Dalam dunia modern yang serba cepat dan sibuk ini, tidur sering kali menjadi hal pertama yang dilewatkan. Banyak anak muda, termasuk kita sendiri yang menganggap bahwa begadang menunjukkan tingkat produktivitas yang tinggi. Mereka tampaknya berpikir bahwa tidur adalah kesenangan baru yang dapat mereka nikmati setelah semua pekerjaan selesai. Padahal tanpa kita sadari, kebiasaan ini dapat menyebabkan masalah kesehatan fisik dan mental pada generasi muda. Coba ingat kapan terakhir kali kita tidur dengan tenang tanpa memikirkan tugas, notifikasi, atau masalah pikiran yang menumpuk?
Kementerian Kesehatan RI (2023) menyatakan bahwa orang dewasa rata-rata membutuhkan 7–8 jam tidur setiap malam agar fungsi tubuh dan otak dapat berfungsi dengan baik. Namun sayangnya, banyak sekali anak muda sekarang yang hanya tidur 4-5 jam setiap malam.
Alasannya sangat beragam, mulai dari pekerjaan sambilan, tugas kuliah yang menumpuk, hingga kebiasaan menonton media sosial yang awalnya singkat tetapi akhirnya berlanjut hingga larut malam.
Jika jam tidur berkurang, tidak hanya menyebabkan rasa kantuk di siang hari, tetapi juga berdampak pada penurunan daya konsentrasi, sistem imun yang melemah, dan peningkatan risiko stres bahkan depresi.
Gaya hidup digital yang menuntut tubuh tetap aktif bahkan saat malam tiba, semakin memperparah fenomena ini. Cahaya biru dari layar ponsel kita yang kita tatap setiap malam membuat otak kita tetap aktif dan menghentikan produksi hormon melatonin yang bertanggung jawab untuk mengatur siklus tidur kita. Padahal, tubuh sudah memberi tahu kita untuk beristirahat. Akibatnya, otak tetap “terjaga” meskipun tubuh sudah lelah dan rasa kantuk tidak muncul di malam hari tetapi saat bekerja atau kuliah.
Selain berdampak pada kesehatan tubuh, pola tidur yang buruk juga berdampak pada kesehatan mental. Remaja dan mahasiswa yang tidur kurang dari enam jam per malam lebih cenderung mengalami perubahan suasana hati, kecemasan, dan kesulitan untuk fokus. Menariknya, sebuah penelitian dalam Journal of Behavioral Studies (2025) di Indonesia menunjukkan bahwa remaja yang tidur kurang dari enam jam lebih cenderung mengalami stres dan marah. Ini menunjukkan bahwa kekurangan tidur berdampak besar pada kesehatan fisik dan mental. Oleh karena itu, tidur yang cukup adalah kebutuhan mendasar untuk menjaga kesehatan mental dan emosi stabil.
Tidur yang hilang sesungguhnya adalah tanda bahwa generasi muda sedang kehilangan keseimbangan hidupnya. Seringkali, karena kesibukan, ambisi, dan keinginan untuk tetap produktif, kita lupa bahwa tubuh juga membutuhkan jeda. Padahal, mendapatkan cukup istirahat justru meningkatkan fokus, kreativitas, dan daya tahan tubuh. Akibatnya, tidur harus dianggap sebagai bagian dari proses mencapai kesuksesan, bukan sebagai penghalangnya.
Sangat mudah untuk memulai menjaga pola hidup yang seimbang, seperti mengatur jadwal tidur dan bangun secara teratur, menghindari gawai sebelum tidur, dan mengurangi jumlah kafein di malam hari. Kebiasaan kecil ini dapat memiliki dampak besar pada kesehatan pikiran dan tubuh Anda, meskipun mungkin terlihat sepele. Tubuh yang sehat dan pikiran yang tenang akan membantu generasi muda berprestasi tanpa kehilangan waktu untuk bersantai. Pada akhirnya, produktivitas sejati tidak berasal dari orang yang terus memaksa diri untuk bangun, tetapi dari orang yang tahu kapan harus berhenti dan membiarkan tubuhnya beristirahat.
Oleh Naomi Asa Christ Cahya