Legenda Goa Jatijajar

Di daerah selatan Jawa Tengah, tepatnya di Kebumen, terdapat sebuah goa indah bernama Goa Jatijajar. Goa ini tidak hanya terkenal karena keindahan alamnya, tetapi juga karena menyimpan kisah lama yang diwariskan turun-temurun. Konon, tempat itu menjadi saksi perjalanan hidup seorang pangeran bernama Raden Kamandaka, yang dikenal juga dengan sebutan Lutung Kasarung.

Dahulu kala, di Kerajaan Pajajaran, hiduplah seorang putra mahkota bernama Raden Kamandaka. Ia dikenal tampan, bijaksana, dan berbudi luhur. Namun, karena fitnah dari orang-orang iri di istana, ia terpaksa melarikan diri dari kerajaannya. “Lebih baik aku mengasingkan diri daripada menimbulkan pertumpahan darah di istana,” ujar Kamandaka lirih kepada dirinya sendiri sebelum meninggalkan istana di tengah malam yang sunyi.

Untuk menyembunyikan jati dirinya, Kamandaka menggunakan ilmu kesaktian hingga berubah menjadi seekor lutung, kera berbulu hitam legam. Dengan wujud itu, ia berkelana ke selatan, melewati hutan lebat dan sungai-sungai besar, hingga akhirnya tiba di sebuah tempat yang rindang penuh pohon jati yang berderet indah. Tempat itulah yang kelak disebut Jatijajar.

Suatu hari, di tengah kesunyian hutan, Lutung Kasarung bertemu seorang putri cantik bernama Dewi Kadarma, anak raja dari kerajaan kecil di wilayah selatan. Awalnya sang putri terkejut melihat seekor lutung yang bisa berbicara. “Siapa kau sebenarnya, wahai lutung yang bisa berbahasa manusia?” tanya Dewi Kadarma dengan nada penasaran. Lutung Kasarung tersenyum lembut, “Aku hanyalah makhluk yang mencari kebenaran dan ketulusan hati, wahai Putri.”

Sejak pertemuan itu, keduanya sering bertemu. Dewi Kadarma terkesan pada kebaikan dan kebijaksanaan sang lutung, meski wujudnya tidak seperti manusia. Lama-kelamaan tumbuhlah rasa cinta di antara mereka. Namun, Dewi Kadarma tetap bertanya-tanya siapa sebenarnya lutung itu. Suatu hari, ketika mereka sedang beristirahat di dalam sebuah goa, Lutung Kasarung memejamkan mata dan berdoa dengan sungguh-sungguh. Tiba-tiba cahaya terang menyelimuti seluruh goa, dan dalam sekejap, wujud lutung itu lenyap. Di hadapan sang putri kini berdiri seorang pemuda tampan berpakaian pangeran.

“Siapa engkau sebenarnya?” tanya Dewi Kadarma terkejut.
“Aku Raden Kamandaka, putra mahkota Kerajaan Pajajaran,” jawab pemuda itu dengan suara lembut. “Aku berubah menjadi lutung untuk mencari arti sejati dari cinta dan ketulusan.”

Dewi Kadarma tersenyum bahagia. Ia sadar bahwa cinta sejati tidak memandang rupa, melainkan hati yang tulus dan jujur. Sejak saat itu, goa tempat mereka bertemu dikenal dengan nama Goa Jatijajar, diambil dari banyaknya pohon jati yang berjajar di sekitarnya.

Masyarakat percaya bahwa kisah Raden Kamandaka dan Dewi Kadarma mengajarkan kita untuk tidak menilai seseorang dari penampilan, melainkan dari ketulusan hati dan kebaikan perbuatannya. Hingga kini, Goa Jatijajar berdiri megah di Kebumen, menyimpan keindahan alam sekaligus kisah luhur yang menjadi kebanggaan masyarakat setempat.

Oleh Syarifatul Istifangiyah