Desa Tireman di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, memiliki kisah sejarah yang kaya akan nilai keislaman. Sejak lama, masyarakat mengenal sosok bernama Bah Santri, seorang tokoh yang dipercaya memiliki peran penting dalam penyebaran Islam di desa Tireman. Menurut cerita warga, Desa Tireman dulunya merupakan daerah sunyi yang belum banyak dihuni. Kondisi itu berubah setelah kedatangan seorang ulama yang dikenal sebagai Bah Santri. Sosoknya digambarkan sebagai pribadi yang bijak, saleh, dan dekat dengan masyarakat. Beliau mengajarkan Islam bukan dengan paksaan, melainkan melalui keteladanan, kesabaran, dan kasih sayang.
Dalam kesehariannya, Bah Santri selalu menekankan pentingnya ibadah, kejujuran, dan kebersamaan. Beliau menjadi guru dan panutan bagi masyarakat, mengajarkan bahwa agama tidak hanya dipahami, tetapi juga diamalkan dalam kehidupan nyata. Berkat dakwahnya yang lembut, masyarakat mulai mengenal dan mencintai ajaran Islam. Desa yang tadinya sepi pun tumbuh menjadi desa yang religius dan damai. Namun, satu hal yang selalu menjadi tanda tanya adalah: siapakah sebenarnya Bah Santri itu? Tidak ada catatan resmi tentang asal usulnya. Masyarakat hanya mengenalnya melalui sebutan yang sederhana, “Bah Santri”.
Dalam tradisi dakwah Islam Jawa, banyak ulama yang memilih menggunakan nama samaran atau gelar sebagai bentuk kerendahan hati. Menurut penuturan Bapak Lurah Rusmadi, Bah Santri diyakini bukan nama asli, melainkan sebutan yang mengandung makna mendalam. Kata “Bah” atau “Mbah” adalah panggilan kehormatan dalam budaya Jawa untuk orang yang dituakan, sementara “Santri” berarti orang yang taat beragama dan cinta ilmu. Dengan demikian, sebutan Bah Santri dapat dimaknai sebagai “orang tua yang berjiwa santri dan berilmu”.
Beberapa kisah lisan menyebutkan bahwa Bah Santri adalah murid atau utusan dari Kanjeng Sunan Kalijaga, yang diutus untuk menyebarkan ajaran Islam di daerah pesisir Rembang. Demi menjaga kerahasiaan tugasnya, beliau menggunakan nama samaran agar dakwahnya bisa berjalan tanpa hambatan. Cara ini sejalan dengan strategi dakwah Wali Songo, yang mengutamakan pendekatan budaya dan keteladanan dalam mengajarkan Islam kepada masyarakat Jawa.
Kehadiran Bah Santri membawa perubahan besar bagi kehidupan masyarakat. Beliau bukan hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga membangun karakter dan akhlak umat. Melalui ajarannya, masyarakat Desa Tireman belajar untuk hidup rukun, bekerja keras, dan menolong sesama. Nilai-nilai ini hingga kini masih dipegang teguh oleh warga, terutama dalam kegiatan sosial dan keagamaan.
Nama “Tireman” sendiri diyakini berasal dari istilah tirah iman, yang berarti tempat memperdalam keimanan. Nama ini seolah menjadi simbol dari peran Bah Santri dalam menjadikan desa tersebut pusat spiritualitas dan pembelajaran Islam di wilayah Rembang. Hingga kini, masyarakat masih menjaga tradisi seperti pengajian rutin, istighosah, dan selamatan desa, sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa beliau.
Masyarakat Desa Tireman memiliki rasa tanggung jawab dan kepedulian yang tinggi terhadap sejarah tempat mereka tinggal. Masyarakat memahami bahwa kisah tentang Bah Santri, sosok yang dikenal sebagai penyebar ajaran Islam di masa lalu, merupakan bagian penting dari jati diri desa yang harus dilestarikan. Bagi warga Tireman, Bah Santri bukan hanya seorang tokoh agama, tetapi juga lambang keteladanan dan semangat perjuangan dalam menyebarkan nilai-nilai Islam. Sayangnya, karena cerita mengenai beliau hanya diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi, banyak bagian dari kisah itu yang kini mulai samar dan sulit dipastikan kebenarannya.
Atas dasar itulah, para tokoh masyarakat kemudian mendatangi KH. Nur Hamim ‘Adlan, seorang ulama yang mereka hormati, untuk memohon bimbingan dan penjelasan. Mereka berharap melalui perantara beliau, Allah SWT memberikan petunjuk dan kejelasan mengenai sosok Bah Santri yang sesungguhnya. Bagi masyarakat Tireman, usaha ini bukan semata untuk mengetahui identitas seorang tokoh, tetapi juga untuk menjaga warisan spiritual dan sejarah dakwah Islam agar tetap hidup, dikenang, dan tidak hilang ditelan zaman.
Cerita tentang pencarian identitas Bah Santri berawal ketika KH. Nur Hamim ‘Adlan, seorang ulama yang dikenal aktif menghadiri kegiatan keagamaan, menghadiri acara semaan Al-Qur’an dan istighotsah Sabtu Pahing. Saat kegiatan tersebut diadakan di Desa Waru, Kecamatan Rembang, KH. Nur Hamim ‘Adlan berkesempatan beristirahat di rumah Bapak Danuri atas permintaan panitia acara.
Ketika beliau sedang beristirahat, datang Bapak Lurah Desa Tireman, ditemani Pak Carik (sekretaris desa) dan dua anggota keluarganya. Mereka menemui KH. Nur Hamim ‘Adlan untuk memohon penjelasan tentang siapa sebenarnya Bah Santri, tokoh yang selama ini dikenal masyarakat hanya melalui cerita turun-temurun. Dalam pertemuan itu, mereka berharap agar Allah SWT memberikan petunjuk yang dapat menjelaskan asal-usul tokoh yang sangat dihormati tersebut.
Dengan adanya pertemuan tersebut menjadikan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan masyarakat selama ini. KH. Nur Hamim ‘Adlan bercerita bahwa nama asli Bah Santri adalah Bah Wiro Sumo yang berasal dari Desa Pager. Sebuah desa yang letaknya diantara karasidenan pati dan karasidenan semarang. Intinya KH. Nur Hamim ‘Adlan menceritakan semuanya tentang kehidupan Bah Wiro Sumo (Bah Santri) selama masih hidup sampai beliau wafat.
Di bawah kepemimpinan Bapak Rusmadi, pelestarian kisah dan ajaran Bah Santri terus dijaga dengan penuh kesungguhan. Sebagai kepala desa, beliau memiliki perhatian besar terhadap sejarah dan warisan spiritual yang ditinggalkan para pendahulu. Bagi Bapak Rusmadi, menjaga peninggalan Bah Santri berarti menjaga jati diri masyarakat Tireman. Melalui berbagai kegiatan keagamaan dan sosial, beliau berupaya menumbuhkan kembali semangat kebersamaan yang dulu ditanamkan oleh sang tokoh.
Berbagai tradisi keagamaan yang diwariskan Bah Santri masih rutin dijalankan hingga kini, seperti pengajian, istighosah, dan selamatan desa. Kegiatan tersebut bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan juga menjadi ajang mempererat silaturahmi antarwarga. Semangat gotong royong dan kebersamaan yang diwariskan oleh Bah Santri terus menjadi fondasi kehidupan masyarakat Desa Tireman. Warisan Bah Santri tidak hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi juga menjadi sumber inspirasi bagi generasi kini untuk terus menjaga persatuan, keimanan, dan kebaikan di tengah kehidupan modern.(*)
Oleh Dianita Zakiyaturrohmah