembaca ditantang untuk mempertanyakan hakikat manusia yang selama ini seakan menjadi doktrin yang mutlak kebenarannya: bahwa manusia pada dasarnya kejam dan egois; Humankind menjungkir balikan semua klaim itu. Humankind mengajak kita mempertanyakan hakikat kita: “Apa sebenarnya hakikat manusia?”, “Bagaimana jika manusia sebenarnya baik?” Penulis (Rutger Bregman) memaparkan berbagai “catatan historis” dan penelitian ilmiah dari berbagai disiplin keilmuan (misal psikologi dan antropologi) untuk mendukung argumennya/idenya. Di samping itu, ia juga membantah bukti-bukti yang diklaim sebagai “bukti bahwa manusia itu jahat.”

Salah satu argumennya adalah kenyatan manusia jahat itu disebabkan oleh efek “nosebo“: Jika semua orang meyakini bahwa manusia itu jahat, maka keyakinan tersebut akan/bisa menjadi kenyataan. Sebaliknya, “plasebo” menekankan jika semua orang percaya bahwa manusia itu baik, maka keyakinan tersebut akan/bisa menjadi kenyataan.

A cartoon of a child and a child

AI-generated content may be incorrect.

Buku Humankind mengingatkan pembaca bahwa kebaikan dan kerja sama adalah kodrat kita sebagai sesama manusia, serta harapan untuk masa depan yang lebih adil dan damai.

Nama: Muhammad Rizki Hafis Syahbana

NIM: 2502020052

Mata Kuliah: Dasar-Dasar Sintaksis

Dosen Pengampu: Dr. Asep Purwo Yudi Utomo, S.Pd., M.Pd.