Tren lari di Indonesia kini tidak hanya menjadi simbol gaya hidup sehat tetapi juga kekuatan ekonomi yang tak bisa diabaikan. Data terbaru menunjukkan jumlah pelari di Tanah Air mencapai 242.627 ribu orang per Mei 2025. Angka ini naik drastis dibanding tahun sebelumnya dan menandai ledakan minat terhadap olahraga lari sebagai aktivitas harian maupun komunitas. Pandemi dulu mungkin menjadi pemicu awal, tetapi kini lari telah menjelma menjadi fenomena sosial sekaligus ekonomi.
Salah satu indikator kuat dari tren ini adalah meningkatnya jumlah event lari di seluruh Indonesia. Pada tahun 2025 saja tercatat 558 event lari diselenggarakan di berbagai kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta, Makassar, dan Palembang. Jenisnya pun beragam mulai dari Family Run hingga Virtual Run yang memungkinkan partisipasi tanpa batas lokasi. Bulan November bahkan diprediksi menjadi puncak penyelenggaraan dengan 112 event dalam satu bulan. Keragaman format dan aksesibilitas teknologi turut memperluas partisipasi masyarakat dari berbagai latar belakang.
Lebih dari sekadar olahraga, lari kini menjadi bagian dari sport tourism yang memberikan dampak luas bagi perekonomian nasional. Sebagai contoh BTN Jakarta International Marathon 2025 berhasil menciptakan perputaran ekonomi sebesar Rp127,1 miliar. Dampak serupa juga terlihat pada Maybank Marathon di Bali yang menyumbang Rp170,8 miliar atau naik hampir 37 persen dibanding tahun sebelumnya. Jakarta Running Festival yang diikuti lebih dari 27.000 pelari juga memicu lonjakan permintaan di sektor perhotelan, transportasi, kuliner, dan retail olahraga.
Kontribusi ekonomi ini tentu tidak berhenti pada penyelenggara event saja. Sektor informal yang mencakup para pelaku UMKM turut merasakan manfaatnya. Pedagang makanan lokal, penjual suvenir, penyedia jasa transportasi, hingga penginapan rumahan mencatat peningkatan pendapatan selama event berlangsung. Sponsorship dari ratusan merek turut mengalirkan anggaran besar ke industri kreatif dan pemasaran. Bahkan pelari itu sendiri berperan sebagai konsumen aktif yang mengeluarkan uang untuk akomodasi perlengkapan dan pengalaman wisata.
Tren ini juga membuka peluang baru di dunia digital. Platform Strava dan Garmin Connect tidak hanya mencatat aktivitas fisik tetapi juga menjadi wadah komunitas dan promosi event. Klub lari tumbuh enam kali lipat dalam setahun terakhir menunjukkan bahwa lari kini bukan lagi aktivitas individual melainkan gerakan sosial yang menghubungkan orang dari berbagai kota. Keberadaan Indonesia Women’s Run dan charity run semakin memperkuat dimensi sosial dari tren ini.
Menariknya meski bersifat ringan dan terkesan hanya untuk hobi lari kini menunjukkan bagaimana olahraga bisa menjadi penggerak ekonomi mikro hingga makro. Tidak perlu infrastruktur besar atau teknologi mahal untuk ikut serta. Cukup sepasang sepatu dan semangat maka setiap orang bisa menjadi bagian dari ekosistem ekonomi yang berkembang ini. Pemerintah daerah pun mulai melihat potensi ini dengan giat mendukung penyelenggaraan event lari sebagai bagian dari strategi pemulihan ekonomi pasca pandemi. Dengan kombinasi antara kesehatan hiburan dan ekonomi tren lari di Indonesia membuktikan bahwa aktivitas sederhana bisa memiliki dampak luas. Jika dikelola dengan baik olahraga ini berpotensi menjadi pilar baru ekonomi kreatif dan pariwisata nasional. Bahkan dalam skala individu lari kini bukan hanya soal kebugaran tetapi juga cara berkontribusi pada roda perekonomian. Ringan memang namun dampaknya nyata.(*)
Oleh Rimmby Damai Fazira