Déjà Vu: Saat Otak Salah Ingat dan Kesadaran Menipu Diri Sendiri

Pernahkah kamu merasakan seolah-olah sedang mengalami suatu kejadian yang tampaknya sudah terjadi sebelumnya, walaupun kamu tahu itu tidak mungkin? Perasaan aneh ini dikenal sebagai déjà vu. Istilah déjà vu sendiri berasal dari Bahasa Prancis yang jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris memiliki arti ”already seen” atau “sudah pernah dilihat” dalam Bahasa Indonesia.

Menurut definisi yang diusulkan Neppe (1983), déjà vu merupakan kesan subjektif yang tidak tepat tentang keakraban terhadap pengalaman saat ini dengan masa lalu yang masih belum terdefinisi. Secara sederhana, déjà vu adalah perasaan bahwa situasi yang sedang dialami tampak akrab, meskipun sebenarnya itu adalah pengalaman.

Fenomena ini menarik perhatian banyak peneliti karena berkaitan dengan ingatan, persepsi, dan kesadaran, yang merupakan tiga elemen paling rumit dari otak manusia. Apa yang sebenarnya terjadi dalam pikiran kita ketika kita merasakan déjà vu?

Menurut Alan S. Brown (2004) dalam bukunya yang berjudul The Déjà Vu Experience: Essays in Cognitive Psychology, déjà vu bukanlah sekadar pengalaman yang bersifat mistis, melainkan respons kognitif yang muncul saat sistem memori otak mengalami kesalahan identifikasi. Otak keliru menafsirkan pengalaman baru sebagai sesuatu yang sudah familiar.

Brown menjelaskan bahwa fenomena ini memiliki hubungan yang erat dengan proses pengenalan tanpa adanya identifikasi menyeluruh (familiarity without recall). Ini berarti, seseorang merasakan keakraban dengan situasi tertentu tanpa mampu mengingat dari mana rasa akrab tersebut berasal. Dalam penelitiannya, Brown mengelompokkan berbagai tipe déjà vu berdasarkan konteks yang memicu pengalaman ini seperti tempat, orang, atau kejadian yang menimbulkan sensasi tersebut.

Bagaimana Otak “Salah Ingat”? Penjelasan dari sudut pandang neuropsikologis diberikan oleh O’Connor dan Moulin (2010) dalam artikel mereka yang berjudul “Recognition without identification, erroneous familiarity, and déjà vu” yang diterbitkan dalam Current Psychiatry Reports. Mereka menemukan bahwa déjà vu terjadi ketika bagian otak yang bertanggung jawab untuk memproses rasa akrab (terutama di lobus temporal medial) diaktifkan secara tidak tepat, tanpa didahului oleh aktivasi area yang mengingat detail memori.

Dengan kata lain, otak mengaktifkan “alarm keakraban” tanpa adanya bukti nyata bahwa kita pernah mengalami situasi tersebut sebelumnya. Fenomena ini sering di alami oleh orang-orang yang mengalami kelelahan berlebihan, stres, atau gangguan tidur, di mana sistem memori jangka pendek dan jangka panjang tidak sinkron.

Penelitian terbaru yang dikutip dari Kompas.com (2024) menunjukkan bahwa déjà vu memiliki empat bentuk baru, yaitu jamais vu, presque vu, déjà rêvé, dan déjà vécu. Masing-masing menggambarkan cara berbeda otak memproses sensasi ingatan dan pengenalan.

1. Jamais Vu (Belum Pernah Melihat)

Merupakan kebalikan dari déjà vu. Seseorang merasa asing terhadap hal yang sebenarnya sudah dikenal. Misalnya, seseorang tiba-tiba merasa rumah atau jalan yang biasa dilalui tampak asing. Menurut Nature of Neuroscience, hal ini terjadi akibat gangguan proses pengenalan otak, ketika informasi sensorik gagal dicocokkan dengan memori yang tersimpan.

2. Presque Vu (Hampir Melihat)

Dikenal sebagai fenomena tip-of-the-tongue, yaitu saat seseorang hampir bisa mengingat sebuah kata, tetapi tidak dapat menyebutkannya. Berdasarkan Current Directions in Psychological Science, kondisi ini muncul karena aktivasi pengenalan tanpa identifikasi memori yang  spesifik, sehingga  menimbulkan rasa frustrasi di ambang ingatan.

3. Déjà Rêvé (Sudah Pernah Memimpikan Ini)

Fenomena ketika seseorang merasa mengalami situasi yang sama seperti dalam mimpi. Misalnya, suasana sebuah tempat terasa identik dengan mimpi yang pernah dialami. Studi dalam Brain Stimulation menjelaskan bahwa hal ini muncul karena aktivasi pola saraf mirip dengan pengalaman mimpi masa lalu.

4. Déjà Vécu (Sudah Pernah Menjalani)

Merupakan bentuk paling kuat dari déjà vu, di mana seseorang merasa benar-benar pernah menjalani peristiwa yang sama, lengkap dengan emosi dan sensasinya. Hal ini sering disertai rasa disorientasi waktu dan kesan bahwa realitas sedang terulang kembali.Penemuan ini memperluas pemahamannya bahwa déjà vu bukanlah fenomena tunggal, tetapi merupakan kumpulan pengalaman yang rumit dalam mekanisme memori dan persepsi manusia.

Fenomena déjà vu sering disalahartikan sebagai akibat dari alam semesta paralel atau memori kehidupan lampau, padahal secara ilmiah hal itu tidak benar.

Secara neurologis, déjà vu melibatkan beberapa bagian otak seperti hippocampus, korteks parahippocampal, dan amygdala.

  • Hippocampus  berperan  dalam  memori  episodik  dan  kadang  salah  mengenali pengalaman baru sebagai pengalaman lama.
  • Korteks  parahippocampal  memproses  kefamiliaran  visual  dan  spasial,  sehingga
  • aktivitas berlebihnya bisa menimbulkan sensasi “pernah mengalami”.
  • Amygdala memberi efek emosional kuat pada pengalaman tersebut.

Aktivitas abnormal di lobus temporal, seperti pada penderita epilepsi, dapat memicu déjà vu akibat gangguan sinkronisasi otak.

Déjà vu menunjukkan betapa kompleksnya sistem memori dan kesadaran manusia. Apa yang kita anggap sebagai “kenangan masa lalu” terkadang hanyalah ilusi hasil kesalahan aktivasi otak. Dengan memahami mekanisme ini, kita dapat melihat bahwa déjà vu bukanlah pengalaman mistis, melainkan bagian alami dari cara kerja memori otak. Pemahaman ilmiah tentang déjà vu juga membuka peluang baru untuk penelitian di bidang psikologi kognitif dan neurosains, terutama dalam memahami gangguan persepsi dan fungsi memori manusia.(*)

Oleh Nadila Ainurravika